Kami Sudah Dijodohkan

Kami Sudah Dijodohkan
Dinda Jangan Kepo-kepo


__ADS_3

Sejak kami berpisah di parkiran, Dinda tak berhenti menghubungiku. Mulai dari panggilan tak terjawab hingga pesan-pesan kepo yang mempertanyakan kenapa ayahnya Lucy menemuiku? Untuk menjawab rasa penasarannya, aku menjawab karena ada urusan penting terkait kuliah. sebenarnya aku tak berbohong, kuliah di sini maksudnya kuliahan Lucy yang terpaksa macet karena ia sakit akibat patah hati sebab aku menikah dengan perempuan lain. Aku sengaja tidak bicara apa adanya karena yakin ini hanya akan jadi masalah baru saja. Untuk masalah cemburu, harus hati-hati karena hati perempuan sulit ditebak. Bagi kita biasa saja ternyata baginya sangat penting. Makanya aku berusaha menghindari itu semua. Masalah saat ini sudah lumayan membuat kepala ini berdenyut-denyut, jangan sampai tambah masalah baru dulu meski yang namanya masalah itu adalah bumbu rumah tangga, tapi kalau kebanyakan bumbu tetap saja rasanya tak enak.


Namun sayangnya, masalah ini bagi Dinda belum selesai. Ia tetap saja mempertanyakan begitu kami kembali ketemu di parkiran untuk pulang. Sepanjang jalan ia terus bertanya. Ada apa, kenapa dan mengapa?


"Oke aku ceritakan tapi janji jangan salah paham apa lagi sampai menyalahkan suami sendiri. Kamu harus benar-benar percaya padaku!" kataku, membuat kesepakatan agar aku tak bertambah mendapatkan masalah.


"Iya iya!" ia menyetujui meski ogah-ogahan.


"Lucy sakit."


"Ya Allah, syafakillah ...."


"Sudah sepekan tak mau bangun."


"Kenapa?"


Untuk menjawab pertanyaan ini aku agak ragu-ragu, jujur khawatir hanya akan menambah masalah baru karena salah paham.

__ADS_1


"Terus kenapa juga ayahnya mencari kamu? Kan kamu belum jadi dokter, Yang? Kan orang tuanya dan keluarga besarnya dokter hebat. Kenapa?" tanya Dinda lagi.


"Karena mereka merasa aku yang membuat Lucy sakit." jawabku.


"Hah, kok bisa?" Dinda mengerutkan keningnya. Tapi tiba-tiba dia diam. Lalu menatapku tajam.


"Kenapa melihatku seperti itu?" aku balik bertanya, tak nyaman dengan tatapan mengintimidasi seperti itu.


"Kalian nggak ada hubungan apa-apa, kan?" tuduh Dinda. "Kalau nggak ada apa-apa kenapa dia sakit? Ada apa ini? Kamu harus jelaskan semuanya padaku!" pinta Dinda, sedikit memaksa.


"Makanya kamu harus jaga jarak. Jangan terlalu dekat sama siapapun, apalagi perempuan itu hatinya rapuh, dikasih perhatian dikit ada yang sampai jatuh cinta, dikira benar suka." Dinda masih kelihatan kesal.


"Aku nggak pernah ngasih perhatian padanya. Aku dekat juga karena dia ngasih link kerjaan. Itu saja." aku membela diri sesuai kenyataan yang ada. Meski orang bilang aku tampan tapi pantang juga untuk mudah memberi harapan pada perempuan. Dulu aku yang suka pada Amira saja tak pernah memberinya harapan atau jor-joran mendekati, aku tahu diri, saat belum siap makanya selalu jaga jarak. Hanya pada Dinda aku yang berhubungan cukup intens karena yakin ujungnya akan ke pelaminan.


"Ya tetap saja, harusnya dikurangi. Kalau sudah begini kan enggak enak juga. Anak orang sampai sakit. Aku juga nggak mungkin membiarkan kamu dekat dengannya!" Dinda menegaskan. Sebetulnya tanpa ia perlu bicara seperti itu aku juga gak berharap didekatkan dengan Lucy. Pertama aku memang nggak punya perasaan dengan ya, yang kedua menjaga satu perempuan saja masih pontang-panting, buat ngontrak saja belum ada uang apalagi harus menikah dua. Lagian keluarga Lucy juga realistis, nggak mungkin mau menyerahkan anaknya yang mereka yakin akan mendapatkan jodoh yang lebih baik lagi tanpa harus dinikahkan denganku. Seperti tak ada laki-laki lain saja.


"Sudahlah, Yang, toh semuanya sudah selesai. Apa yang mereka butuhkan sudah kita bantu, jadi sudah tak ada urusan lagi. Tinggal di doakan saja semoga ia cepat sehat dan menemukan orang yang tepat " kataku. Dinda tak menjawab, hanya diam saja.

__ADS_1


***


"Benar mau pindah pekan depan?" tanya umi, saat aku dan umi berdua saja di rumah. Dinda sedang ke pasar, sementara Abah di kantor sebelah rumah.


Aku mengangguk. Lalu umi mengeluarkan sebuah amplop putih cukup tebak.


"Apa ini, mi?" tanyaku.


"Jangan bilang-bilang Dinda. Ini untuk kamu dan Dinda memulai hidup baru. Dihya, umi yakin kamu bisa diandalkan, tapi tetap saja, umi nggak mau kamu dan menantu umi kekurangan. Gunakan uang ini untuk modal kalian membangun rumah tangga. Dan satu hal lagi, kalau kamu kekurangan uang, jangan ragu temui umi. Uang umi masih sangat banyak, nggak akan habis untuk kami berdua. Jadi jangan sungkan minta sama umi ya. Jangan sampai Dinda merasa kekurangan. Kasihan dia, selama ini hidupnya sangatlah senang. Jangan sampai setelah menikah jadi kekurangan. Ingat ya Dihya. Kalau kamu malu, bicara sama umi saja, umi nggak akan memberitahu siapapun termasuk abahmu." kata umi.


"Mi," aku memeluk erat perempuan yang melahirkanku itu. Umi memang begitu khawatir saat kami memutuskan pindah rumah, salah satunya ya karena ini. Umi enggak mau aku dan Dinda kekurangan karena tahu saat ini pekerjaanku belum mapan. Hanya penjaga klinik yang gajinya tak sampai sejuta ditambah penerjemah yang juga penghasilannya tidak tetap. Padahal setelah ini harus ada pengeluaran wajib yang tak bisa dihindari yaitu uang kontrakan dan uang makan.


"Ingat ya Dihya, jangan sampai kamu membuat Dinda terpaksa ikut bekerja. Biar dia menyelesaikan kuliahnya saja. Harus kamu tetap yang bertanggung jawab atas keuangan keluarga kalian. Sama seperti Abah yang selalu bertanggung jawab atas beban hidup kita sekeluarga." kata umi lagi.


"Ya mi, insha Allah Dihya paham. Dihya akan kuliah yang rajin agar segera jadi dokter dan bekerja keras untuk keluarga Dihya." kataku.


"Ya, doa umi untuk kalian." aku tahu, umi Masin sangat berat, namun umi berusaha mengikhlaskan karena umi menyadari beginilah fase hidup manusia. Tak akan selamanya bersama orang tuanya. Akan tiba masanya ia mendayung kapalnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2