
[Mau mahar apa?] sebuah pesan pendek ku kirim. Tak berapa lama Dinda membalas.
[Aku tak mau ketemu Abah lagi. Abah ternyata lebih tega dari apa yang aku pikirkan selama ini. Abah sudah enggak sayang aku. Abah lebih memilih perempuan itu. Aku kecewa pada abah!] ia masih saja mempermasalahkan abahnya.
[Ya, nanti setelah nikah tinggal denganku saja.]
[Dimana? Numpang sama Abah dan umi kamu?]
[Mmmm, kamu maunya bagaimana?] harusnya aku tak bertanya seperti itu karena sadar bahwa belum punya tabungan. Tapi demi kenyamanan wanitaku, maka aku akan berjuang!
[Tinggal terpisah.] balas Dinda. Akhirnya aku kena batunya juga. Hanya bisa diam, kira-kira bagaimana caranya mendapatkan uang dengan cara instan mengingat tanggal gajian masih setengah bulanan lagi. [Kok nggak jawab? Keberatan ya? Ya sudah kalau begitu, terserah kamu saja!] balas Dinda lagi
[Enggak keberatan kok, cuma lagi mikir dimana bisa nyari tempat tinggal yang nyaman untuk kita berdua.] kataku.
[Terimakasih Dihya.] ia mengirim emoticon senyum lengkap dengan bunga-bunga.
Begitulah wanita, kalau ia diistimewakan meski sedikit saja sudah bisa membuatnya bahagia.
[Jadi mau mahar apa?] aku kembali menanyakan mahar mengingat waktu pernikahan kami hanya menghitung hari. Sementara persiapan belum ada sama sekali.
[Apa saja, aku nggak masalah.]
__ADS_1
[Perhiasan? Besarnya?]
[Terserah saja Dihya. Aku ikut saja.]
Kami berdua akhirnya bersepakat menikah dengan mahar perhiasan. Awalnya hanya beberapa gram sesuai dengan dana yang aku miliki, tapi umi keberatan. Sebagai anak tunggal, umi juga ingin memberikan sesuatu sebagai kenang-kenangan untuk putra semata wayangnya yang InshaAllah juga hanya sekali ini menikahkan anak. Makanya umi akan menyediakan perhiasan seberat seratus gram yang nantinya akan dibagi dalam bentuk kalung, gelang dan cincin.
"Umi sebenarnya kasihan sama kalian berdua. Tapi ini pilihan kamu Dihya, umi nggak bisa berbuat apa-apa selain ngikut saja." ungkap Umi dengan mata berkaca-kaca.
"Tapi umi ikhlas ya, agar Dihya dan Dinda menjalani pernikahan dengan lancar." kataku.
"Dihya!" air mata umi akhirnya tumpah juga. Perempuan yang melahirkan aku itu menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Aku langsung mengambil umi dalam pelukan. Memeluknya erat. Membiarkan umi menangis dalam pelukanku hingga akhirnya tangis umi reda juga. "Kalian harus Bahagia, ya." pinta Umi, sambil menggenggam erat tanganku. "Kamu umi jaga dengan sangat baik Dihya, sekarang waktunya kamu menjaga istri dan kelak anak-anak kamu dengan sangat baik. Bahagiakan mereka ya Dihya. Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab apapun ujian yang kalian hadapi nantinya. Umi merestui kalian dan doa umi akan selalu mengikuti perjalanan rumah tangga kalian." nasihat umi sambil mengusap kepalaku.
***
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Dinda Annisa binti Hasan Budiman dengan mas kawin yang tersebut, tunai.” aku menjawab lantang ijab yang diucapkan abahnya Dinda.
Dua saksi serentak mengucap sah hingga penghulu mengucapkan hal yang sama.
Hari ini, detik ini, aku telah mendapatkan tanggung jawab baru sebagai suami dari Dinda Annisa. Segala tanggung jawab ayahnya telah berpindah ke pundakku. Tak terasa, air mataku ikut tumpah bersamaan dengan umi yang menggenggam erat tanganku.
Tak berapa lama Dinda keluar memakai gaun panjang syar'i berwarna putih. Ia menunduk, meski begitu aku bisa melihat wajahnya dengan polesan make up tipis namun sukses membuatnya semakin cantik.
__ADS_1
Dinda kini berada di depanku. Ia meraih tanganku yang terulur di depannya.
"Assalamualaikum istriku." aku berbisik pelan didekat telinganya agar wajah Dinda yang terlihat tegang bisa tersenyum. "Sekarang kita sudah menjadi suami istri, ayo bahagia bersama!" kataku lagi.
Dinda tak menjawab apapun. Ia masih diam, menatap ke depan, ke arah fotografer yang mengambil gambar kami berdua
Dinda ... apa yang kamu pikirkan hingga terlihat begitu tegang.
Usai berfoto, tibalah waktunya untuk sungkem. Aku yang duluan, sungkem pada Abah dan umi, diikuti oleh Dinda. Setelah itu giliran bersalaman pada Abah dan ibu tirinya Dinda. Saat itu, Dinda terlihat marah. Ia bahkan tak mau bersalaman dengan ibu tirinya. Orang-orang yang ada di sana seolah mengerti bagaimana suasana hati Dinda, makanya tak ada yang memaksa Dinda agar mau bersalaman dengan perempuan yang kini menggantikan posisi ibunya.
Selesai sungkem, satu-persatu anggota keluarga besar dari pihakku dan pihak Dinda menyalami kami. Paman dan bibi dari pihak Uminya Dinda memeluk istriku dengan erat. Mereka menangis. Mungkin haru juga teringat akan ibu kandungnya Dinda yang juga saudara mereka.
"Andai ibumu masih ada, nasibmu tak akan seperti ini. Sayangnya Tuhan mengambil adikku lebih cepat hingga keponakan kami satu-satunya yang ia tinggalkan harus menjalani segala hal yang tidak menyenangkan seperti ini." bibi Ani, kakaknya umi Dinda memeluk Dinda. Ia memang paling dekat dengan keponakannya, makanya terlihat paling sedih saat tahu pernikahan kami dipercepat dan tanpa acara apapun selain hanya akad dan makan-makan sederhana.
"Bibi ... aku rindu umi!" tangis Dinda semakin menjadi.
Aku mencoba meraih Dinda karena suasana semakin tidak kondusif.. Sindiran-sindiran terus meluncur dari mulut keluarga Dinda dari pihak Uminya. Mereka tetap tak bisa terima dengan acara seperti ini mengingat ibunya Dinda juga punya banyak simpanan saat masih hidup, bahkan uminya Dinda juga ikut berjuang demi kemajuan pondok pesantren. Tapi kenapa setelah kepergian umi Fifi, abahnya seolah ingin menyingkirkan Dinda dari sini.
"Din, sudah." aku mengingatkan. Tapi Dinda tak peduli hingga akhirnya abahnya Dinda angkat suara.
"Baiklah, karena akad sudah berlangsung, tugas kami sebagai orang tua Dinda sudah selesai dan aula ini akan dipakai ba'da Ashar nanti untuk kegiatan pondok maka acara ini kami sudahi. Bagi saudara-saudara yang sudah selesai makan bisa langsung kembali ke rumah kami, yang belum makan silakan dipercepat." ucap Abah Hasan dengan tegas.
__ADS_1
"Ya Allah Hasan!" bibi Ani memekik. Ia geleng-geleng kepala. Namun yang dipanggil tak peduli, melenggang meninggalkan semua tamu-tamu yang diundang termasuk Abah dan umi yang baru resmi jadi besannya.
Tak mau terbawa emosi meski sebenarnya aneh juga dengan sikap Abah Hasan, makanya aku segera ke meja makan tempat makanan di hidangkan. Berdua dengan Abah yang mengikutiku, kami makan meski dengan hati campur aduk. Sementara kaum wanita masih sibuk mencak-mencak. Termasuk umi.