
Aku, Dinda, Abah dan umi pagi ini berangkat ke pondok pesantren. Sepanjang jalan semua diam. Umi masih terlihat menjaga jarak dengan Dinda. Tadi, sebelum berangkat, Abah meminta aku yang menyetir karena Abah mengaku kondisi tubuhnya sedang tidak fit. Dinda yang akan duduk di belakang langsung dialihkan oleh umi dengan meminta Abah duduk di sebelahnya. Kondisi seperti ini membuatku sangat sedih. Dua perempuan yang ku sayangi terlihat tidak nyaman.
Umi, manusiawi sebenarnya ia merasa jengkel meski bukan Dinda yang melakukannya. Namun terkadang, ketika salah satu orang terdekat kita melakukan kesalahan maka kita pun bisa terkena getahnya.
Dinda sendiri, sejak semalam tak berani keluar kamar. Usai subuh pun ia masih berdiam di kamar, padahal biasanya ia akan keluar untuk membantu umi menyiapkan sarapan karena memang yang kerja di rumah biasanya datang pukul tujuh, usai kami sarapan.
Sampai di pondok, seperti yang dikatakan Dinda, abahnya sudah tak ada di sana. Orang-orang pondok pun sedang mencari karena banyak tagihan yang harus dibayarkan.
"Perempuan itu ... bagaimana?" tanya Dinda, pada salah seorang pengurus pondok.
"Sama mbak Dinda. Tak ada kabar juga." jawabnya.
"Orang tuanya?" tanya Dinda.
"Mudik ke Jawa, sampai sekarang belum kembali." katanya lagi
"Masa nggak ada satupun yang bisa ditanyakan. Atau ada yang nyusul ke kampung." kata Dinda dengan kesalnya.
__ADS_1
"Sudah di susul mbak Din, tapi ... malah jadi berantem. Orang tuanya galak sekali." mereka menceritakan bagaimana proses pertemuan dengan keluarga pihak perempuan. Benar-benar menguras kesabaran karena mereka lepas tangan. Putri mereka sudah menikah, jadi yang bertanggung jawab adalah Abah. Padahal, menurut investigasi orang-orang pondok, keluarganya pun ikut menikmati kucuran dana dari hasil menipu orang tua santri.
Ya Allah ...
Lagi-lagi Dinda dibuat lemas dengan adanya keterangan barusan. Kalau saja tidak ku tahan, mungkin tubuhnya sudah kembali ambruk seperti semalam.
"Sabar sayang," aku berbisik. "Banyak zikir."
"Lalu sekarang bagaimana?" tanya umi, untuk pertama kalinya membuka suara. "Apa tak ada aset yang bisa digadaikan? Kami sudah dirugikan banyak sekali. Selain dicemarkan nama baiknya, sumber rezeki kami juga ditutup. Kalau tahu diperlakukan seperti ini gak akan mau saya menerima bantuan mereka. Satu bantuan tapi dirugikan seratus. Sungguh menyakitkan. Dikhianati oleh orang yang kita percayai!" cetus umi.
Tubuh Dinda gemetar. Ingin sekali aku membawanya dari sini agar ia tak perlu mendengar semuanya. Namun ada umi dan Abah juga yang harus aku jaga.
Kami terpaksa kembali dengan tangan kosong. Baru jalan beberapa meter, umi mulai buka suara. Memberi kiasan agar Dinda buka mulut tentang keberadaan ayahnya.
"Mi, nanti kita bicara di rumah saja, ya." pintaku, demi menjaga agar tak terjadi hal yang tidak -tidak.
"Kenapa harus diundur-undur, Dihya? Kamu tahu, kantor kita ditutup. Kalau kita tidak bergerak cepat dan melakukan klarifikasi maka nama baik kita selama ini akan tercemar. Belum lagi kewajiban membayar gaji karyawan. Libur sehari bisa membuat kerugian." ungkap Umi. "Lagipula apa salahnya bicara saja, katakan dimana mereka. Jangan ditutup-tutupi lagi. Bangkai mau sampai kapanpun disimpan akan tercium juga!" ungkap Umi.
__ADS_1
"Mi," pintaku. Sementara Dinda yang duduk di kursi sebelahku hanya menundukkan kepalanya.
"Mumpung kita jalan Dihya. Kita selesaikan semua. Umi nggak bisa menunggu terlalu lama. Semalaman umi nggak tidur. Kamu ini anak umi, harusnya paham bagaimana perasaan umi, jadi suruh istrimu bicara. Jangan diam saja!" kesabaran umi sepertinya habis. Aku tahu, dalam beberapa hal umi memang tak sesabar biasanya. Apalagi ini hal yang benar-benar melukai hati beliau. "Dihya, ini perintah dari ibumu. Kamu nggak mau mendengar? Surga kamu ada pada Ridha ibumu!" tegas Umi, membuatku tiba-tiba berhenti.
"Astagfirullah astaghfirullah astaghfirullah." aku hanya bisa mengucap. "Mi, ayo kita sama-sama istighfar dulu. Sama-sama redakan emosi. Jangan dituruti setan, mi. Setan itu amat pintar menipu daya agar kita melakukan dosa. Dihya paham bagaimana perasaan umi saat ini, Dihya juga enggak mau umi dan Abah mengalami hal seperti ini. Tapi nggak menyudutkan Dinda juga. Umi tahu kan, sejak kami menikah hubungan Dinda dengan Abahnya tidak sedang baik-baik saja. Bahkan bagaimana abahnya memperlakukan Dinda usai kami melangsungkan akad nikah. Jadi sekarang mohon umi bersabar. Dihya akan bantu semaksimal Dihya. Begitu juga dengan Dinda. Dihya yakin ia pun akan melakukan hal yang sama. Hanya saja mohon jangan terus menyudutkan dirinya. Ia tak tahu apa-apa, mi. Jangan melimpahkan kesalahan orang pada yang lainnya." aku mencoba menenangkan sebisa mungkin. Berharap umi tak lagi menyerang Dinda dengan kata-kata.
"Ya Rabb ... kalau tahu akan seperti ini aku tak akan menikahkan anakku dengannya. Aku tak akan menjerumuskan anakku sendiri seperti ini hingga kami dibuat hancur!" tangis umi pecah bersama dengan keluh kesahnya.
Suasana langsung berubah kacau. Abah pun ikut menitikkan air mata. Sementara istriku, ia mungkin sudah tak mampu menahan, makanya keluar dari mobil.
"Din, Dinda!" kataku. "Mi, Bah ... maafkan Dihya, aku izin mengejar istriku dulu " kataku, lalu meninggalkan mobil, berlari mengejar Dinda yang sudah terlanjur menyeberang.
Tak terlalu sulit untuk mengejar Dinda sebab sekarang kondisinya benar-benar lemas. Aku memintanya kembali ke mobil tapi ia memohon padaku agar dibiarkan pergi
"Aku sudah membuat kecewa keluarga kami, Dihya. Aku ... aku tak sanggup kembali. Aku malu. Sangat malu. Rasanya tak punya muka lagi. Maafkan aku Dihya. Maaf. Tapi biarkan aku pergi. Mungkin jodoh kita sudah sampai di sini saja." kata Dinda sambil memohon-mohon.
"Astagfirullah, kamu bicara apa sih? Hei, sayang, dengarkan aku, sejak semalam aku terus berjuang untuk kamu. Tak mudah berada di posisiku Din, tapi aku tetap memilih kamu. Masa kamu mau menyerah? Ini baru awal sayang, masih panjang perjalanan kita. Jangan begitu ya. Ayo kita selesaikan semuanya. InshaAllah jika Tuhan mengizinkan maka kita bisa menyelesaikan semua. Kamu harus kuat. Kalau ada hal-hal yang melukai, abaikan saja. Kamu bisa mengandalkan aku, sayang." kataku.
__ADS_1
"Dihya ... Dihya." tangis Dinda semakin pecah. Ia memelukku erat untuk meluapkan semua kesedihannya. "Aku sungguh beruntung memiliki kamu suamiku, entah apa yang membuatku mendapatkan keberuntungan kamu. Tolong, sampai kapanpun jangan tinggalkan aku. Jangan biarkan aku sendiri." pinta Dinda.
"InshaAllah, aku tak akan pernah meninggalkan kamu sayang. Kita hadapi semuanya berdua, InshaAllah sebentar lagi bertiga!" kataku, sambil mengusap kepalanya.