Kami Sudah Dijodohkan

Kami Sudah Dijodohkan
Beban Mahasiswa


__ADS_3

Jadi mahasiswa itu memang harus pintar-pintar mengatur waktu agar semua target yang kita inginkan tercapai. Boleh aktif di organisasi namun jangan terlalu larut hingga akhirnya lupa tujuan utama sebagai seorang mahasiswa makanya ada istilah mahasiswa abadi.


Tahun kedua kuliah, pihak dekanan menawarkan menjadi asisten praktikum juga beberapa tambahan pekerjaan untukku. Sebagai imbalannya, selain ada dana masukan juga beasiswa dan pastinya relasi. Namun salah satu syaratnya harus aktif di organisasi kampus. Sesuatu hal yang aku hindari di tahun pertama. Bukan karena aku tak bisa berorganisasi, sebab sejak SMP aku sudah aktif di OSIS bahkan menjabat sebagai ketua. Namun pilihan itu terpaksa ditempuh sebab sebagai mahasiswa yang juga punya pekerjaan sampingan aku nyaris tak punya waktu luang selain kuliah dan bekerja.


"Ini peluang, Dihya. Kalau kamu enggak mau nyemplung di organisasi maka kamu enggak akan pernah ketemu orang-orang hebat lainnya yang bisa memberikan banyak pelajaran untuk kamu. Aku ngerti kamu sekarang berusaha kuliah sambil bekerja untuk mempersiapkan perjodohan kalian tapi kan enggak ada paksaan dari pihak orang tua kamu dan keluarga perempuan untuk menikah dini, jadi kamu bisa mengambil tawaran ini karena nggak semua orang bisa mendapatkannya. Bahkan aku yang notabene anak profesor saja enggak dapat." kata Lucy.


Untuk urusan di kampus, secara langsung dan tidak langsung aku memang sering bercerita dengan Lucy. Mungkin karena selain satu kelas kami juga punya misi yang sama. Suka mencari beasiswa dan juga relasi untuk masa depan kami nantinya. Tapi lebih banyak Lucy yang mengajakku. Meski kadang aku yang berhasil mendapatkan ia tak pernah marah. Jika ada kesempatan lainnya ia tak akan pernah lupa untuk mengajakku.


Sesuai dengan masukan itu akhirnya tahun kedua ini aku mulai aktif di organisasi. Mulai dari intern fakultas hingga universitas. Dengan begitu pertemanan pun makin luas, bertambah teman dari luar fakultas. Teman laki-laki dan perempuan.


Dari semua itu, yang paling aku hindari adalah mengakrabkan diri dengan teman perempuan. Di kampus ini rasanya cukup punya satu teman perempuan saja yaitu Lucy untuk menghindari baper. Seperti yang terjadi pada tiga perempuan dari fakultas berbeda. Ada Rea dari fakultas keguruan, Ami dari fakultas farmasi dan Elsa dari fakultas ekonomi yang mendekati aku dengan cara cukup agresif hingga membuatku tak nyaman. Bahkan mereka berani mendatangi rumahku. Untung saja Umi sangat tegas terhadap teman-teman wanitaku. Umi selalu menolak jika ada yang melakukan pendekatan ke rumah sebab umi sudah punya calon menantu idamannya yaitu Dinda.


Padatnya jadwal di kampus dan kerjaan pada akhirnya membuatku ambruk juga. Tiga hari badan panas, setelah dicek ternyata seusai dengan dugaan umi bahwa aku kena tipes hingga harus di rawat di rumah sakit. Akibatnya aku harus merelakan proyek terjemahan yang sudah lama aku idam-idamkan. Yaitu proyek dari dosen sastra Inggris. Karena beliau membutuhkan hasil yang cepat sementara aku harus dirawat tanpa bisa memastikan bisa fit kapan ditambah selama sakit umi juga melarangku memegang pekerjaan dan urusan kampus. Makanya terpaksa ku lepaskan.


"Benar kan kata Umi, kamu itu butuh istirahat Dihya. Kamu sudah terlalu lelah. Umi mau kamu enggak menerjemah lagi agar setelah pulang dari kampus bisa fokus istirahat!" kata Umi. "Ngelihat kamu sakit seperti ini membuat umi sedih. Kayak Abah dan Umi enggak mampu saja. Meski harta kami enggak berlimpah tapi untuk menyekolahkan kamu sampai lulus jadi dokter masih bisa kok nak." tambah umi dengan mata berkaca-kaca. "Itu juga kenapa umi dan Abah enggak mau punya anak lagi selain kamu agar kami bisa membiayai kamu hingga kamu bisa jadi mapan, nak."

__ADS_1


"Mi, maafkan Dihya. Janji deh setelah ini akan jaga kesehatan semaksimal mungkin. Kalau sudah capek Dihya akan istirahat. Dihya juga akan lebih rajin lagi olahraga dan minum vitamin." kataku


"Dihya itu kan anak laki-laki, Mi. Kelak akan jadi kepala keluarga. Ya enggak apa-apa dia belajar arti tanggung jawab. Iya kan nak!" Abah menyemangati.


Aku hanya tersenyum tipis. Sementara Umi masih menangis sendu.


"Ya tapi kan nggak sampai sakit begitu juga bah." ujar Umi sambil menyeka air matanya.


"Mi, kalau Dihya nggak pernah sakit nanti malah kayak Fir'aun lho. Enggak pernah sakit. Seram nggak tuh" tukas Abah.


Melihat itu aku jadi agak tenang. Sejujurnya sedih juga sebab sudah membuat umi sedih.


***


Saat jam besuk, Lucy dan beberapa teman satu fakultas datang membesuk. Mereka menyemangati agar aku lekas sembuh. Anak-anak juga mendukung Umi agar aku mengurangi aktivitas sebab jadwalku terlalu padat.

__ADS_1


Kedatangan teman-teman kampus, termasuk Lucy disambut dengan baik oleh Umi yang memang menjagaku dua puluh empat jam. Meski masih ada pekerja, namun Abah dan Umi merelakan kehilangan klien sebab tak bisa meninggalkan aku sendiri. Padahal ini belum dua puluh empat jam aku dirawat. Makanya aku jadi tidak enak hati pada kedua orang tuaku. Sudah sebesar ini masih saja merepotkan mereka.


Usai pulang, Umi mempertanyakan tentang Lucy. Rupanya pertemuan itu cukup memberikan kesan pada umi hingga umi sampai mempertanyakan terus.


"Anaknya kelihatan baik dan pintar ya Dihya Coba umi ada dua anak laki-laki sudah umi jodohkan sama neng Lucy itu." kata umi.


"Tapi kan dia nggak berkerudung, mi." aku menjawab asal.


"Nak Lucy itu sepertinya tipe perempuan yang patuh. Setelah menikah dia pasti bisa diarahkan. Nanti kan tinggal minta dia menutup aurat saja." jawab Umi sambil tersenyum.


Tetapi ketika teman perempuan dari fakultas lain datang, apalagi teman perempuan yang sempat mendekati aku datang, umi langsung memasang tampang cuek bahkan terkadang jutek. Menunjukkan dengan jelas penolakannya.


Kata umi, beliau tak terlalu suka tipe perempuan-perempuan centil yang hanya mengandalkan kecantikan saja. Tipe seperti itu tak cocok jadi calon menantu umi karena sangat yakin kelak akan berlawanan dengan umi yang super simple dan lebih suka tipe perempuan yang santai seperti Dinda atau Lucy.


"Ngomong-ngomong soal Dinda, kenapa dia nggak datang membesuk ya? Apa jangan-jangan Dinda enggak tahu. Padahal umi sudah pasang status wa lho supaya Dinda baca. Abah juga sudah umi minta memberi tahu abahnya Dinda. Tapi sampai sekarang belum juga ada tanggapan. Jujur umi kangen Dinda." kata umi dengan tatapan kosong, memikirkan Dinda.

__ADS_1


__ADS_2