Kami Sudah Dijodohkan

Kami Sudah Dijodohkan
Karena Aku Peduli


__ADS_3

"Dinda!" akhirnya aku menemuinya juga. Sengaja menanti di pintu masuk fakultas lebih pagi agar bertemu. Kalau di kirimi pesan pasti dia cuek.


"Dihya?" ia yang semula mau masuk ke fakultas kini menghampiri aku. "Kenapa?"


"Hmmm itu, kamu nggak mau ngomong sesuatu atau nanyain sesuatu padaku?"


"Apa?"


"Ya apa saja. Misalnya pesan yang salah kirim." aku sengaja langsung menembak.


"Aku buru-buru, lima belas menit lagi kuliah dimulai." katanya, seolah tak peduli padahal aku sudah malu hingga pusing tujuh keliling memikirkan cara untuk klarifikasi.


"Oh, berarti ngga penting?" jujur aku kecewa. "Oh ya, selamat atas pernikahan Abah kamu, Din." kataku untuk mengalihkan pembicaraan agar bisa menyembunyikan rasa malu


"Sampaikan saja sendiri pada Abah." kata Dinda lagi. "sudah ya Dihya, aku duluan, kuliah mau dimulai!" dengan cepat Dinda berlalu masuk sambil melambaikan tangannya.


Din ... Kok aku ngerasa kamu berubah?


Aku masih berdiri mematung di depan fakultas Dinda. Rasanya kecewa sekali melihat sikap Dinda barusan yang benar-benar cuek denganku. Padahal aku sudah berusaha bersikap baik padanya.


"Dihya!" Amira, entah kapan ia berada tak jauh dariku. "Kamu sedang apa di sini? Oh, pasti mau nyariin Dinda, ya " Amira berusa memasang senyum. "Mau aku panggilkan?"


"Enggak usah. Ada kuliah kan?" tanyaku


"Kuliah? Oh iya, nanti masih satu jam lagi." jawab Amira.


"Hah, masih satu jam lagi?" aku langsung kesal, kenapa tadi Dinda mengatakan sudah mau mulai kuliah, apa ia menghindari aku?


"Iya. Jadi mau dipanggilkan Dinda atau?" ia menatapku.


"Enggak usah. Aku pergi saja." aku hendak naik ke atas motor ketika tiba-tiba Amira mengatakan sesuatu yang membuatku tak nyaman.

__ADS_1


"Mungkin Dinda buru-buru karena mau ketemu mas Farid." ucap Amira. Mendengar nama laki-laki membuatku bertanya-tanya, siapakah gerangan orang itu? "Mas Farid itu senior kita, Dihya. Mahasiswa tingkat akhir. Beberapa waktu belakangan ini Dinda memang dekat sama mas Farid. Mereka sering ngabisin waktu berduaan. Entah lagi ngapain. Katanya sih diskusi. Tapi enggak tahu juga diskusiin apa." jelas Amira yang sepertinya paham dengan aku yang bertanya-tanya tentang siapa itu Farid


"Oh begitu ya!" aku yang ingin melihat Dinda tapi berusaha keras menahan diri agar tak terbawa perasaan. Namun aku tak bisa menyembunyikan kalau penasaran dengan yang namanya Faris. Orang seperti apa ia hingga bisa mengambil alih perhatian Dinda dariku.


***


Mata kuliah terakhir baru saja selesai. Lucy mengajakku bertemu dengan ayahnya yang kebetulan pulang dari luar negeri. ayahnya hanya sepekan di sini sebelum kembali ke Amerika. Aku sebenarnya ingin berkenalan dengan seorang profesor hebat. ini adalah kesempatan bagus. Siapa yang tak mau punya kenalan seorang profesor terkenal seperti ayahnya Lucy. Tetapi karena penasaran pada Farid, makanya tawaran itu aku tolak.


"Sebenarnya aku ingin ketemu seseorang dari FAI." Kataku pada Lucy. "Barangkali kamu punya kenalan anak fakultas sana yang bisa ditanya -tanya." kataku.


"Aku nggak punya kenalan anak FAI, Dihya. Tapi aku nggak akan keberatan menemani kamu ke sana karena salah satu petugas TU FAI itu aku tahu. Beliau pernah jadi asisten ibuku. Mungkin saja ia tahu mahasiswa yang kamu maksud karena memang kerjanya mengurus administrasi mahasiswa." kata Lucy.


Aku menyambut gembira usulan Lucy. Sambil mengendap-endap agar tak ketahuan Dinda ataupun Amira yang mengenalku, kami menuju ruang TU.


"Tante kenal mahasiswa yang namanya Farid?" tanpa basa-basi, Lucy langsung menembak orang yang aku maksud.


"Farid? Mas Farid maksudnya?" tanya kenalan Lucy. "Itu mas Farid, mahasiswa FAI semester sepuluh." ibu itu menunjuk orang yang hanya berjarak satu meteran dari kami.


Benarkah ini Farid? Tiba-tiba rasa sombong muncul di hatiku. Lelaki seperti inikah yang dipilih Dinda untuk menggantikan aku. Benar-benar bak langit dan bumi.


Lelaki itu, sesuai keterangan ibu TU bahwa ia semester sepuluh, terlihat lebih tua dari kami. yang baru semester dua. Wajahnya sangat jauh dari kata tampan, penampilannya pun biasa-biasa saja. Lalu kenapa ia yang dijadikan pelarian oleh Dinda?


"Ada apa ya?" tanya Farid dengan sopan.


"Enggak ada apa-apa." kataku. Ketika hendak keluar dari ruang TU untuk melarikan diri karena tertangkap basah, di pintu keluar aku malah berpapasan dengan Dinda.


Aghhh!


"Dihya kamu ngapain di sini?" tanya Dinda.


"Dinda kenal mas ini?" tiba-tiba saja mas Farid sudah berada di belakangku.

__ADS_1


Apa yang harus aku jawab? Makanya aku hanya diam mematung. Seperti seseorang yang menunggu eksekusi.


"Iya, dia teman satu sekolah dulu " jawab Dinda.


"Juga calon suami kamu!" kataku, tentunya di dalam hati.


"Oh, ada yang bisa saja bantu mas?" tanya mas Farid dengan sok ramahnya padaku.


"Enggak " kataku. Lalu hendak pergi, namun ditahan oleh Dinda.


"Kamu kenapa nyari mas Farid?" tanya Dinda.


"Kalau kamu mau tau, ikut aku!" kataku. Lalu berlalu menuju taman kampus yang cukup sepi. Hanya Kami berdua. Sementara Lucy entah kemana. Mungkin ia sama bingungnya dengan mas Farid. Tapi aku tak peduli. Harga diriku jauh lebih penting ketimbang semuanya.


"Kenapa Dihya?" tanya Dinda.


"Harusnya aku yang tanya. Kenapa harus laki-laki seperti itu, Din? Laki-laki yang speknya jauh sekali dariku. Kalau kamu mendapatkan yang lebih baik dariku sih aku bisa tenang-tenang saja, Din. Tapi ini ... aghhh, kenapa Dinda?" tanyaku dengan kesalnya.


"Apa sih Dihya?" kata Dinda. Entah benar-benar tidak paham atau hanya pura-pura saja.


"Kamu menghindari aku hanya demi ketemu dia, kan? Amira sudah cerita padaku kalau kamu sering berduaan dengannya. Apa-apaan itu? Benar-benar menjengkelkan!" kataku.


"Oh jadi kamu memakai Amira sebagai mata-mata?" tanyanya.


"Bukan itu masalahnya. Sekarang yang harus dibahas itu adalah tentang si mas mas Farid itu. Kenapa dia Dinda?Apa kelebihan dia dari aku? Lagipula kamu lupa, kita sudah dijodohkan. Setelah pendidikan selesai maka kamu dan aku akan menikah. Tapi kenapa bisa-bisanya kamu dekat dengannya? Apa maksudnya? kamu mau main belakang dariku? Katanya mau jaga diri, tapi ternyata kamu enak-enak dengan laki-laki lain." aku kesal.


"Sombong sekali kamu!" kata Dinda.


"Kenyataannya begitu. Aku lebih tampan dan aku ini calon dokter!"


"Astagfirullah, Dihya. Istighfar!"

__ADS_1


Aku buru-buru mengucap istighfar, menyesali kesombongan yang barusan aku ucapkan. Astagfirullah.


__ADS_2