
Dinda nyaris menjerit ketika mendapati bungkusan yang ada di dalam kopernya. Ia memang baru sempat membongkar dua koper besar itu, sebelumnya ia hanya membuka ransel berisi pakaiannya. Karena stoknya sudah habis makanya koper itu akhirnya dibongkar juga, padahal niatnya akan dibuka saat sudah pindah rumah nantinya. Dinda masih kekeh ingin segera pindah. Ia ingin seperti pengantin lainnya yang mengatur urusan rumah tangganya sendiri. Bukannya saingan dengan mertua.
"Kenapa sayang?" tanyaku, sambil mendekat. Bukannya menjawab, Dinda malah menyodorkan bingkisan yang ditutup kain serupa taplak meja. Bingkisan itu sudah terbuka sedikit, begitu aku mengintip nampak amplop dan sebuah kotak cukup besar.
"Apa itu?" kataku. Lalu merogoh beberapa amplop. Dari nama -nama yang tertera di dalamnya baru kami paham kalau itu adalah amplop dari keluarga yang datang saat pernikahan kami. Rupanya abahnya Dinda membungkus semuanya lalu memberikan pada Dinda lewat bungkusan itu. Selain itu ada kotak berukuran cukup besar, begitu dibuka isinya perhiasan. Sangat banyak. Berupa anting, cincin dengan berbagai motif dan ukuran, gelang serta kalung. Kata Dinda itu punya ibunya. "Apa maksudnya? Apa Abah mau memberikannya untuk kamu?" aku menatapnya. "Tapi kenapa tidak memberikan langsung saja, bagaimana kalau uang itu hilang." aku kebingungan sendiri melihat tingkah lucu mertuaku.
"Ini perhiasan yang membuat kami bertengkar." Kata Dinda. "Aku tak suka perempuan itu mengotak Atik miliknya umi. Aku yang putri umi saja tidak sembarang memakainya."
"Tapi ternyata tidak, kan. Semuanya dikembalikan pada kamu."
"Kamu nggak paham Dihya. Abah terpaksa melakukannya karena sempat ribut denganku. Mungkin juga Abah malu makanya mengembalikannya. Tapi Abah tidak supportif, mengembalikan dengan cara seperti ini bukan secara langsung!" Dinda masih geram. Ia masih merasa tidak dianggap sebagai seorang anak. Padahal ia sangat menyayangi abahnya. Selama ini mereka sangat sulit dipisahkan.
"Sudahlah, setidaknya Abah sudah mengembalikannya." Aku mencoba meredam emosinya.
"Hmm, cuma aku penasaran, bagaimana tanggapan perempuan itu." Dinda tersenyum, ia merasa ingin tahu tanggapan ibu tirinya mengingat sebelumnya abahnya memenangkan sang ibu tiri namun ternyata di belakang pada akhirnya Abah mengembalikannya juga pada Dinda semua barang-barang milik umi. Sesuai wasiat umi, kalau sudah tidak ada maka semuanya diberikan pada Dinda.
"Din, kita sudah sepakat kan untuk tidak membicarakan orang lain apalagi berprasangka buruk padanya." Aku mengingatkan kesepakatan yang kami buat di hari pertama sah sebagai suami istri. Kami sama-sama ingin melakukan kebaikan.
__ADS_1
Dinda diam saja. Ia tak mau menyetujui apa yang aku katakan namun juga tidak membantah. Meski begitu aku membiarkan saja sebab tahu gelas-gelas kaca memang harus diperlakukan dengan lemah lembut. Menasihatinya harus sabar sebab bagaimana pun juga Dinda punya luka yang entah kapan bisa disembuhkan. Ia belum bisa melihat ada yang menggantikan posisi ibunya.
***
"Katanya mau pindah, tapi kenapa bolak-balik seperti itu!" Dinda ngambek setelah hampir seharian aku mengajaknya muter-muter nyari kontrakan.
Sebenarnya bukan belum ada kontrakan yang bagus, tetapi belum ada yang sesuai dengan dana yang aku punya. Lagipula aku berharap pindahnya nanti saja awal bulan setelah gajian. Kalau dipaksakan pindah sekarang, selain harus bayar kontrakan aku pun harus mengeluarkan dana untuk biaya makan dan kehidupan sehari-hari kami. Padahal uangnya belum ada sama sekali.
Dinda sepertinya paham apa yang jadi penghalangnya. Ia pun menawarkan agar menggunakan uang dari amplop keluarga. Toh uang itu sudah jadi hak Kami, sah-sah saja digunakan sebagai modal awal berumahtangga.
"Din, bukannya aku nggak mau. Tapi sabar sebentar ya, nunggu aku gajian. Uang itu untuk tabungan saja kalau sewaktu-waktu kita butuhkan. Kedepannya kan kita belum tahu apakah kehidupan kita akan berjalan mulus atau malah banyak cobaan. Lagipula kita juga harus mempersiapkan dana untuk kuliah kamu karena Abah sudah tidak membiayainya. Kalau minta ke orang tuaku juga kamu keberatan." Aku menjelaskan dengan harapan ia paham.
Ia yang tak mau mundur itu membuat kepalaku pusing, apalagi dengan tawarannya yang mau ikut-ikutan bekerja. Baru juga menikah tapi sudah kelihatan kelabakan. Aku benar-benar pusing. Menikah ternyata nggak bisa mengandalkan cinta saja, tapi juga butuh uang!
"Please istriku. Nunggu aku gajian ya. Lagian kalau kita pergi sekarang kasihan Abah sama umi. Mereka belum tahu sama sekali tentang rencana ini. Kalau tiba-tiba takutnya nanti mereka malah kepikiran. Iya, kan?" Kataku.
Dinda tak menjawab, tapi dari wajahnya yang ditekuk bisa ku simpulkan bahwa ia tak setuju. Ia berat jika harus numpang di rumah keluargaku. Sesuai dengan permintaannya sebelum menikah agar kami tinggal misah.
__ADS_1
Sebenarnya apa yang dikatakan Dinda ada benarnya juga. Lebih nyaman tinggal mandiri, apalagi untuk seorang perempuan. Selain itu juga bisa melatih kemandirian diri agar tak terus bergantung pada orang tua.
***
"Bagaimana Dihya?" Abah mengajakku bicara saat aku sedang ke kantor Abah untuk meminjam komputer karena laptopku sedang bermasalah. "Apa ada yang Abah bisa bantu?" Abah ternyata sudah bisa membaca kekhawatiran yang menimpaku.
"Pusing bah." Kataku, sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
Bulan ini, tidak terlalu banyak terjemahan yang bisa aku selesaikan. Bahkan bisa dibilang tak ada. Kerja di klinik juga banyak bolongnya, jadi kemungkinan gaji juga akan dipotong separuh. Padahal aku sudah janji akan pindah Ngontrak awal bulan ini
"Apapun masalahnya, terbuka sama istri Dihya. Perempuan itu ketika kita mengakui bagaimana kekurangan kita mereka InshaAllah bisa terima ketimbang kita hanya bisa menjanjikan saja padahal bohong saja untuk menghindari masalah sesaat.." cetus Abah.
"Ya Bah, Dihya paham." Aku mengangguk.
Abah bercerita padaku tentang ia yang menikah dengan umi juga dalam keadaan belum mapan. Tapi berdua Abah dan umi berjuang bahu membahu, memulai bisnis hingga akhirnya jadilah travel umroh Keluarga kami. Itupun sempat mengalami yang namanya pasang surut. Orang tua Dinda yang membantu menyuntikkan dana agar usaha keluargaku bisa tetap berjaya.
"Oh ya, kalau kamu benar-benar butuh teman berbagi, jangan sungkan bicara pada Abah sebab banyak hal yang sudah abah lalui. Abah dan umi juga siap mensuport kalian berdua." Kata Abah sambil menepuk pelan pundakku lalu kembali masuk ke ruangannya Sementara aku melanjutkan mengerjakan tugas kuliah.
__ADS_1
Menjadi kepala keluarga itu ternyata memang seberat itu. Sekarang aku harus berdiri di kaki sendiri. Malu jika harus minta uang kepada orang tua. Selain uang kuliah yang memang aku akui belum sanggup membayarnya.