
Kontrakan yang kami cari akhirnya dapat juga. Sebuah rumah sederhana dengan satu ruang tamu, kamar tidur, dapur dan kamar mandi. Sebelum memutuskan untuk menyewanya, aku menyerahkan keputusan akhir pada Dinda karena ia yang akan jadi nyonya di kontrakan ini. Ia yang akan mengatur semuanya. Jadi tempat yang kami pilih harus sesuai dengan keinginan Dinda dan syukurnya ia menerima. Kata Dinda, tak masalah kecil, toh kami masih berdua, lagipula tempat ini bersih, dekat dengan kampus dan yang pasti kami menempatinya hanya berdua.
"Awal bulan InshaAllah kita pindah ke sini!" Kataku, setelah membayar DP pada pemiliknya.
"Terimakasih ya Sayang," Dinda yang belakangan sering cemberut kini kembali tersenyum. Ia kembali riang seperti Dinda yang aku kenal dulu. "Nanti aku akan menghiasinya agar kita nyaman di sini!" Ungkap Dinda.
"Hmm," kataku.
Selesai dengan urusan kontrakan, aku dan Dinda langsung ke kampus. Kebetulan hari ini kami sama-sama ada mata kuliah. Dinda mulai lebih awal, aku satu jam setelahnya. Tetapi ada beberapa bahan yang perlu aku cari ke perpustakaan makanya berangkat lebih awal.
Ini pertama kalinya kami berdua berangkat bersama, tentunya setelah menjadi sepasang suami istri. Rasanya campur aduk. Senang, tapi juba ada malu-malunya sebab banyak yang melihat kami melintas naik motor. Apalagi Dinda yang duduk di boncengan belakang memegang pinggangku. Aku yang sudah aktif di beberapa organisasi dan rata-rata sebagai pengurus memang cukup di kenal di kampus, berbeda dengan Dinda. Ia tak ikut organisasi apapun, makanya tak terlalu banyak dikenal orang, kecuali teman satu angkatannya.
Di parkiran, sebenarnya aku ingin mengantar Dinda ke fakultasnya sesuai dengan permintaannya. Katanya supaya orang-orang tahu kalau mereka sudah menikah jadi tak ada lagi yang mendekati aku. Tapi rencana kami gagal karena di sana bertemu dengan ayahnya Lucy, profesor Adi yang memang sengaja mencari ku ke kampus.
"Ada yang ingin saya bicarakan sebentar." Katanya. "Ini tentang Lucy." Mendengar nama itu aku langsung menyadari bahwa sudah beberapa pekan ini Lucy tidak masuk dan selama itu tak ada komunikasi apalagi tahu bagaimana kondisinya saat ini.
"Oh ya, Lucy kenapa ya Lrof?" Tanyaku.
__ADS_1
"Bisa kita bicara di ruangan saya saja?" Pintanya.
Dengan banyak pertanyaan akhirnya aku mengikuti profesor Adi, meninggalkan Lucy yang terlihat ingin tahu, buktinya baru beberapa langkah ia sudah mengirim pesan menanyakan kenapa ayahnya Lucy mencariku? Tapi karena memang belum tahu kenapa dipanggil makanya pesan itu gak aku balas.
"Nak Dihya, sebenarnya saya sudah banyak mendengar tentang kamu dari putri saya Lucy dan juga dosen-dosen di sini. Kami semua sangat bangga pada Anda." Kata profesor Adi. "Kali ini saya tak akan membahas banyak tentang anda karena tujuan saya memanggil anda bukan untuk itu tapi karena putri saya "
"Lucy kenapa prof?" Tanyaku.
"Sekarang Lucy ada di Singapura. Kami membawanya di sana karena ia kehilangan kesadarannya, seolah menolak untuk hidup. Lucy sepertinya mengalami patah hati yang begitu dalam dengan anda hingga ia melakukan semua ini. Kami baru sadar setelah membaca ini." Ayahnya Lucy menyerahkan sebuah diktat padaku yang ternyata berisi catatan harian putrinya.
"Tapi saya tak berwenang membacanya," kataku, sambil menyodorkan kembali diktatnya.
"Di dalam sini tulisannya tentang nak Dihya. Jadi Kami menganggap nak Dihya berwenang karena ini juga berkaitan dengan kesehatan Lucy." ungkap profesor Adi
Tak perlu memeras otak untuk memikirkan kemana akhir dari ini semua, meski tak terlalu suka membaca novel atau menonton film drama namun aku bisa memahami maksud profesor Adi. Putrinya mencintai aku dan berharap aku bisa membantu kesembuhan Lucy. Yap, persis kisah dalam novel -novel picisan namun aku harus menegaskan tak memiliki perasaan apapun pada Lucy karena memang aku menganggapnya sebagai teman saja. Aku pun selalu berusaha menjaga jarak dengannya karena paham betul yang namanya pertemanan laki-laki dan perempuan itu sangat rawan sekali. Salah satunya yang dikhawatirkan ada yang jatuh cinta. Kalau sukanya pada teman yang tepat mungkin sah-sah saja. Tapi kalau sudah punya istri seperti aku ya jelas masalah.
"Bagaimana nak Dihya?" tanya profesor Adi. "Bisakah membantu kami untuk kesembuhan Lucy?"
__ADS_1
"Apa yang bisa saya lakukan?" Tanyaku.
"Lucy mencintai nak Dihya."
"Ya saya sudah membacanya pak. Tapi saya tak mungkin menikah dengannya karena saya sudah menikah. Pernikahan kami baru seumur jagung." dan lagi aku tak pernah berpikir untuk punya istri lebih dari satu.
Profesor Adi tertawa. Ia pun menjelaskan padaku bahwa tak berniat menyuruh aku menikah dengan putrinya sebab ia juga tak mau anaknya menjadi istri kedua. Lagipula ia punya banyak harapan pada Lucy makanya tak mau kalau gadis itu menikah dini. Biarlah ia menyelesaikan kuliahnya dulu hingga nanti menempuh spesialis dan menjadi dokter hebat seperti kakak-kakaknya.
"Lalu apa yang harus saya lakukan?" kataku yang cukup lega karena ternyata pikiran kami sama tentang menikah lagi. Ya aku harusnya mengerti berhadapan dengan siapa. Profesor Adi adalah orang akademisi yang berpendidikan tinggi. Mereka cara berpikirnya lebih logis.
Lelaki yang kepalanya Sudan putih semua itu mengeluarkan sebuah benda kecil yang ku ketahui ternyata isinya adalah tip kecil untuk merekam. Ia mengatakan itu adalah alat yang dipakainya untuk mengajar. Profesor Adi memintaku merekam suara. Memarahi Lucy agar segera bangun, jangan berpikir sempit karena hidup ini masih panjang.
"Baiklah, prof!" Kataku. "Hemmm," aku mengetes suara. "Lucy, kamu kenapa? Hei bangun! Kenapa jadi cengeng seperti ini hanya perkara cinta malah memilih untuk menyiksa diri sendiri. Apa kamu tak iri? Di sini aku hidup bahagia dengan pasanganku, aku semakin bersemangat mengejar cita-cita sebagai dokter tapi kamu malah kalah dengan memilih jadi putri tidur. Kalau ada pangeran yang membangunkan kamu sih mending, lha ini nggak ada. Harusnya setelah gagal bangkit lagi. Kamu kan pengen jadi dokter hebat. Masa gara-gara cinta langsung down. Jangan lemah begitu. Ayo bangun! Suatu hari kamu pun akan menemukan cintamu. Kasihan dia, yang menjaga dirinya sebaik mungkin, mempersiapkan pertemuan indah dengan kamu eh kamunya malah memilih menyiksa diri sendiri gara-gara cinta nggak sampai. Sudah, bangun!" aku menyelesaikan rekaman lalu memberikan pada profesor Adi.
Ayahnya Lucy, yang mendengar pesan dariku nyaris melotot. Tapi kemudian ia bernafas lega sebab yakin dengan ini putrinya akan bangun.
"Terimakasih ya, saya berhutang satu pada anda!" katanya, lalu melambaikan tangan sebelum berlalu.
__ADS_1