Kami Sudah Dijodohkan

Kami Sudah Dijodohkan
Ada Apa, Din?


__ADS_3

Harusnya aku beristirahat seperti yang dikatakan Abah, tapi masalah perjodohan membuatku tak bisa memejamkan mata. Otakku dipaksa terus berpikir. Sama seperti umi yang belum juga mau diam, terus membahas abahnya Dinda meski Abah sudah menasihati. Umi masih terus mempersoalkan kecurigaannya yang dianggap Abah berlebihan. Umi memperkirakan semua ini karena pengaruh istri baru ayahnya Dinda.


"Masa belum berapa lama Fifi meninggal tapi mas Hasan sudah menikah lagi, padahal Dinda sudah protes, ia sebenarnya tahu bahwa ayahnya butuh pendamping lagi, ia hanya meminta waktu beberapa bulan lagi tapi Hasan tidak mengindahkan. Seolah-olah dikejar-kejar sekali pernikahannya harus secepat mungkin hingga sekarang jadilah hubungan ayah dan anak itu tidak baik. Padahal kala Fifi masih hidup mereka dekat sekali. Kita yang jadi saksi bahwa Hasan sangat memanjakan Dinda. Ya namanya anak semata wayang. Persis seperti anak kita Dihya." Kata umi lagi.


Umi pada akhirnya baru benar-benar diam tak membahas lagi ketika Abah kembali menegaskan dengan sedikit ancaman.


"Baiklah baiklah. Aku tak akan bicara apapun lagi. Tak akan membahas sahabat abah itu lagi, meski aku merasa Dinda dicurangi. Entah oleh siapa. Tapi yang jelas aku hanya bisa berdoa semoga semuanya baik-baik saja untuk Dinda!" tegas Umi.


"Mi, doanya itu lho!" tegur Abah lagi yang merasa umi masih sepihak.


Saat di kamar. Kini, jemariku mulai aktif mengetik pesan untuk Dinda. Beberapa kali aku mengetik, namun akhirnya dihapus juga. Aku masih merancang kata-kata agar tak salah paham. Masalah perjodohan ini jelas akan sangat sensitif dimajukan seperti ini. Aku memang belum siap, namun tak mau juga kehilangan Dinda. Aku hanya butuh waktu!


[Din, tadi Abah Hasan ke sini, kamu baik-baik saja, kan?] Akhirnya pesan itu yang ku kirim.


[Abah jadi juga ke sana? Maaf Dihya, abaikan saja apa yang Abah katakan. Maaf ya sudah mengganggu, padahal kamu baru sakit, kan?] Balas Dinda.


[Aku sudah enggak apa-apa. Bisa besok ketemu? Aku ingin bicara langsung.]


[Oke. Nanti aku ke fakultas kamu.]


***

__ADS_1


Pukul sepuluh pagi. Selesai mengopi semua mata kuliah yang tertinggal saat sakit, tiba-tiba Lucy menghampiri.


"Dicari calon istri, tuh!" serunya, sambil menunjuk ke arah tempat duduk dimana biasanya mahasiswa beristirahat usai jam kuliah atau sekedar ketemuan dengan teman.


"Oh ya, makasi." Kataku. Lalu buru-buru menghampiri Dinda yang sedang asyik menatap layar Hpnya. "Assalamualaikum!" Kataku padanya.


"Eh, Dihya. Baru mau aku wa. Wa'alaikumussalam Warahmatullaah Wabarakatuh." Jawabnya. "Mau ngomong dimana?" tanya Dinda sambil melihat ke kiri kanan. Sebenarnya di sini cukup nyaman karena tak terlalu ramai, makanya aku mengajak Dinda ke bagian sayap kiri yang lebih tertutup untuk menghindari ketidaknyamanan Dinda.


"Sebenarnya ada apa, Din?" Tanyaku. Aku tak melepaskan pandangan darinya. Gadis manis bergamis merah maroon dengan kerudung warna abu-abu itu tampak risau. "Kenapa semuanya tiba-tiba? Pasti hubungan kamu dan Abah Hasan sedang tidak baik-baik saja." Aku menebak, untuk mempermudah ia bicara.


"Bukan aku sih Dihya. Tapi ... ahhh entahlah. Seperti dulu yang aku katakan padamu bahwa aku memang membutuhkan banyak data dari ustadz Ustadzah di pondok, makanya aku mendekati mas Farid juga. Tapi aku enggak bisa memberi tahu kamu apa yang sebenarnya terjadi, aku takut malah jadi fitnah. Bagaimanapun Abah adalah ayahku. Beliau satu-satunya keluarga yang aku punya saat ini." Ia menunduk. "Dihya, seperti pesan yang aku kirimkan, maafkan kalau Abah sudah mengganggu, apalagi kamu baru sakit. Aku akan meminta Abah untuk tidak mendatangi kamu lagi." Ia menundukkan kepalanya.


Dinda sempat mengangkat wajahnya, kemudian kembali menunduk. "Abah hanya sedang berusaha agar aku tak lagi ada di sekitar kehidupannya." Suara Dinda parau, tak lama aku melihat bulir air mata membanjiri pipinya. "Aku hanya berusaha melindungi apa yang sudah diperjuangkan umi." Ungkapnya.


"Kamu belum ikhlas abahmu menikah lagi." Kataku. "Kamu masih butuh waktu hanya berdua tanpa kehadiran orang lain sebab kamu nggak mau sosok umi Fifi digantikan orang lain." tambahku, mencoba menenangkan Dinda.


"Bukan, bukan aku nggak ikhlas Dihya. Aku tahu Abah masih butuh pendamping hidup apalagi selama ini umi selalu membersamai Abah. Ada ketergantungan Abah pada umi, makanya ketika umi nggak ada, Abah langsung gamang, tapi yang membuatku bingung kenapa harus dengan perempuan itu yang usianya saja jauh di bawah Abah dan kenapa secepat itu juga!" Kata Dinda.


"Din, yang namanya jodoh nggak Mandang usia, status sosial, waktu atau apapun. Kalau Allah sudah tetapkan ya sudah. Berjodoh. Menikah! Kita nggak bisa ngatur-ngatur Allah untuk masalah ini. Harus dengan siapa dan waktunya kapan. Enggak bisa Din. Semua sudah tertulis di lauh Mahfudz. Jodoh Abah dan umimu sudah habis didunia, digantikan oleh ibu tiri kamu yang sekarang. Suka enggak suka ya itulah takdirnya, Dinda."


"Dihya, kamu itu enggak paham. Setelah pernikahan mereka ada banyak kekacauan di pondok yang itu benar-benar tidak aku suka!" Kata Dinda

__ADS_1


"Din, aku hanya menangkap kamu belum siap punya ibu tiri. Kamu nggak rela posisi ibu kamu digantikan orang lain dengan waktu terlalu cepat."


"Enggak, bukan begitu Dihya, kamu enggak paham!" ia terlihat kesal. Mungkin karena pemikirannya dibantah olehku. Makanya Dinda memutuskan untuk pergi meninggalkan aku tanpa kesepakatan apapun.


Aghhh, aku benar-benar bingung. Kenapa perempuan itu apa-apa bawaannya ngambek terus. Belum juga selesai dibahas. Kalau sudah begitu, aku harus bagaimana? Sudah jelas aku belum siap menikah, tapi ia tak mau diajak negosiasi!


[Lupakan apa yang dikatakan Abah. Kamu bebas Dihya.] seperti mengerti perasaanku, tiba-tiba Dinda mengirimkan pesan.


[Din, kita bicara lagi dengan kepala dingin. Aku ada di pihak kamu.] Kataku.


[Enggak. Kamu nggak paham apa yang aku rasakan.] Balas Dinda. [Jangan mengirim pesan lagi karena aku nggak akan baca apalagi membalasnya!] pesan terakhir Dinda.


Seperti yang ia mau. Aku tak mengirimkan pesan padanya meski kepalaku pusing melihat tingkahnya yang seperti anak kecil. Seperti itu mau menikah? Yang ada setiap masalah dia ngambek.


"Sepertinya kalian sedekah tidak baik-baik saja." tiba-tiba Lucy muncul di dekatku. "Maaf Dihya, tadi aku memperhatikan dari depan perpustakaan."


"Ya biasalah." Kataku. "Perempuan, apa-apa ngambek."


"Masa? Nggak semua perempuan kali." Cetus Lucy. Aku sampai melirik kearahnya. "Dikeluargaku, nggak ada yang namanya ngambek-ngambekan. Bisa-bisa ditinggal." Ia tersenyum lebar.


Tanpa sadar, aku malah terfokus kepadanya hingga membandingkan dua orang yang jelas berbeda watak dan karakternya.

__ADS_1


__ADS_2