Kami Sudah Dijodohkan

Kami Sudah Dijodohkan
Cerita Pada Lucy


__ADS_3

"Aku dan Dinda harus segera menikah," kataku pada Lucy.


Senyum di wajahnya langsung hilang. Mungkin ia kaget karena meski tahu kami sudah dijodohkan namun tak pernah ada rencana sebelumnya akan menikah secepat ini. Aku sendiri pun sebenarnya kaget mendengar permintaan ayahnya Dinda.


Lalu, cerita tentang permintaan ayahnya pun meluncur dari mulutku. Aku yang biasanya tertutup kini bisa sesantai itu menceritakan semuanya dengan harapan mendapatkan sedikit pencerahan dari Lucy yang mengaku punya sifat berbeda dari kebanyakan perempuan.


"Bagaimana menurut kamu?" tanyaku pada Lucy.


"Kamu siap?" ia balik bertanya.


"Entah, masih berusaha menunggu Jawa dari Allah."


"Kalau kamu yakin, lakukan. Kalau tidak ya bersabar dulu. Ikuti kata hati kamu, Dihya!"


***


Pesan-pesan Lucy terus masuk ke Hp ku. Ia terus mengingatkan tentang cita-cita yang pernah aku katakan padanya, juga beratnya beban menjadi mahasiswa kedokteran. Ditambah, indahnya saat berhasil dengan pencapaian tersebut. Seperti kedua orang tuanya serta kakak-kakaknya.


Ahhh, hal-hal seperti ini selalu sukses membuatku menjadi ragu. Makanya aku melibatkan Allah agar hasil keputusan akhir adalah yang terbaik.


[Ingat Dihya, aku sudah cerita pada kedua orang tuaku dan mereka sangat yakin kamu akan menjadi dokter yang sangat hebat. Ayah dan ibuku selalu bilang, akan sulit menjadi sainganku, namun sejak awal kamu selalu bisa mengalahkan aku tanpa effort yang terlalu besar. Itu artinya kamu jauh di atas aku!] pesan terakhir Lucy sebelum aku menutup Hp.


"Ya Rabb, aku benar-benar lemah. Aku percaya, Engkau sudah menyiapkan yang terbaik untukku. Entah apapun itu, beri aku petunjuk." kataku, sambil mengangkat kedua tangan.


***


[Din, masih marah] aku mengirimkan pesan padanya. [InshaAllah hari ini aku akan menemui Abah Hasan.]


[Ngapain? Dihya, bicara padaku saja.] balas Dinda. Rupanya ia khawatir juga jika aku memberikan jawaban pada abahnya.


[Kamu sudah tahu siapa calon yang ditawarkan abahmu untuk menggantikan aku?] kataku.


[Dihya, ayo ketemu. Kita bicara langsung. Di dekat rumah kamu ada warung bakso, kan? Aku akan sampai di sana lebih kurang tiga puluhan menit lagi. Kamu nyusul ya ] katanya. [Aku berangkat sekarang]

__ADS_1


Aku hanya mengangguk saja, tak membalas pesan dari Dinda.


***


"Mau kemana, Dihya?" tanya umi saat aku berpamitan pada umi dan Abah yang sedang asyik menonton televisi.


"Dihya mau ketemuan sama Dinda, mi." Jawabku.


"Sama Dinda? Dimana?" umi yang semula fokus menonton kini perhatiannya tertuju padaku.


"Di warung bakso pojok itu lho, mi. Yang dekat rumah." aku menunjuk arah pojok.


"Kenapa enggak ketemuan di sini saja?" umi masih melakukan investigasi.


"Ya nggak tahu, Dinda yang ngajak ketemuan di situ." aku menjawab seadanya. Sebenarnya umi masih berat melepaskan kepergianku, tapi tak bisa lagi menahan karena aku sudah ready, ditambah alasanku tak terbantah. Abah juga tak terlalu peduli, masih fokus dengan tontonannya.


"Apa kamu sudah punya keputusan?" kali ini tak hanya umi yang menatapku, tapi Abah juga.


"InshaAllah Mi. Abah dan umi doakan Dihya ya. pintaku.


"Dihya berangkat ya!" aku melambaikan tangan, lalu keluar rumah, menyetir motor metik yang biasa aku kendarai menuju tempat yang Dinda maksud.


Sampai di sana, Dinda belum datang. Aku langsung memesan dua mangkok bakso serta es teh. Sembari menunggu kehadiran Dinda, aku kembali memeriksa Hp memastikan tak ada pesan penting yang masuk karena sekarang sedang berada bersama keluarga.


"Dihya!" panggil Dinda yang agak tergopoh-gopoh. Ia mengenakan pakaian berwarna krem dengan kerudung senada. Entah kenapa, aku selalu suka dengan cara berpakaian Dinda. Meski ia mengenakan hijab namun selalu bisa memadu padankan dan terlihat syar'i. "Maaf aku datang terlambat " ia menundukkan kepalanya beberapa kali.


"Enggak apa-apa. Aku sudah pesan makan dan minumnya. Makan dulu ya." kataku, sambil memperlihatkan makanan yang sudah aku pesan. "Kalau kurang, bilang saja. Atau mau pesan apalagi?" aku memperlihatkan daftar menu padanya, tapi Dinda menolak.


"Jadi apa keputusan kamu?" ia menatapku penuh tanya.


"Apapun itu, kamu siap?" aku balik menatapnya. Untuk sesaat netra kami beradu, lalu tanpa instruksi langsung menunduk bersamaan. Ahhh cinta ini, nyata adanya. Aku hanya bisa memohon perlindungan pada Allah. "Besok InshaAllah aku menghadap Abah Hasan." kataku.


"Dihya!" Dinda menatapku, dengan tatapan bimbang.

__ADS_1


***


Aku selalu yakin, apapun yang ditetapkan Allah adalah yang terbaik untuk kami.


Pagi ini, saat matahari terbit malu-malu, aku sudah berada di depan rumah Dinda. Rumah yang berdampingan dengan pondok pesantrennya.


Tak ku duga, ia yang membukakan pintu. Dinda tak bicara apa-apa, namun dari caranya menatapku aku sangat yakin ia gelisah dengan jawaban yang akan ku beri.


Tak berapa lama, abahnya Dinda datang. Dinda pamit ke belakang. Ia menghilang di balik tirai.


"Bagaimana Dihya?" tanya Abah Hasan.


"Bismillah ... InshaAllah saya ingin menikahi Dinda. Saya siap menjaganya hingga akhir hayat kami." kataku.


"Alhamdulillah, terimakasih nak Dihya. Sekarang saya menunggu kedatangan kedua orang tua kamu untuk membicarakan pernikahan ini." kata Abah Hasan.


"InshaAllah nanti, ba'da Maghrib Abah dan umi akan kesini." kataku.


"Baik, kalau begitu kami akan mempersiapkan semuanya."


"Baik om, kalau begitu saya pamit." aku menyalam abahnya Dinda. Lalu pamit pulang.


Baru saja sampai di depan rumah, tiba-tiba Hp milikku berbunyi. Pesan dari Dinda.


[Terimakasih Dihya. Meski aku masih belum bisa terima dengan keputusan Abah menikahkan aku secepat ini namun aku sangat bersyukur sebab akhirnya ada juga yang mau melindungi aku di saat lelaki yang harusnya melindungi aku hingga akhir mencampakkan aku demi kehidupan barunya.] pesan dari Dinda.


[Din, banyak-banyak berdoa. Jangan berpikir buruk terus pada abahmu. Ini insha Allah yang terbaik untuk kita. Lagipula aku sudah tak sanggup menahan perasaan ini.] kataku.


[Kenyataannya seperti itu Dihya. Abah lebih memilih istri barunya dari pada aku.]


[Abahmu sangat menyayangi kamu.]


Aku dan Dinda sempat berdebat. Ia kekeh abahnya tak lagi menyayangi. Pada akhirnya aku mengalah. Memilih tak membalas karena aku tahu Dinda masih di fase kecewa. Rasa sakitnya belum sembuh, atau malah mungkin lukanya teramat dalam hingga di matanya abahnya masih buruk. Namun aku yakin, beriring waktu, kelak ia akan menyadari betapa ayahnya pun sangat menyayanginya.

__ADS_1


[Kalaupun Abah Hasan tak mau lagi menjaga kamu seperti apa yang kamu katakan, InshaAllah ada aku Din yang siap menjaga kamu. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk keluarga kecil kita nantinya.] aku mengirim pesan penutup untuk menenangkan hatinya Dinda. Aku berharap ia kembali seperti Dinda yang dahulu, selalu ceria.


__ADS_2