
Aku dan Dinda baru kembali ke rumah orang tuaku setelah Dinda merasa lebih tenang. Sebenarnya aku sudah mengatakan agar kami kembali ke kontrakan saja, sebab aku tak yakin emosi Umi sudah mereda. Tapi kata Dinda ia tak mau melarikan diri, ia ingin menghadapi masalah ini, bukan menghindari seperti ayahnya.
"Kan kamu sendiri yang bilang, umi kamu sudah jadi umiku juga. Jadi kalaupun umi marah, itu wajar. Keluargaku melakukan kesalahan yang cukup fatal, wajar umi marah, kan?" kata Dinda. Ia memaksakan senyum meski wajahnya terlihat mengguratkan kekecewaan. "Kalaupun kita harus kembali ke kontrakan, harus tetap pamit sama Abah dan umi. Toh motor dan barang-barang juga masih ada yang tinggal di rumah kamu." kata Dinda.
Aku membenarkan Dinda. Makanya, usai jajan bakso, kami naik taksi ke rumah. Sebelum masuk, aku sempat melihat kantor yang ada di sebelah rumah kami persis, diikat dengan tali, bahkan ada yang ditempel tulisan, entah apa, aku tak terlalu bisa membacanya karena terhalang plang yang lain. Namun aku yakin itu bukanlah tulisan yang bagus.
Pintu rumah pun terkunci rapat. Dari jendela terlihat Abah mengintip saat mendengar suara mobil berhenti. Begitu melihatku, Abah langsung membukakan pintu.
"Assalamualaikum." kataku, sambil berjalan masuk menggandeng tangan Dinda yang seketika berubah jadi dingin. "Mi, Bah ... bagaimana?" tanyaku. Kedua orang tuaku duduk berdekatan di kursi ruang tamu.
"Ya begitu Dihya. Kami juga belum berani keluar. Takut kalau tiba-tiba ada yang datang." kata Abah.
"Apa tak sebaiknya kita mengungsi saja?" tanyaku.
"Kemana nak? Apa nggak akan jadi masalah baru? Bagaimana kalau ada yang datang untuk mengabari keberadaan ayahnya Dinda?" ungkap Abah yang menurutku benar juga.
"Mi ... Bah, Dinda mau ngomong." kataku, lalu melirik Dinda.
"Abah, Umi ... Dinda minta maaf atas semua kesalahan Abah. Dinda sangat menyesalinya. Dinda ..." belum selesai istriku bicara, Umi sudah memotong.
"Minta maaf gampang, katakan dulu di mana abahmu!" seru Umi.
__ADS_1
"Mi," aku meminta umi menjaga emosinya. Namun dari wajah umi terlihat betul emosi yang besar. Begitu cepatnya hati berubah, sejak awal begitu sayangnya umi pada Dinda, namun ketika mendapatkan ujian ini, hatinya langsung berubah berisi kemarahan. Begitulah Allah membolak-balik hati manusia. Makanya aku hanya bisa berdoa agar Allah kembali membolak-balik hati umi supaya menyukai Dinda kembali.
"Jangan-jangan ini semua rencana kamu dan Abah kamu ya. Kalian tahu akan dikejar hutang, makanya memaksakan menikah lebih cepat supaya ada ikatan dengan keluarga kami! Sungguh aku tak terima dicurangi begini. Aku sunggu tak terima. Kamu itu putrinya sahabatku, harusnya kebaikan ibumu kamu warisi jangan curang seperti abahmu. Atau jangan-jangan kalian sama saja. Ini adalah jebakan untuk keluarga kami. Baik di awal, supaya dapat jalan menghancurkan kami. Tega kamu!" bentak umi.
"Astagfirullah Umi!" kataku dan Abah bersamaan.
Begitulah perempuan kalau sudah terbawa emosinya, lebih mendahulukan perasaannya. Kebaikan dimasa lalu jadi diragukan.
"Apa? Yang Umi katakan itu pasti benar. Umi sangat yakin ini skenarionya dan ayahnya!" kata umi lagi.
Dinda, mendengar itu hanya bisa menangis. Ia terus menggelengkan kepalanya. Ayahnya memang melakukan kesalahan, tapi ia dan ibunya tak tahu apa-apa. Lalu haruskah ia menanggung semua?
"O, jadi kamu nantangin saya?" Umi semakin meradang meski apa yang dikatakan Dinda sebenarnya benar.
"Mi sudahlah. Dihya dan Dinda pamit pulang ke kontrakan dulu ya. Nanti kita bicarakan lagi kalau kepala sudah sama-sama dingin " pintaku yang gak mau ada banyak kemarahan dan emosi yang dimuntahkan lagi. Biasanya penyesalan selalu datang belakangan.
"Enggak Dihya, umi nggak mau kamu pergi. Biarkan dia pergi sendiri!" titah Umi. "Kamu tetap di sini, biar ia kembali ke rumah orang tuanya. Kamu, tinggalkan saja dia." kata umi, terakhir dengan suara pelan namun begitu menampar.
"Astagfirullah Mi!" Abah langsung bicara, sementara Dinda menangis. "Dosa menyuruh orang bercerai. Paham nggak! Emosi boleh, marah silakan, tapi nggak begini juga. Yang ada bukannya menyelesaikan masalah malah nambah masalah."
"Dihya nggak bisa Mu, maafkan Dihya." kataku. Bagaimana mungkin aku bisa menceraikannya. Tak pernah terpikirkan olehku.
__ADS_1
"Dihya ... kamu pilih umi atau dia? Umi sudah melahirkan, membesarkan dan memberikan semua yang terbaik untuk kamu. Tapi dia, sudah menghancurkan keluarga kita." tangis umi ikut kecah.
Ya Rabb ... aku benar-benar bingung. Bukan karena apa-apa, tapi sangat takut menyakiti salah satu dari dua perempuan ini yang benar-benar sangat aku sayangi
"Mi, Dinda itu istrinya Dihya. Bagaimana mungkin Dihya bisa membiarkan dia sendiri. Dihya juga nggak akan menuruti permintaan umi barusan. Sampai kapanpun Dihya akan bersama Dinda. Umi kan kemarin yang mengatakan agar tak pernah meninggalkan Dinda. Sekarang Dihya sedang melaksanakan titah umi sebelumnya. Jadi mohon umi maafkan Dihya." kataku lagi.
"Dihya ini perintah umi. Aku ibumu. Kamu harus taat padaku!" umi menegaskan sambil mengingatkan kembali bahwa derajat seorang ibu jauh di atas istri. Suami harus menaati ibunya, harus memilih ibunya ketimbang istrinya. "Suruh dia pergi sekarang. Jangan pernah izinkan ia datang ke sini lagi. Umi nggak mau melihatnya Dihya. Nggak mau!"
"Mi, Dinda sedang hamil anak Dihya ... cucu umi dan Abah." aku bicara pelan meski kepala ini sudah teramat pusing dengan kemarahan umi.
Semua orang diam, hanya terdengar Isak tangis Dinda. Tak berapa lama umi berdiri, masuk ke kamar.
"Kita pulang sekarang ya?" kataku pada Dinda yang masih berdiri menunduk di sampingku. "Bah, Dihya pulang ya. InshaAllah besok ke sini selesai kuliah. Kalau ada apa-apa mohon kabari Dihya." pintaku
Aku dan Dinda akhirnya pulang juga. Sepanjang jalan aku masih mendengar suara Isak tangis Dinda. Makanya, aku menarik tangannya agar memeluk pinggangku lebih erat.
Maaf sayang, maaf untuk situasi yang tak nyaman ini. Sudah ku putuskan, untuk menjaga Dinda dan calon anak kami, ia tak akan ku biarkan ikut campur dalam masalah ini. Kesalahan abahnya, ia tak berkewajiban menanggung akibatnya.
"Dihya ... apakah semuanya harus berakhir?" kata Dinda, berbisik bersama dengan suara angin.
"Kamu jangan berpikir apa-apa. Kita akan selamanya bersama!" aku menegaskan sambil memacu motor secepat mungkin. Aku akan memeluknya agar ia tak merasa sedih lagi. Aku sudah berjanji, setelah menikahinya, ia akan kembali jadi Dinda yang ceria seperti sebelumnya.
__ADS_1