Kami Sudah Dijodohkan

Kami Sudah Dijodohkan
Retak?


__ADS_3

"Lalu sekarang bagaimana?" tanyaku.


"Dihya ... besok kantor sudah gak bisa beroperasi lagi karena disegel oleh mereka, calon jamaah yang tak kunjung diberangkatkan. Mereka juga menyatakan mengawasi kami, kalau berani buka maka akan diserbu. Abah dan umi hanya diberi waktu sepekan untuk menyelesaikan semua ini. Hanya sepekan!" kini tangis Abah pecah juga. Lelaki yang biasanya tegar itu akhirnya luluh juga pertahanannya. Ia terisak-isak.


Membuatku sebagai anak bisa merasakan betapa besarnya luka Abah. Bagaimana tidak, menurut cerita Abah, didirikan travel ini untuk membantu mempermudah jamaah yang ingin beribadah ke tanah suci dengan mudah dan murah. Makanya sedikit sekali keuntungan yang di dapat Abah, yang penting berkahnya.


Aku bisa merasa besarnya luka hati abah ketika tahu ada banyak calon jamaah yang tak bisa berangkat, entah apa masalahnya hingga abahnya Dinda tega melakukan ini semua. Bahkan sampai detik inipun Abah masih berusaha berpikir positif, menganggap ini hanyalah kesalahpahaman saja, makanya Abah meminta kami ke sini, barangkali Dinda tahu dimana abahnya berada.


Bruk. Dinda terjatuh ke lantai. Membuat kami semua kaget. Spontan aku berlari, mengambilnya dalam gendongan, membawa Dinda ke atas sofa. Sementara Abah mengambilkan minyak kayu putih dan air minum. Hanya umi yang masih duduk mematung di kursinya.


"Din, bangun Din!" kataku. Berusaha semaksimal mungkin membangunkan Dinda. Aku paham, ia pasti kaget dengan semua ini. Apalagi beberapa waktu lalu ia pernah bermimpi buruk tentang abahnya. Aku sempat mengajak Dinda untuk membesuk atau sekedar menelepon kalau ia masih belum sanggup bertatap muka, tapi Dinda menolak. Ia masih ingin menyurutkan egonya.


Aku sendiri, menyesal, tak menghubungi ayahnya Dinda. Sebagai menantu, harusnya aku tak putus komunikasi. Harusnya aku yang membantu menjadi penghubung antara Dinda dan Abahnya. Tapi karena kesibukan kuliah, kerja dan persiapan pindah membuat terlupa. Rencananya nanti, kami akan ke sana untuk mengabari kehamilan Dinda, namun kejadian ini keburu terjadi.


"Apa dibawa ke rumah sakit saja?" tanya Abah, yang tak kalah panik dariku.


"Hah, oh ya, boleh Bah." kataku yang masih panik sebab Dinda tak merespon.


Baru kami hendak bersiap pergi, tiba-tiba tangan kanan Dinda bergerak, diikuti oleh matanya yang terbuka pekan.

__ADS_1


"Din, kamu sudah bangun?" tanyaku. Memberinya minum, sembari memijit tangannya pelan. "Kamu nggak apa-apa, kan? Masih pusing? Apa yang dirasakan sekarang?" tanyaku, sambil terus mencermati kondisi Dinda.


"Aku nggak apa-apa." katanya, berusaha bangkit. "Maaf." kata Dinda.


Kini Dinda sudah duduk, bersamaan dengan umi yang langsung bangkit, pergi ke kamar tidurnya.


"Sebaiknya ajak Dinda istirahat dulu di kamar kamu, Dihya." kata Abah. "Nanti kita bicara lagi."


Aku menurut, mengajak Dinda menuju kamarku. Memintanya untuk kembali berbaring.


"Kamu benar enggak apa-apa?" tanyaku. Khawatir dengan kondisinya dan calon bayi kami.


"Dihya, aku harus bagaimana?" tanya Dinda. Ia memandangku dengan tatapan nanar. "Abah ... apa yang aku curigai ternyata benar. Dihya, sepertinya Abah sudah membuat kesalahan besar. Bagaimana ini? Abah sudah menipu umi dan Abah kamu, Dihya. Sekarang aku harus bagaimana? Aku yakin mereka pasti marah padaku juga. Lihatlah Dihya, umi sampai pergi. Aku yakin ia tak menyukai aku lagi " Dinda tampak kacau sekali, ia terus meracau, mengungkapkan kekhawatirannya.


"Enggak Dihya. Kamu enggak tahu. Aku sudah sangat yakin ada yang nggak beres dengan Abah sepeninggalan Umiku, atau mungkin saat umi masih hidup," terakhir ia memelankan suaranya. "Dihya, aku dan Abah pernah bertengkar hebat karena aku curiga, ada yang ganjal antara hubungan Abah dan istri barunya. Entah apa itu. Aku banyak memata-matai orang-orang di pondok karena mendengar isu miring tentang mereka. Entah kenyataan mengerikan Apalagi yang akan terbuka setelah ini, aku nggak berani membayangkan Dihya. Kejadian ini saja sudah sukses membuat aku malu. Abah tega menghancurkan harga diriku di hadapan suami dan mertuaku. Padahal mereka tahu yang namanya pernikahan harusnya seumur hidup. Lalu sekarang bagaimana aku menghadapi semua ini." ia menangis.


"Din," aku mengusap pelan kepala Dinda, membawanya kedalam pelukanku. "Kita selesaikan semuanya pelan-pelan, ya." kataku. "Kamu jangan terlalu banyak pikiran, ingat sayang, sekarang sudah ada calon bayi kita di perut kamu yang harus kamu jaga. Kalau kamu stress memikirkan ini semua maka akan berpengaruh pada bayi kita juga."


Aku tahu, apa yang ku katakan mungkin tak akan mempengaruhi perasaan Dinda, tapi sebagai suami aku harus membantunya menghadapi semuanya ini. Apalagi ada calon anak kami bersama Dinda. Entah bagaimana pun caranya, kami akan menghadapi ini semua. Lagipula Dinda tak bersalah. Kesalahan orang tua, akibatnya tak boleh ditanggung kan pada anaknya.

__ADS_1


***


Usai salah Subuh di masjid dekat rumah, aku dan Abah kembali ke rumah. Biasanya Abah bisa berlama-lama di sana sekedar ngaji dan zikir, namun kali ini Abah memilih buru-buru pulang karena tatapan jamaah rasanya sudah lain.


Mereka tahu kejadian yang menimpa Abah karena saat digruduk calon jamaah yang gagal berangkat, ada beberapa tetangga yang melihat dan ikut mendengarkan. Yang namanya berita buruk itu cepat sekali menyebarnya dari mulut ke mulut.


Bahkan yang ku lihat membuat Abah paling sedih ketika salah satu jamaah yang dulu diberangkatkan secara gratis oleh Abah untuk menemani ayahnya yang sudah sepuh tersirat mencemooh Abah sebagai penipu. Bahkan ia mempertanyakan apakah uang yang digunakan untuk memberangkatkan dirinya juga uang haram hasil nipu calon jamaah.


Andai saja tak ada Abah di sana, mungkin sebuah pukulan sudah melayang ke wajahnya. Sudah baik-baik dibantu malah begitu. Namun mental abah jauh lebih penting, makanya aku segera memboyong Abah pulang ke rumah.


Sepanjang jalan tak berhenti Abah berzikir, untuk menguatkan dirinya sendiri. Terkadang Allah menguji kita dengan kebaikan yang kita lakukan untuk mengetahui keihklasan dan seberapa menerimanya kita dengan ujian yang Allah berikan.


"Bah, Abah nggak apa-apa, kan?" aku bertanya pelan saat menggandeng tangan Abah.


Dalam perjalanan subuh hari yang masih gelap, aku melihat ada air mata yang meluncur. Ya Allah ...


"Dihya, Abah benar-benar sedih." kata Abah.


"Ya, Dihya paham, Bah. Ingat Allah terus ya Bah." pintaku.

__ADS_1


"Dihya ... Abah ini bukan penipu. Abah berusaha bekerja jujur agar mendapatkan nafkah halal untuk anak dan istri Abah." kata Abah dengan berlinang air mata.


"Ya Bah, Dihya percaya. Sangat percaya."


__ADS_2