
Sepekan dirawat di rumah sakit, akhirnya aku pulang juga. Sepanjang perjalanan umi mewanti-wanti agar aku mengurangi segala jadwal kegiatan yang terlalu padat. Bahkan umi mengancam menyuruh cuti satu semester kalau aku tetap kekeuh dengan kegiatan seperti sebelumnya.
"Tenang saja, mi. Dihya itu sudah besar, dia pasti tahu mana yang terbaik untuk dirinya. Sekali sakit ya dimaklumi. Jangan terlalu dikekang. Biarkan dia menikmati masa mudanya dengan kegiatan positif. Harusnya kita bangga lho, mi. Saat anak seusianya dengan status anak tunggal seperti Dihya yang maunya terima beres tapi anak kita enggak. Ya harus didukung. Ya kan nak!" Abah melirikku yang duduk di belakang dari kaca. Aku hanya tersenyum tipis.
"Ihhh nggak bisa begitu. Tetap saja Dihya enggak boleh terlalu porsir. Meski Dihya sekarang sudah besar tapi bagi umi dia tetap anak Umi yang masih kecil!" Tegas Umi.
"Umi ... Umi. Dihya itu bukan bayi lagi dan dia anak laki-laki. Jadi biarkan saja tho!" Ungkap Abah sambil geleng-geleng kepala. Tapi begitulah yang namanya orang tua terutama ibu, meski anaknya sudah besar tetap saja baginya anaknya adalah anak kecil. Akhirnya, sepanjang perjalanan yang ada Abah dan Umi terus berdebat sambil sesekali Abah mencandai umi yang sepertinya belum siap melihatku tumbuh besar menjadi seorang pemuda.
Sampai di rumah, kami dikagetkan dengan kehadiran seseorang yang sudah tidak asing lagi. Om Hasan, abahnya Dinda. Rupanya ia hendak pulang karena rumah kami kosong. Abahnya Dinda sudah memberi kabar ke nomor Abah tapi tak ada balasan karena Abah sibuk mengurus kepulanganku.
"Maaf ya San, tadi itu sibuk ngurusin administrasi kepulangan Dihya, juga nyetir pulang. Tapi untung saja kita bisa ketemu. Memang jodoh itu enggak akan kemana. Ayo masuklah. Ada kabar apa yang membawa ke sini?" Tanya Abah sambil menggiring om Hasan masuk. Aku dan umi mengikuti dari belakang.
"Tak menyapa Vid, harusnya aku menunggu beberapa waktu lagi, sampai Dihya benar-bemar baikan. Tapi ini karena urgent makanya aku beranikan diri datang." Jawab om Hasan. "Ini tentang Dinda." tambahnya. Aku yang semula ingin masuk ke dalam pada akhirnya tak jadi, memilih ikut duduk di ruang tamu untuk mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi. Ditambah Abah dan umi tidak melarang aku ikut nimbrung.
__ADS_1
"Dinda kenapa mas?" Tanya umi yang langsung khawatir.
"Ini ... ia harus segera menikah." Kata om Hasan.
"Menikah? Kenapa? Kan Masin kuliah tahun kedua." Ujar Umi.
"Sebenarnya, sejak aku menikah lagi, kami berdua jadi banyak perselisihan. Bukan hanya sekedar perdebatan biasa, tapi sampai bertengkar hebat. Ia jadi suka menyelidiki pondok, terutama yang diurus oleh ibu tirinya. Semua ustad dan ustadzah diintrogasi hingga tidak nyaman. Aku benar-benar kehabisan akal menghadapinya. Sudah tak sanggup mendidik Dinda. Makanya setelah mengadakan diskusi panjang dengan ibu tirinya ditambah minta masukan dari guru-guru kami, makanya diputuskan untuk menikahkan Dinda saja agar ada yang benar-benar mendidiknya lebih intens. Aku ingat janji kita berempat untuk menikahkan putra putri kita yaitu Dihya dan Dinda, makanya, aku datang ke sini untuk menawarkan pernikahan Dinda dan Dihya dipercepat. namun jika pihak putra tidak menyanggupi pun tidak masalah, kami tak akan memaksa apalagi sampai marah. Kami akan berusaha menerima dengan lapang dada. Akan kami tawarkan putri kami pada pemuda lainnya." Kata abahnya Dinda.
Apa yang dikatakan Abahnya Dinda tentu saja membuatku tak nyaman. Satu sisi, kenapa dengan gampangnya menyerah mengasuh putri semata wayangnya. Seberapa merepotkannya seorang Dinda? Kalaupun ada perselisihan, apa ia sampai separah itu hingga membuat seorang ayah memaksa anaknya segera menikah.
"Ya seperti yang aku katakan di awal. Aku tak akan memaksa Dihya. Kalau ia siap, aku sangat senang sekali sebab bisa melaksanakan amanah almarhumah ibunya Dinda juga. Kalau tidak, kami pun menerima dengan lapang dada dan insha Allah tidak akan merusak hubungan persaudaraan kita." Jawab Abah Dinda.
"Jadi bagaimana Dihya?" Kali ini Abah yang buka suara setelah diam mengamati sejak tadi.
__ADS_1
Aku tak tahu harus menjawab apa. Seperti yang dikatakan Umi, memutuskan menikah harus punya persiapan yang matang, hatinya harus mantap, tidak bisa langsung ditodong seperti ini. Tetapi melepas Dinda untuk laki-laki lain juga aku tak rela sebab aku sudah terlanjur jatuh hati padanya.
"Jadi bagaimana?" tanya Abah lagi.
"Bismillah, jika om Hasan berkenan, saya minta waktu untuk istikharah dulu " pintaku.
"Baiklah, begitu juga bagus Dihya. Om sangat menghormati keputusan kamu. Apapun itu. Kamu anak yang baik, InshaAllah. Om kasih kamu waktu sepekan, semoga bisa lebih cepat dari itu." kata om Hasan, lalu ia pamit pulang.
Setelah ayahnya Dinda pulang, umi langsung membicarakan permasalahan ini. Umi merasa keberatan dengan keputusan om Hasan yang ingin lepas tanggung jawab dari putrinya. Padahal Dinda satu-satunya anak yang ia miliki peninggalan almarhumah.
"Aku curiga, ada sesuatu yang membuat Dinda mencari tahu tentang pondok. Jangan-jangan benar dugaan teman-teman kalau ...." belum selesai umi bicara, Abah sudah menyuruh diam.
"Huss, jangan ngomongin orang lain, apalagi Hasan itu sudah sangat baik sama kita. Saat usaha kita nyaris bangkrut mereka yang membantu. Ingat itu. Lagian umi mau memakan bangkai saudara sendiri? Umi tega?" Kata Abah, membuat umi bersungut-sungut.
__ADS_1
"Umi hanya kasihan saja sama Dinda ... juga Fifi." cetus Umi.
"Kasihan sin kasihan, tapi enggak mengghibah orang juga. Ingat bagaimana Fifi sangat menghormati dan mencintai suaminya. Jangan sampai karena pikiran negatif kita malah membuat semuanya jadi buruk. Semua orang punya batasan kesabaran yang berbeda-beda. Mungkin begitulah dengan Hasan dan istri barunya. Jadi kita hormati saja keputusannya. Sekarang mending kita istirahat saja dulu, sepekan di rumah sakit jenuh juga. Beri juga Dihya ruang untuk memikirkan semua ini agar ia mendapat keputusan yang benar. InshaAllah." kata abah menutup pembicaraan kami.