Kami Sudah Dijodohkan

Kami Sudah Dijodohkan
Akhirnya Pindah Juga


__ADS_3

Hari yang ditakutkan umi dan ditunggu-tunggu Dinda akhirnya datang juga. Dimana kami akhirnya pindah. Abah dan umi ikut mengantar, membantu menata kontrakan yang hanya terdiri dari tiga ruangan. Ruang tamu, kamar dan dapur yang dibagi dengan kamar mandi. Melihat itu umi sampai bergumam, niat awal ingin ikut menginap tapi karena tak ada tempat makanya tak jadi. mendengar itu Dinda langsung bernafas lega. Di sana aku jadi tahu, sebenarnya Dinda tak terlalu nyaman nyampur dengan mertua. Entah apa alasannya, namun yang jelas itu biasa terjadi, kan, dan sebaiknya memang rumah tangga itu masing-masing.


Abah dan umi membelikan perabotan sederhana. Mulai dari kasur, peralatan masak, bahkan kulkas dan mesin cuci juga. Kata umi, supaya Dinda tak berat nyuci nantinya. Tak lupa umi memesankan setrikaan uap, untuk meringankan beban Dinda.


"Sebenarnya umi pengen beliin robot bersih-bersih, bagaimana Bah?" umi melirik Abah yang baru selesai membantu menata kasur.


"Hah, oh ya terserah saja. Abah mana paham itu. Kalau butuh ya dibelikan saja." Jawab Abah sambil kipas -kipas karena gerah.


"Apa sekalian dengan AC juga, biar Dihya dan Dinda nggak kegerahan?" tanya umi lagi


"Eh sudah sudah mi. Ini malah nantinya barang-barang disini lebih lengkap ketimbang di rumah abah dan umi." Kataku. "Robot bersih-bersih dan ACnya enggak perlu. Dihya dan Dinda masih sanggup beberes kok. AC juga nggak terlalu mendesak. Di sini nggak panas-panas banget. Kalau panas masih bisa kipas manual lah." Aku menunjuk buku untuk mengipasi Abah yang kepanasan.


"Tapi ...." Umi nampak bimbang.


"Iya mi, enggak usah saja. Kita belum butuh itu. Nanti kalau kebanyakan barang-barang, rumahnya jadi sempit, nggak nyaman untuk bolak-balik." Kata Dinda.


Umi nampak berat, lalu melirik perut Dinda yang spontan membuat kami melirik ke arah yang sama.


"Ohhh enggak kok mi, belum!" Dinda yang paham langsung menegaskan. "Ini karena sembelit dan kebanyakan makan!" Ia tersenyum lebar, berusaha mengusir tatapan-tatapan itu.


"Memangnya kenapa?" tanyaku, polos.


"Enggak apa-apa!" Dinda melotot, memberi isyarat agar aku tak melanjutkan pembicaraan ini, sementara Abah dan umi memandang kami bingung.

__ADS_1


Aku baru menyadari, bisa saja apa yang dipikirkan umi benar melihat Dinda yang dua pekan belakangan tampak sensitif, mengalami mual juga meski bisa dikendalikan.


Tapi karena Dinda sudah menutup pembicaraan makanya tidak ada yang melanjutkan. Semua memilih diam dengan pikiran masing-masing sambil melanjutkan pekerjaan yang masih belum selesai.


***


"Umi kenapa ya begitu?" Tanya Dinda, setelah Abah dan umi pergi, kami berdua juga sudah mandi setelah selesai Beberes.


"Begitu bagaimana?" Aku balik tanya. Sambil leyeh-leyeh di sampingnya.


"Tadi itu, kenapa umi ngelirik perutku, seolah-olah aku ini lagi ...." ia memainkan ujung rambutnya sambil mengelus perutnya yang memang tak selangsing di awal menikah.


"Apa?" Kami berdua saling pandang. Lalu diam dengan pikiran yang sama persis. Sebagai calon dokter tentu aku paham tentang masalah reproduksi manusia. Begitu juga dengan Dinda juga paham dari pengetahuan. "Apa jangan-jangan kamu hamil?" tanyaku.


"Ngaco, nggak mungkinlah. Kita kan Masih kuliah!" Dinda cemberut. Ia berusaha meyakinkan bahwa apa yang kami pikirkan itu tidak benar meski sebenarnya kami yakin benar.


"Duhhh jangan nakut-nakutin deh. Sudah mau ujian nih. Masa iya positif. Bisa kacau semuanya!" Dinda makin manyun.


"Ke dokter saja supaya di tes." Aku mengusulkan. Awalnya Dinda keberatan, tapi kami berdua yang tak suka tebak-tebakan akhirnya memutuskan untuk memastikan dengan melakukan tes secara mandiri. Awalnya berniat istirahat akhirnya keluar rumah berdua menuju apotik untuk membeli tespek.


Waktu aku mau turun, Dinda menarik bajuku. Ia menahan agar aku tak masuk ke apotik karena sedang banyak pengunjungnya. Dinda mengaku malu, ia takut kalau orang-orang di sana berpikir kami hamil duluan. "Pokoknya nunggu sampai apotiknya kosong dulu!" Tegas Dinda.


"Iihhh keburu malam." Kataku. "Lagian nggak apa-apa kali, kita nggak bisa mengendalikan pemikiran orang agar sama dengan apa yang kita mau. Yang jelas kita enggak melakukan kesalahan, jadi nggak perlu berprasangka seperti itu!" Kataku.

__ADS_1


"Pokoknya aku nggak mau." Dinda tetap bersikeras. Ia malu


"Ya sudah aku yang masuk sendiri. Kamu tunggu di sini." Kataku. Sebenarnya sikap Dinda yang mencolok seperti itu yang mengundang perhatian banyak orang. Harusnya tenang saja, seperti yang aku katakan. Toh kami tidak sedang melakukan sesuatu hal yang terlarang. Kami sudah menikah, jadi kalau hamil ya itu wajar!


"Dihya ... kalau ada yang nanya jangan sebut namaku ya!" Pinta Dinda.


"Dasar bocah, makanya kalau nggak mau hamil ya jangan ngelakuin!" Aku memencet hidungnya, lalu berlalu menuju apotik. Saat bertransaksi, aku sempat melirik Dinda. Istriku itu terlihat aneh, ia membalut ujung kerudung ke wajahnya, melirik ke kiri kanan, mungkin memastikan tak ada yang mengenal kami. Padahal kami sudah menikah, kalaupun benar itu bukan aib!


***


Sudah dua puluh menit Dinda di kamar mandi, tapi ia belum juga keluar. Menurutku ini terlalu lama untuk melakukan sebuah tes yang cukup praktis. Makanya aku kembali mengetuk pintu untuk kesekian kalinya dan ia kembali menjawab "Sebentar!"


"Ya sudah buka saja pintunya supaya aku bisa membantu kamu!" Kataku.


"Aku nggak butuh bantuan!" Ia membalas.


Sabar ... sabar Dihya. Aku berusaha menahan diri agar tak terus-menerus mengetuk pintu. Ingat pesan umi, perempuan itu semakin didesak dan ketika ia terdesak maka akan menjadi masalah baru nantinya. Lebih baik jadi suami yang sabar. Makanya aku memilih menunggu dan benar saja, hanya lima menit setelah itu akhirnya ia keluar dengan ekspresi kebingungan.


"Entah apa artinya." Kata Dinda. "Diketerangan nggak ada penjelasan sedikitpun." Lanjutnya. Ia tampak uring-uringan.


"Sini lihat," aku mengulurkan tangan, meminta tespek yang tadi ia bawa. Harusnya kalau tidak tahu segera keluar, bukannya bertahan di dalam. Memang akan ada wangsit?


Ragu-ragu Dinda memberikan. Setelah ku lihat, di sana ada dua garis. Satu jelas dan satu lagi sangat samar. Besar keyakinanku bahwa ini positif, tetapi untuk kepastiannya makanya ku ajak Dinda ke dokter kandungan. Ia yang awalnya ogah-ogahan namun setelah mendengar penjelasanku akhirnya setuju juga.

__ADS_1


"Tapi nggak akan apa-apa, kan?" ia tampak bimbang.


"Yang jelas, apapun hasilnya, InshaAllah itulah yang terbaik. Kita bersiap saja. Ya?" kataku, sambil mengusap pelan kepalanya.


__ADS_2