
Ba'da Maghrib; aku, umi dan Abah bersiap ke rumahnya Dinda. Umi sudah membawa buah tangan berupa panganan dan sedikit hadiah untuk Dinda. Meski sebenarnya umi masih berat dengan keputusan yang aku buat sehingga beberapa kali mencoba melakukan negosiasi namun umi tetap merestui seperti kata umi sebelumnya.
Kini, mobil yang disetir Abah sudah memasuki halaman rumah Dinda. Dari dalam mobil aku bisa melihat rumah yang sudah terbuka separuh pintunya itu ditata untuk menjamu calon besan, berbeda dengan kondisi tadi pagi saat aku datang.
"Ayo!" kata Abah, sambil menggandeng tangan umi, sementara aku mengikuti di belakang sembari membawa oleh-oleh. "Assalamualaikum!" seru Abah di depan pintu.
Tak lama abahnya Dinda, ibu tirinya serta beberapa paman dan bibi Dinda keluar menyambut kedatangan kami. Semuanya saling berjabat tangan dengan hangat, lalu kami bertiga dipersilahkan masuk.
"Jadi maksud kedatangan kami ke sini untuk melamar Dinda untuk putra kami Dihya." Abah menyampaikan maksud dan tujuan kedatanganku kami secara formal yang sebenarnya sudah diketahui oleh om Hasan dan keluarganya. "Jadi bagaimana?" tanya Abah.
"InshaAllah kami terima lamaran dari keluarga nak Dihya untuk putri kami Dinda." jawab abahnya Dinda.
Semua keluarga menyambut lamaran tersebut dengan suka cita hingga akhirnya abahnya Dinda meminta agar pernikahan dilaksanakan pekan ini juga.
Tak hanya Abah dan umi yang terdengar kaget, namun juga Keluarga besar Dinda yang hadir di sini.
"Apa nggak terlalu buru-buru? Semua kan butuh kesiapan. Mempersiapkan semuanya tidaklah mudah." ucap bibinya Dinda dari pihak Uminya.
"InshaAllah nggak butuh persiapan lebih kok mbak karena rencananya hanya menyelenggarakan akad saja." tegas abahnya Dinda.
__ADS_1
"Hanya akad? Lho, Dinda dan Dihya kan sama-sama anak tunggal, usia mereka juga masih sangat muda. Kenapa terburu -buru sekali seolah ada sesuatu saja. Janganlah seperti itu. Adakan pesta walimahan karena kami yakin kedua pihak keluarga Dinda dan Dihya juga mampu secara materi. Apa kalian nggak sayang karena menikahkan anak sekali seumur hidup malah nggak dipesta, kan. Lagipula acara walimahan juga bisa menghindari fitnah kalau-kalau ada yang berprasangka buruk nantinya. Mengira pernikahan mereka cepat karena terjadi sesuatu yang tidak-tidak." ungkap bibinya Dinda lagi
Umi juga ikut buka suara. Setuju dengan apa yang dikatakan bibinya Dinda. Bahkan umi berani pasang badan. Kalau ayahnya Dinda tidak mau ikut iuran untuk acara pesta, umi siap menanggung semuanya.
Sayangnya abahnya Dinda malah bersikeras dengan keputusannya. Dinda harus menikah pekan ini juga. Kalau kami tetap keberatan maka dipersilakan untuk membatalkan semuanya.
"Keterlaluan sekali!" umi terpancing juga. "Mas Hasan ini kenapa sih, Dinda itu satu-satunya peninggalan Fifi. Masa keras sekali padanya. Bahkan haknya pun mas nggak mau memberikan. Apa susahnya menunggu barang sebulan. Kami janji tak akan merepotkan kalian, kami yang akan mengurus semuanya. Termasuk biayanya. Kalian hanya tinggal datang memberi restu untuk anak-anak kita. Seperti yang dikatakan Bibinya Dinda, jangan sampai pernikahan suci anak-anak kita malah menjadi sumber fitnah untuk orang-orang!" tegas Umi.
"Kan sudah kami katakan, kalau pihak laki-laki tidak mau ya tidak mengapa. Sejak awal kami tidak mau memberatkan. Kalau kalian tidak siap, masih boleh mundur kok. Kami melakukan ini semua sudah dipikirkan masak-masak. Lagipula kami sudah mengundur sepekan untuk Dihya istikharah." jawab abahnya Dinda.
"Astagfirullah!" umi bangkit dari duduknya, emosi dengan sikap abahnya Dinda. Perkara sepekan pun diperhitungkan. Padahal mundur sebulan juga tak terlalu lama. "Ada apa ini sebenarnya? Kenapa kalian terkesan buru-buru sekali menikahkan Dinda seolah ingin ia segera angkat kaki dari rumah ini. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya umi. Abah sudah berusaha memegang tangan umi sebagai isyarat agar umi diam, namun karena emosi umi sudah memuncak, umi yang biasanya patuh pada Abah akhirnya meradang juga, lepas kendali hingga abai pada Abah.
"Ya Allah ...." ucap umi dan bibi bibinya Dinda.
"Jadi bagaimana Dihya?" tanya Abah padaku untuk menghindari perdebatan yang berkepanjangan.
Semua mata kini tertuju padaku. Dengan mengucap istighfar tiga kali, lalu membaca basmalah aku memutuskan untuk melanjutkan rencana lamaran ini. Aku setuju dengan persyaratan abahnya Dinda agar pernikahan digelar pekan depan.
"Ya Rabb," umi geleng-geleng kepala. Begitu juga dengan bibi-bibinya Dinda yang lain. Mereka terlihat kecewa sebab tak mampu membuatkan pesta untuk Dinda.
__ADS_1
Kesepakatan kembali dibuat. Akad nikah akan dilangsungkan di pondok abahnya Dinda. Acara sederhana yang hanya akan dihadiri oleh keluarga besar dan pihak pondok. Dilangsungkan ba'da Jum'at pekan depan.
Untuk mahar, Abahnya Dinda menyerahkan padaku dan Dinda untuk membuat kesepakatan.
Setelah semuanya selesai, kami bertiga pamit pulang. Saat bersalaman, paman-pamannya Dinda memelukku erat seolah menyampaikan gundah mereka. Bahkan ada yang sampai menitikkan air mata.
Sampai aku pamit dari rumahnya, Dinda tak kunjung terlihat. Entah dimana gadis yang biasanya selalu tersenyum ceria itu. Apa yang dirasa saat ini usai mendengarkan perdebatan panjang ini. Apapun itu, aku hanya bisa berjanji dalam hati akan menggantikan ayahnya dengan sangat baik untuk menjaganya. InshaAllah.
"Umi benar-benar tak habis pikir, abahnya Dinda itu sekarang persis seperti Abah tiri saja. Memperlakukan anaknya dengan sangat kejam seperti itu!" kata umi. Mengomel sepanjang perjalanan.
"Mana ada kejam, mi." kata Abah. Ya setiap orang punya cara beda-beda dalam mendidik anaknya. Hasan sudah kehilangan partner dalam merawat Dinda, wajar dia agak gamang. Harusnya kita memahami jangan malah menjelekkan. Kasihan. Apalagi sebentar lagi ia akan jadi besan kita."
"Kasihan? siapa yang abah kasihani? Satu-satunya yang harus dikasihani di keluarga itu ya hanya Dinda!" tegas Umi.
"Mi, abahpun kalau enggak ada umi akan gamang, mi." jelas Abah.
"Lalu Abah juga akan mengorbankan anak kita?" balas umi.
"Ya enggak gitu juga," Abah geleng-geleng kepala, nggak tahu lagi harus menjawab apa sebab umi masih tidak mau kalah. Terus memperjuangkan pendapatnya tentang perjodohan yang dianggap dadakan. Apapun itu, aku tak peduli. Yang penting adalah Dinda. Kalau memang di lingkungan keluarganya sudah tidak nyaman seperti dulu memang lebih baik membawanya pergi meski kapal ini belum penuh.
__ADS_1