
Kami pulang hari senin pagi ke rumah orang tuaku, sesuai dengan kesepakatan sebelumnya. Akan tinggal di sini setidaknya sampai bulan baru. Rencananya, pulang hanya mengantar Dinda dan barang-barang, lalu aku akan bersiap ke kampus sebab jam sembilan pagi ada kuliah.
Umi dan Abah menyambut kepulangan kami dengan hangat. Umi sudah meminta mbak yang biasanya pulang pergi tiap hari untuk memasak banyak. Setelah meletakkan barang-barang di kamar, aku pamit pada orang tua dan istriku.
Kalau saja tak ada mata kuliah penting, aku mungkin tak akan berangkat ke kampus karena tahu Dinda begitu canggung berada di rumahku. Meski ia sudah akrab dengan umi, tapi tetap saja, momen pertama kalinya resmi masuk ke keluarga baru akan membuat kikuk.
Benar saja dugaanku. Baru sampai di kampus, Dinda sudah mengirimkan serentetan pesan, mulai dari menayangkan kapan pulang hingga meminta agar segera pulang sebab ia tak tahu lagi harus melakukan apa. Padahal Abah dan umi masih berada di rumah. Memilih tidak ke kantor sebelah hari ini untuk menemani Dinda. Tapi yang ditemani malah kebingungan.
Pesan-pesan itu terpaksa aku abaikan agar fokus ke kuliah. Saat itu juga aku menyadari Lucy tak masuk. Entah kemana ia pergi, tak ada kabar sama sekali padahal biasanya ia tak pernah bolos kuliah. Bahkan ketika sakit pun Lucy selalu berusaha memaksakan diri hadir. Ia memang paling sayang kalau ada mata kuliah yang terlewat.
[kamu dimana? Kok belum masuk? Kamu baik-baik saja, kan?] Sebuah pesan ku kirimkan ke nomornya Lucy menjelang mata kuliah di mulai. Namun, sampai mata kuliah berakhir, Lucy tetap tak datang juga.
Aku bertanya pada Beberapa teman kampus yang beberapa kali ku lihat bersama Lucy tentang keberadaannya. Tapi sayangnya tak ada yang tahu. Makanya ku putuskan ke klinik, barangkali ia ada di sana, tapi hasilnya nihil.
[Kamu dimana, Lucy?] Sebuah pesan kembali ku kirim, tapi hasilnya tetap sama. Makanya aku nekat menelepon khawatir terjadi yang tidak-tidak sebab ini bukan kebiasaan Lucy. Sesibuk apapun ia pasti akan menjawab pesanku. Sayangnya nomornya tidak aktif.
Aku berusaha berpikir positif, barangkali ia sedang sakit. Butuh istirahat total mengingat iapun tak kalah sibuk seperti aku sebelumnya, nyaris nggak ada waktu istirahat, bahkan hari libur pun kami masih berkegiatan, makanya ia mengabaikan panggilan dan pesan-pesan yang aku kirimkan.
"Dihya!" aku yang hendak ke parkiran tiba-tiba dipanggil oleh seseorang. Amira, ia berjalan cukup cepat menuju ke arahku. "Dihya, aku dengar kamu dan Dinda sudah menikah. Apa itu benar?" Amira menatapku.
"Ya, Alhamdulillah kami sudah menikah Jum'at kemarin." Kataku
"Kok cepat sekali? Nggak ada kabar-kabar sebelumnya."
__ADS_1
"Iya. Alhamdulillah Allah percepat." Kataku
Amira mengangguk. Aku tak mau besar kepala, toh sebenarnya aku tak peduli juga, namun aku bisa merasakan kekecewaannya. Netranya bahkan berkaca-kaca.
"Dihya," kata Amira dengan suara bergetar.
"Maaf Mir, aku harus pulang dulu. Masih banyak kerjaan. Dinda juga nungguin di rumah." Kataku.
"Dihya, tunggu dulu!" ia menahanku. "Dihya ... aku nggak tahu lagi harus bagaimana, tapi aku ...." Kali ini ia menangis. Aku jadi bingung harus melakukan apa.
"Mir, kenapa?"
"Dihya, aku ... aku nggak bisa kamu menikah dengan Dinda. Kenapa harus dia Dihya? Kenapa?"
"Maaf Mir, kami sudah menikah."
"Astagfirullah, maaf Mir, aku nggak mau bahas hal yang sudah berlalu. Lagipula aku dan Dinda sudah menikah. Bagaimana kalau Dinda dengar, ia pasti nggak nyaman. Tolong jaga perasaan istri saya Amira. Kamu kan sekarang sudah berteman dengannya. Jangan sampai ia kecewa. Bagi saya, istri saya adalah tanggung jawab saya. Tak peduli apapun yang terjadi dimasa lalu, sekarang yang terpenting adalah saya dan dia sudah menikah. Kami sudah halal di mata Allah!" Kataku. Lalu pamit padanya.
Memang benar dulu aku mengagumi Amira, bahkan sempat muncul di benak ingin menikah dengannya. Tapi itu dulu, sebelum aku Dijodohkan dengan Dinda. Sebelum aku jatuh cinta pada istriku. Sekarang, semua rasa itu sudah hilang. Bahkan meski aku berusaha mencari, tetap saja sudah biasa saja. Hanya ada Dinda di hatiku!
***
"Dari mana saja, sih? Kok baru pulang jam segini? Aku sudah menunggu sendiri. Aku bingung harus melakukan apa. Mau tidur salah, duduk salah, berdiri juga capek. Enggak enak tahu sendiri di rumah orang tanpa tahu harus melakukan apa. Kamu benar-benar tega!" Dinda menyerbu saat aku baru masuk ke kamar.
__ADS_1
Aku yang gemas langsung memencet hidungnya hingga ia meringis yang ternyata mancung juga, tak kalah dengan hidungku.
"Sakit tahu!" Ia mengomel.
"Gemes!" Kataku, lalu meraihnya, Dinda duduk di pangkuanku. Aku bisa memegang erat tangannya. "Maaf ya sudah membuat kamu nggak nyaman. Tapi kan kamu bisa tidur kalau capek atau ngantuk. Toh kamu di kamar, pintu juga tertutup. Abah dan umi enggak akan mungkin masuk." Kataku.
"Iiihhh kamu mau enak banget ngomongnya, orang yang menjalani tetap saja nggak tenang. Takut kalau tiba-tiba umi manggil terus aku enggak dengar. Atau umi berpikir aku malas-malasan karena sejak kamu pergi enggak keluar keluar dari kamar.
"Ya sudah, kalau begitu kan tinggal keluar saja."
"Malu." ia memicingkan matanya.
"Lha, sama mertua sendiri kok malu. Santai aja, kan kamu juga sudah kenal umi dan Abah. Biasanya akrab sama umi. Kenapa sekarang jadi penakut begini. Anggap saja umi dan Abah seperti orang tua kamu sendiri, toh orang tuaku juga begitu, menganggap kamu seperti anaknya sendiri." Aku kembali memencet hidungnya. Lalu memainkan rambutnya yang panjang.
"Ya tetap saja rasanya nggak nyaman. Beda menikah dan belum menikah. Aku takut salah. Kalau keluar juga enggak tahu mau ngapain. Apa-apa juga aku nggak hafal kebiasaan di rumah ini. Pokoknya nggak nyaman. Dihya, bagaimana kalau kita pindah saja? Ngontrak yang sederhana saja supaya aku bisa leluasa." ia mulai merengek, layaknya seorang istri pada suaminya.
"Hmmm, nunggu awal bulan ya." aku senyum sendiri dengan tingkah Dinda yang ternyata bisa manja juga.
"Kenapa?" ia melirik, matanya yang bulat menatapku.
"Ya kan kita belum nyari kontrakan yang cocok."
"Ya sudah." Dinda cemberut. Ia menekuk wajahnya.
__ADS_1
"Besok kamu kuliah, kan? Pulang kuliah kita cari kontrakan. Kalau dapat yang cocok juga pindah!" Kataku. Enteng saja, meski sebenarnya belum punya dana untuk membayar sewa. Yang penting mood Dinda bagus dulu.
"Benar? Wahhhh makasi suamiku!" Dinda kembali cengengesan. Aku tambah gemas padanya.