Kami Sudah Dijodohkan

Kami Sudah Dijodohkan
Kelulusan dan Pengumuman Terbaik


__ADS_3

Ternyata Dinda tak seburuk yang aku bayangkan. Ia belajar dengan cepat, mampu menyelesaikan soal-soal dengan baik. Selama tiga bulan ini, ia benar-benar memanfaatkan jam istirahat untuk mengejar ketertinggalannya. Benar kata pepatah, ada usaha pasti ada hasilnya.


Hari ini, sehari sebelum pelaksanaan ujian kelulusan, ia berhasil mengerjakan dua pertiga dari soal yang aku berikan dan semuanya benar.


"Kamu benar-benar luar biasa!" saking gemasnya, tak sadar aku mengusap kepala Dinda hingga ia mengelak. Begitu sadar aku langsung minta maaf. Untungnya ia memakai kerudung, kalau tidak bisa-bisa aku menyentuh kepalanya. "Maaf, aku benar-benar nggak sengaja." kataku. "Tadi itu karena kamu berhasil menyelesaikan soalnya dengan benar."


Pembicaraan kami terhenti karena guru masuk. Sepanjang jam pelajaran aku tak tenang, terus terpikirkan, apakah Dinda marah? Tapi dari sikapnya yang biasa saja sepertinya tidak. Namun aku tak bisa berbohong usai kejadian tadi aku malah deg-degan duduk di samping Dinda.


Bel pulang berbunyi. Sebelum keluar, Dinda menyatakan terimakasih karena aku sudah membantunya. Ia janji akan berusaha semaksimal mungkin agar lulus dengan nilai yang baik. Ia sudah membuat sebuah keputusan akan kuliah di UIN karena menarget kuliah di Luar Negeri akan berat, apalagi saat ini ibunya sedang sakit.


"Kamu juga selamat ya Dihya, sudah diterima di Fakultas Kedokteran jalur undangan. Kamu memang keren. Semoga sukses kedepannya!" kata Dinda. Ia melambaikan tangan lalu berlalu menghilang di antara siswa-siswi lainnya yang juga ingin segera pulang ke rumah masing-masing.


Tinggal aku sendiri di kelas, makanya aku pun menyusul keluar melewati koridor menuju parkiran sekolah untuk mengambil motorku. Ternyata di sana sudah ada Amira. Ia agak gelagapan saat melihatku.


"Kamu nunggu siapa Mir?" tanyaku. Berusaha sebiasa mungkin.


"Dihya maaf kalau aku kembali mengganggu. Ada yang ingin aku tanyakan." ia menundukkan pandangannya. "Kamu beneran akan menerima perjodohan itu? Maksud aku, apakah itu sudah final. Aku tahu Dinda memang anak yang baik, tapi benar itu pilihan kamu?"


"Aku akan mengikuti keinginan orangtuaku, Mir." jawabku.


"Oh, begitu. Ya sudah kalau begitu. Oh ya, selamat ya Dihya, kamu sudah diterima di kedokteran." ia masih menunduk. "Semoga kamu bahagia selalu ya Dihya." Amira tampak kebingungan. Ia bahkan berjalan agak linglung saat meninggalkan aku.


Ahhh aku hanya bisa berharap semoga gadis itu baik-baik saja. Ada yang bilang, patah hati pertama kali itu menyakitkan. Aku harap Amira bisa memahami dan semoga suatu saat di waktu yang tepat ia bisa menemukan jodoh yang tepat juga. Sekarang waktunya mengejar cita-cita masing-masing.

__ADS_1


***


Dua pekan ini murid-murid kelas tiga disibukkan dengan ujian kelulusan dan ujian sekolah. Setelah itu ada yang bimbel untuk persiapan masuk perguruan tinggi.


Aku sendiri karena sudah diterima sebagai calon mahasiswa baru fakultas kedokteran di Universitas yang ada di kota ini tak mengikuti bimbel. Waktu yang ada ku pergunakan untuk membantu Abah dan Umi dengan pekerjaan sebagai travel umroh. Hitung-hitung magang menambah pengalaman.


Karena tak ke sekolah lagi, jadinya tak bisa bertemu dengan Dinda. Rasanya ada yang beda. Tak bisa melihat tingkah unik teman sekelas yang ternyata dijodohkan denganku itu. Tak punya teman berdebat juga di awal-awal dahulu kala ia selalu protes tiap aku memberinya soal-soal yang menurutnya sangat sulit namun di akhir-akhir ia yang malah kecanduan ingin diberikan lebih banyak soal lagi. Jujur aku rindu pada Dinda, tapi tak tahu bagaimana cara bertemu dengannya. Kemarin, sebelum ujian ia sempat bilang tidak akan ikut bimbel di tempat les melainkan privat supaya tak terlalu lama meninggalkan ibunya. Sebenarnya aku ingin menawarkan diri sebagai guru privatnya tapi karena Dinda tak juga paham kode yang aku berikan ditambah aku juga gengsi mengajukan diri makanya tak jadi.


"Dihya, kok diam saja. Sudah selesai tugas yang Abah berikan?" tanya Abah yang melihatku termenung.


"Eh ya Abah, maaf. Ini tinggal sedikit lagi." aku buru-buru fokus ke layar laptop, mengedit video untuk promosi travel umroh abah yang tahun ini akan lebih banyak lagi promonya untuk menjaring banyak calon jamaah.


"Bah ... Abah ... Abah gawat!" Umi berlari ke kantor Abah yang berada di sebelah rumah kami persis.


"Fifi bah, Fifi ...." umi menyeka air matanya yang jatuh.


"Kenapa Fifi?" Abah balik bertanya.


"Fifi meninggal." ucap Umi "Tadi barusan adiknya mengabari kalau Fifi meninggal barusan. Ini sedang dalam perjalanan pulang dari rumah sakit menuju rumah." umi menceritakan tentang kabar yang ia dapatkan dari tantenya Dinda bahwa tadi pagi ibunya kembali kambuh makanya segera dilarikan ke rumah sakit, namun sayang, tak berapa lama usai mendapat pertolongan dari dokter, tante Fifi meninggal dunia.


Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. Aku dan Abah serentak mengucapkan doa untuk ibunya Dinda. Saat ini bisa kubayangkan bagaimana sedihnya gadis itu sebab yang aku tahu ia sangat dekat dengan ibunya.


"Ya sudah ayo kita ke rumah duka sekarang." kata Abah.

__ADS_1


"Bah, Dihya ikut ya." kataku. Sayangnya Abah memintaku untuk tinggal sebentar di kantor menggantikan Abah karena sudah ada janji dengan calon jamaah yang ingin mendaftar.


"Kamu nanti nyusul saja setelah tamunya datang ya." kata Abah.


Berat sebenarnya, namun aku gak punya pilihan lain sebab ini permintaan Abah. Meski sebenarnya aku ingin bertemu Dinda untuk menguatkan.


Setelah Abah dan Umi pergi, aku tak henti-hentinya menghubungi calon jamaah yang membuat janji agar mempercepat kedatangan mereka. Bagiamana mungkin mereka menyuruhku untuk sabar menunggu Sementara di sana calon istriku sedang bersedih sebab ibunya meninggal dunia.


***


Tamu yang ditunggu itu ternyata Amira dan kedua orang tuanya. Mereka ingin berangkat umroh untuk mendoakan kelulusan Amira. Saat itu aku bisa melihat Amira tak terlalu bersemangat. Ia terlihat kosong, berbeda dengan Amira yang biasa aku kenal. Bahkan saat orang tuanya mengajak bicara ia seperti ogah-ogahan.


Apakah karena masalah hati denganku? Entahlah, tapi yang jelas ia terlihat tak peduli.


"Maaf bapak ibu, ini bisa diselesaikan secepatnya karena saya harus mengunjungi teman saya, ibunya baru meninggal dunia." kataku.


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. Siapa yang meninggal Dihya?" tanya ibunya Amira yang merupakan guru agamaku di sekolah.


"Ibunya Dinda, Bu." kataku.


"Ibunya Dinda?" Amira menanggapi. "Ya Allah. Dihya, boleh aku ikut denganmu ke rumah Dinda, aku juga ingin ikut melayat." kata Amira.


Awalnya aku berat membawanya serta tapi karena orang tuanya mengizinkan makanya aku pun mengiyakan.

__ADS_1


__ADS_2