Kami Sudah Dijodohkan

Kami Sudah Dijodohkan
Berdua Insha Allah Menuju Bertiga


__ADS_3

Kami berdua akhirnya menemui dokter dua pekan setelahnya. Tentunya usai menahan rasa penasaran. Kenapa dua pekan setelahnya, karena yang aku tahu, kalau garisnya masih samar maka sebaiknya melakukan pemeriksaan beberapa pekan lagi agar benar-benar jelas hasilnya.


Setelah melakukan USG, dokter menyatakan bahwa Dinda benar-benar positif hamil, usia kandungannya sudah masuk pekan keenam. Tepat seperti dugaanku. Sebagai suami siaga, aku aktif bertanya apa saja yang boleh dan tidak boleh untuk ibu dengan kehamilan muda.


Begitu keluar dari ruang dokter, Dinda masih diam seribu bahasa. Saat ku ajak makan ke cafe langganan kami, ia menolak. Padahal sebelum berangkat kami sudah janjian pulangnya ke cafe dulu karena hari ini memang tidak masak. Wajahnya tampak pucat. Makanya ku putuskan membawanya pulang ke kontrakan. Untuk makan nanti aku saja yang beli diluar sendiri.


"Kamu baik-baik saja?" tanyaku, yang disambut tatapan mata Dinda.


"Bagaimana aku bisa baik-baik saja setelah tahu positif!" ucap Dinda.


"Apa yang membuat kamu risau?"


"Dihya, kita ini masih sangat muda. Tahun ini sama-sama baru genap dua puluh tahun, masih menempuh pendidikan. Paling cepat selesai satu setengah tahun lagi, sementara kamu masih beberapa tahun lagi. Masa depan kita belum jelas. Masih sama-sama dibiayai orang tua kita. Sekarang malah hamil, bagaimana ini? Bagaimana dengan anak ini? Dengan apa akan kita biayai?" ia nyaris menangis.


"Din, kamu yakin tidak, setiap yang bernyawa itu sudah ada rezekinya, dijamin oleh Allah. Kita hanya harus benar-benar pasrah. Kalaupun kita berdua sudah jadi sarjana, punya pekerjaan yang baik bukan berarti semuanya akan jauh lebih baik kalau Allah belum berkehendak. Lagipula anak ini sudah ada dalam perut kamu, mau tidak mau kita harus menerimanya. Lagian, apa kamu nggak kasihan, anak ini ada bersama kamu, ia mendengar apa yang kita ucapkan, bisa merasakan perasaan kamu. Hormon bahagia dari ibu itu bisa mempengaruhi janinnya, begitu juga dengan rasa sedih. Kasihan anak kita. Sejak dalam kandungan sudah tertekan karena tidak disukai ibunya." aku mengelus pelan perut Dinda.


"Iiiihh, siapa yang nggak suka. aku suka kok. Dari dulu aku itu pengen banget punya adik, tapi umi dan Abah nggak ngasih. Tahu sekarang akan punya bayi aku bahagia, senang. Tapi juga sedih, takut nggak bisa ngasih yang terbaik untuknya." kata Dinda.


"Kamu tenang saja, aku sebagai suami dan calon ayah InshaAllah akan bertanggung jawab pada kalian berdua. Aku akan berusaha menjaga dan memenuhi kebutuhan kalian. InshaAllah." kataku berjanji pada Dihya

__ADS_1


"Dihya, kamu itu benar-benar laki-laki yang bisa diandalkan. Aku semakin suka sama kamu!" kata Dinda sambil senyum-senyum genit.


Gemas melihat ekspresinya, makanya kembali ku cubit pipinya yang agak cuby itu dengan pelan agar ia tak merasa kesakitan.


"Hidup kita akan sempurna setelah anak ini lahir. Aku sudah nggak sabar nunggu tujuh sampai delapan bulan lagi untuk melihat, kira-kira anak kita laki-laki atau perempuan, wajahnya kayak aku atau kamu?" ungkap Dinda sambil menggenggam tanganku.


"Semoga saja mirip aku." kataku


"Kenapa? memang aku jelek?" balas Dinda.


"Nggak, nggak ada yang bilang kamu seperti itu. Kamu itu perempuan paling cantik yang pernah aku temui."


"Tapi nanti kemungkinan aku akan menjadi gendut, kulitnya bisa berjerawat, nggak cantik lagi."


"Dihya!" baru saja Dinda ingin memelukku, tetapi pandangan ibu-ibu yang sedang antri menunggu panggilan dokter kandungan membatalkan niatnya. Padahal aku sudah bersiap menyambutnya dalam pelukan. "Udah udah. Ayo pulang. Nggak enak dilihat ibu-ibu!" ajak Dinda yang menyeret aku menuju parkiran rumah sakit. Sementara aku pura-pura tak peduli, terus menempel pada Dinda hingga akhirnya ia kesal sendiri.


***


Rencananya, besok siang usai kuliah, aku dan Dinda akan ke rumah Abah dan umi untuk mengabari tentang kehamilan Dinda. Tapi malam ini kedua orang tuaku menelpon, meminta kami untuk datang.

__ADS_1


Sudah malam. Ku pikir, kalau tidak ada hal yang penting Abah dan umi tak mungkin memanggil kami. Makanya malam itu kami berdua segera meluncur.


Sampai di sana, aku mendapati umi dengan mata yang sembab. Tadi Abah memang tak memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi, jika memungkinkan kami hanya diminta untuk segera datang malam ini.


"Umi kenapa?" tanyaku pada umi yang kembali menangis melihat kedatanganku. "Bah, umi kenapa?" tanyaku, saat tak juga mendapati jawaban dari umi.


"Dihya ... Abah harus memberitahukan kamu kalau PT travel umroh dan haji yang Abah dan umi kelola sekarang terlilit hutang. Sudah jatuh tempo. Kemungkinan mulai besok kantornya akan ditutup." kata Abah.


"Terlilit hutang bagaimana, Bah?" aku masih belum bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Yang aku tahu, Abah dan umi tak punya hutang pada siapapun, apalagi yang bisa menyebabkan mereka kehilangan satu-satunya sumber rezeki keluarga kami. Kedua orang tuaku adalah tipe orang yang sangat menghindari namanya hutang. Sebisa mungkin dihindari, tapi kenapa sekarang malah begini, kalau sampai bisa membuat pailit PT pastilah hutangnya tidak sedikit.


"PT punya tanggungan hutang milliaran rupiah, Dihya." Abah yang semula tegar kini pun suaranya bergetar.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Bah? Ceritakan pada Dihya." kataku, sambil merangkul pundak Abah. Berharap beban kesedihannya bisa hilang.


Abah mulai menceritakan dengan suara masih bergetar. Kira-kira lima tahun lalu, karena krisis, usaha travel umroh dan haji Abah mengalami kemunduran. Sampai satu tahun tidak memberangkatkan jamaah, sementara yang sudah memesan pun ikut membatalkan. Akibatnya tak ada pemasukan hingga akhirnya mengalami minus.


Saat itu aku ingat betul, untuk menutupi pengeluaran termasuk gaji karyawan yang lumayan, Abah dan umi sampai kelimpungan. Semua tabungan ludes, termasuk perhiasan umi.


Saat itu, orang tua Dinda mengulurkan bantuan. Membantu usaha Abah dengan meminjamkan modal. Mereka juga ikut membantu promosi berupa kerjasama untuk orang tua santri dan para relawan. Sebagai jaminan, Abah yang tak enak hati memberikan surat-surat perusahaan.

__ADS_1


Semua masih berjalan lancar hingga uminya Dinda meninggal dunia, lalu abahnya menikah lagi dengan seseorang yang cukup tahu seluk beluk pesantren. Entah bagaimana ceritanya, abahnya Dinda menggadaikan sertifikat, beliau juga menggelapkan dana jamaah. Sampai sekarang sudah terhitung ada dua ratus jamaah yang sudah terdaftar namun uangnya tak pernah disetor pada Abah dan umi. Tadi sore, perwakilan calon jamaah itu mendatangi kedua orang tuaku setelah tak berhasil menemui ayahnya Dinda. Mereka menuntut agar diberangkatkan bulan ini juga atau uangnya dikembalikan.


Abah dan umi sudah berusaha menghubungi abahnya Dinda, namun tak juga berhasil. Bahkan tadi orang suruhan Abah yang menengok ke sana menyatakan kalau dua hari setelah Dinda menikah, Abah dan ibu tirinya sudah meninggalkan pondok pesantren.


__ADS_2