Kami Sudah Dijodohkan

Kami Sudah Dijodohkan
Bersabarlah Cinta


__ADS_3

"Kamu mau tahu ada hubungan apa antara aku dan mas Farid?" tanya Dinda. "Dihya, mas Farid itu adalah salah satu ustadz yang dipercayakan Abah mengurus pondok Keluarga kami. Beliau sudah menikah dan sudah punya empat anak. Empat Dihya." Dinda memperlihatkan keempat jarinya. "Istrinya mas Farid, mbak Hesti adalah orang kepercayaan umi kala itu. Ia sudah seperti saudara sendiri untukku yang anak tunggal ini. Di pondok kami sedang ada masalah, ditambah ketika Abah memutuskan menikah lagi. Aku banyak komunikasi dengan mas Farid untuk memantau pondok itu. Di rumah tidak bisa karena Abah dan istrinya ada di sana. Aku enggak mau membuat mereka jadi tidak nyaman." kata Dinda lagi.


"Oh begitu." aku mengangguk-angguk.


"Lalu apa lagi yang mengganjal kamu agar tak perlu main detektif-detektif segala." tanya Dinda.


"Sudah, tidak ada." jawabku. Sekarang aku lega karena Dinda ternyata tidak ada apa-apa dengan mas Farid. Lagipula kalau dilihat-lihat ya rasanya memang sangatlah tidak mungkin jika di antara mereka ada sesuatu.


"Kalau begitu sekarang aku yang mengajukan keberatan atas sikap dan ucapan kamu tadi." Dinda menatap dengan tatapan yang tidak bersahabat. "Aku nggak suka dengan kesombongan kamu, Dihya. Aku nggak menyangka kamu bisa bicara seperti itu. Merasa lebih baik dari orang lain padahal kamu sendiri belum tahu kwalitas orang tersebut. Bisa-bisanya kamu bicara seperti itu. Mas Farid itu bukan orang sembarang. Ia memang masih mahasiswa karena ketiadaan biaya. Namun soal ilmu, bisa diadu, aku yakin kamu masih kalah darinya, termasuk keshalihan. Dari cara kamu bicara sudah menunjukkan kwalitas kamu dibawah mas Farid!" Dinda menekankan. "Aku kecewa pada kamu, Dihya." ucapnya dengan suara pelan namun menusuk hatiku.


"Din maafkan aku," pintaku.


"Kamu sudah salah menilai orang!" ucapnya.


"Ya, aku bersalah pada mas Farid. Nanti aku akan meminta maaf padanya." kataku


"Tak perlu, itu hanya akan membuatku gak enak hati padanya." kata Dinda.


"Maaf Din." aku benar-benar merasa bersalah, juga menyesal. Tapi semua sudah terlanjur terjadi. Begitu dahsyatnya rasa cemburu, bisa membuat kita jadi seburuk itu. "Aku cemburu mendengar kamu dekat dengan laki-laki lain. Aku benar-benar tidak bisa menguasai perasaan ini. Aku kalah, Din." kataku. Mengakui kelemahan ku.

__ADS_1


Awal tahu dijodohkan dengan Dinda, aku memang sempat menolak. Merasa ini keputusan sepihak yang tak adil untukku sebab aku merasa ia bukan tipe calon istri yang aku idamkan karena Dinda tidak secerdas Amira atau Jingga. Tapi, ketika tahu penyebab Dinda jadi tertinggal di bidang akademik gara-gara ia harus mengurus ibunya, aku malah jatuh cinta. Perempuan yang rela mengorbankan mimpinya demi ibunya itu luar biasa untukku.


Sayangnya, rasa cinta itu bertambah dari hari ke hari tanpa bisa aku batasi. Aku bahkan tak bisa menguasai diriku sendiri. Begitu cepat tersulut kalau merasa dicurangi Dinda.


"Dihya ... tapi kita masih kuliah. Untuk menikah masih lama. Masih beberapa tahun lagi." Dinda mengingatkan aku.


"Ya aku tahu itu, tapi tetap saja aku tak bisa menahan perasaan itu, Din. Aku benar-benar mencintai kamu!" kataku


"Fiuff. Memang kamu mau menikah sekarang?" tanya Dinda


Mendengar pertanyaan itu nyaliku ciut. Aku belum berani melamar Dinda. Meski cintaku besar untuknya, tapi aku belum berani menjadi imam untuknya sebab tahu tanggung jawabnya nggak kecil, tapi besar. Tidak untuk main-main. Menikah modal cinta saja bagiku tidak cukup. Aku takut belum bisa membiayai hidupnya apalagi kehidupannya dengan orang tuanya bisa dikatakan ekonomi di atas rata-rata.


"Ya sudah, kalau sudah tahu begitu berarti harus bisa jaga hati dulu." ucap Dinda dengan santainya.


"Kamu sih enak, kamu enggak suka sama aku. Jadi kamu bisa sesantai itu " kataku.


"Apa? Sembarang ngomong." Dinda merengut. "Kamu kira cuma kamu yang cinta sama aku? Kamu kira aku enggak? Dihya ... asal kamu tahu, kamu itu adalah sosok yang aku idam-idamkan. Aku juga mencintai kamu. Aku juga sama galaunya seperti kamu tapi ya nggak harus nurutin perasaan juga. Aku menyibukkan diri dengan urusan kuliah dan mulai terjun sedikit demi sedikit di pondok agar tak punya waktu memikirkan kamu sebab aku tahu kwalitas hatiku, kalau sempat memikirkan kamu maka hari-hari akan dipenuhi angan-angan. Maunya membayangkan kamu saja. Yang lain bahkan aku enggak peduli, termasuk kuliahku. Makanya aku berusaha banget menghindari kamu." ucap Dinda dengan jujur. "Makanya jangan sembarang menuduh orang."


"Benar Din? Sejak kapan kamu suka sama aku?" tanyaku yang berbunga-bunga mendengar jawaban Dinda sekaligus makin kagum. Nggak salah umi menjodohkan kamu, Dinda benar-benar berkualitas. Ia bisa atau setidaknya tahu cara menjaga hati. Aku benar-benar penasaran, sejak kapan ia mencintai aku?

__ADS_1


"Penting buat dijawab?" ia balik bertanya.


"Ya. Penting banget untukku!" aku menegaskan arti jawabannya untukku.


"Baiklah. Sejak kamu ngebantuin aku. Kamu peduli padaku saat yang lain ngejauhin bahkan ngebuli aku. Saat itulah aku tahu bahwa Kamu adalah laki-laki terbaik yang selalu aku minta pada Allah " Dinda tersenyum, manis sekali.


"Dih, masih SMA sudah minta jodoh sama Allah?" aku sengaja mencandainya.


"Biarin. Lagian, doa itu juga karena Umi yang selalu rajin mendoakan agar aku mendapat jodoh yang baik. Kata umi, doanya selalu dipanjatkan umi sejak aku dalam kandungan umi." Dinda menceritakan tentang kebiasaan uminya yang suka mendoakan dirinya. Salah satu doanya agar Dinda mendapatkan jodoh yang baik. Jodoh yang salih dan menyayangi Dinda. Untuk calon jodoh Dinda pun umi menyelipkan doa.


Mendengar sepotong cerita itu membuat hatiku semakin berbunga -bunga. Bahagia didoakan calon mertua


"Wah, aku berhutang doa sama umi kamu, Din." kataku


"Apa sih. Jayus." Dinda mencibir.


"Sudah ah. Kelamaan ngobrol sama kamu bisa-bisa benteng pertahanan di hatiku jebol." kata Dinda.


"Terus bagaimana denganku?"

__ADS_1


"Dihya ... calon suamiku yang sudah aku cintai sejak kamu ngebantu aku ngerjain matematika, bersabarlah. Semoga cinta kita diridhai Allah agar bisa berlabuh di pelaminan. Kapanpun waktunya, aku yakin itulah saat yang tepat dan terbaik menurut Allah. Sekarang bersabarlah dulu. Jaga dirimu baik-baik, akupun akan begitu. Menjaga diriku sebaik yang aku mampu. Maafkan jika sikapmu selama ini membuat kamu salah paham. Akupun sama seperti kamu. Tersiksa dengan perpisahan sesaat ini, tapi inilah yang terbaik untuk kita." ucap Dinda sebelum pergi


__ADS_2