Kami Sudah Dijodohkan

Kami Sudah Dijodohkan
Tuduhan-tuduhan


__ADS_3

Usai pemberian hadiah, semua siswa kembali ke kelas masing-masing untuk pembagian ijazah dan pengumuman dari wali kelas masing-masing.


"Dinda ... itu, ujiannya benar kamu yang ngerjain sendiri? Kamu nggak nyontek sama Dihya, kan? Soalnya nggak masuk akal aja sih, kok bisa nilai kamu jauh lebih tinggi dari Dihya dan Amira. Sampai nyingkirin Jingga juga." kata salah seorang siswi.


"Iya, nggak masuk akal sekali. Siswa yang paling bodoh di kelas kok bisa dapat nilai paling tinggi. Ini benar-benar penghinaan untuk kelas kita. Kamu pasti nyontek, kan. Nama kamu kan berurutan sama Dihya. Ayo ngaku saja." timpal yang lain.


Tuduhan demi tuduhan itu dilayangkan pada Dinda. Aku yang berada di pintu masuk melihat ke arah Dinda, berharap ia menyangkal, namun Dinda diam saja. Mengabaikan serombongan teman satu kelas yang tak mempercayai kemampuannya.


"Udah deh, ngaku saja kamu. Pasti kamu nyontek sama Dihya, kan. Harusnya kamu tahu diri Din, otak kamu itu kosong, kok bisa jadi lulusan terbaik pertama. Namanya kamu menghina kami semua yang jelas-jelas jauh lebih pintar dari kamu." ungkap yang lain.


Tuduhan itu lama-lama berubah jadi hinaan yang tak bisa ku terima. Sebagai calon suaminya Dinda, tentu saja aku tak bisa membiarkan calon istriku disakiti seperti itu. Sudahlah menghina, ditambah juga hendak melakukan kekerasan fisik. Makanya aku langsung maju, masuk ke kelas lalu menggrebek meja untuk menunjukkan keberadaanku pada mereka.


"Heh, kalian itu benar-benar tidak punya malu ya. Kalau kalian iri pada Dinda bukan seperti ini caranya. Tapi buktikan kalau kalian bisa melebihinya. Tuduhan tak mendasar itu bisa jatuh jadi fitnah. Nilai yang didapatnya itu benar-benar hasil pencapaian sendiri. Saya tidak pernah memberikan contekan pada siapapun termasuk Dinda. Kalaupun dia dapat nilai lebih dari saya ya itu karena usahanya sendiri. selama tiga bulan terakhir dia belajar dengan keras makanya bisa melampaui saya. Ngerti!" kataku. "Mulai sekarang jangan lagi bicara sembarangan pada Dinda. Jangan mengatainya bodoh karena kenyataannya dia lebih pintar dari kalian. Kalau kalian masih mengatakan dia bodoh berarti kalian jauh di bawah jodoh. Idiot. Paham!" kataku, dengan kesal.


Untungnya wali kelas kami masuk hingga perdebatan dengan anak-anak itu bisa diakhiri. Semuanya kembali ke tempat duduk masing-masing.


Selama wali kelas memberikan arahan, Dinda terus menatap lurus kedepan. Ia sama sekali tak tertarik mengatakan sesuatu padaku padahal aku menunggu-nunggu bisa berbincang lagi dengannya. Dinda yang ceria dan ceriwis sekarang berubah jadi pendiam dan sangat tertutup sekali.


"Din, kamu dipanggil ke depan kelas." aku berbisik pada Dinda, usai wali kelas kami memanggil namanya sebanyak dua kali.


Dinda masih duduk diam. Aku kembali mengingatkan bahwa ia di panggil. Setelah itu seperti baru tersadar, Dinda segera bangkit. Ia berdiri di depan kelas menerima penghargaan dari guru kami. Lalu Dinda diminta menyampaikan sedikit sambutan.


Beberapa detik Dinda kembali diam. Kemudian ia menangis. Air mata itu bisa menunjukkan bagaimana rapuhnya ia saat ini.


"Terimakasih. Maaf ... Maaf kalau apa yang saya capai membuat semuanya kecewa. Terimakasih." Dinda menutup pidatonya dengan suara terbata-bata, lalu izin keluar kelas sambil menahan tsngis. Seisi kelas terdiam, termasuk wali kelas kami.

__ADS_1


Aku benar-benar tak tahan dengan kondisi ini, ingin ku hampiri satu-persatu anak-anak yang tadi menyakitinya dengan kata-kata, tapi membersamai Dinda jauh lebih penting, makanya aku memutuskan izin keluar untuk menyusul Dinda.


Hari ini harusnya menjadi hari paling membahagiakan untuknya. Hari ini ia berhasil mewujudkan keinginan ibunya, namun semua orang malah menuduhnya dengan fitnah yang jahat ditambah kata-kata kasar yang tak patut diucapkan.


"Din," kataku. Menyapa Dinda yang sedang duduk di samping pohon jambu yang ada di belakang sekolah. Ia menekuk lututnya, memandang jauh ke depan. "Kamu luar biasa!" kataku


"Harusnya aku tak menjadi yang pertama. Sebenarnya cukup lulus dengan nilai bagus saja aku sudah senang. Tapi aku mengerjakan soalnya dengan Semangat ditambah doa yang tak putus, makanya Tuhan memberiku nomor satu. Padahal orang-orang menganggap aku tak pantas.


Dihya ... sebenarnya aku juga tak ingin seperti itu. Menjadi gadis bodoh di kelas IPA. Tapi aku hanya berusaha mewujudkan apa yang umi harapkan. Makanya aku memaksakan diri meski taruhannya selalu jadi bahan olok-olok teman-teman.


Aku terluka tapi ku sembunyikan dalam diam agar tak ada yang tahu bahwa aku sakit.


Sekarang setelah umi pergi, aku rasa aku tak butuh semua ini. Aku lelah Dihya. Ingin bersama umi saja." tangisnya pecah.


"Tapi tak ada lagi yang membuatku bersemangat..Umi, yang jadi alasan aku harus jadi juara sudah tidak ada, Dihya. Umi sudah meninggalkan aku padahal aku butuh umi, ia yang membuatku semangat belajar mengejar ketertinggalan ku." kata Dinda.


"Apa aku tak bisa menjadi sumber semangat kamu, Din?" tanyaku.


"Kamu bicara apa Dihya?"


"Umi kamu enggak bilang kalau kita sudah dijodohkan?"


"Hah? Dijodohkan?"


"Ya. Aku dan kamu. Kita sudah dijodohkan."

__ADS_1


Dinda yang semula menangis langsung melongo. Wajahnya berubah bingung. "Kamu sedang mencandai aku?"


"Enggak Din, aku serius. Kalau kamu enggak percaya, nanti tanya Abah kamu saja."


"Lalu?"


"Kamu harus semangat, belajar sungguh -sunggu saat kuliah nanti agar cepat lulus. Aku juga akan berusaha mewujudkan mimpi umi kamu agar bisa segera menjadi dokter."


"Dihya!"


"Din, meski terlambat, tapi aku janji akan berusaha menjaga kamu sebaik mungkin. Aku akan berusaha memberikan yang terbaik untuk masa depan kita. Aku harap kamu berusaha keras, aku pun akan melakukan hal yang sama."


"Dihya!" Dinda kembali memekik. "Ini lelucon apa?"


"Bukan lelucon, tapi inilah yang sesungguhnya!"


"Duh kamu ya. Aku kira kamu benar -benar laki-laki kanebo, dingin dan kaku. Tapi ternyata bisa juga ngelawaknya." mendadak wajah Dinda yang sedih berubah berseri-seri. Ia tertawa kecil dengan apa yang aku katakan.


"Hei, aku serius!" kataku


"Aku masih delapan belas tahun, enggak minat membahasnya!" kata Dinda. Ia hendak bangkit, namun aku hadang.


"Pokoknya aku akan menjaga kamu mulai dari sekarang. Ngerti!"


"Dihya!"

__ADS_1


__ADS_2