
Aku menatap layar Hp, berharap ada balasan pesan dari Dinda, tapi sampai sekarang, balasan itu tak kunjung datang. Padahal sudah lewat dari lima jam aku kirim, ia hanya membacanya tanpa memberikan balasan. Padahal dua hari kedepan libur kuliah, artinya aku tak bisa ketemu dengannya. Aghhh, ini benar-benar sangat menyiksa!
Hanya perkara terlambat satu jam ia jadi ngambek seperti ini. Lagipula kalau ditelusuri yang salah duluan itu adalah Dinda, jadi harusnya aku yang marah, bukan dia.
Dasar Perempuan!
Ku pikir Dinda berbeda dengan kebanyakan perempuan lainnya yang suka ngambekan. Ia yang dahulunya saat SMA terkenal ceria dan cuek meski diperlakukan buruk oleh teman-temannya ternyata sama saja. Tebang pilih!
[Nggak adil, hanya karena perkara terlambat satu jam kamu nyuekin aku seperti ini. Pesanku ga dibalas. Aku kira kamu beda, ternyata sama saja!] pesan itu ku kirim lagi pada Dinda.
Tak butuh waktu lama, ia membalasnya.
[Oh, jadi kamu nyesal dijodohkan sama aku? Kamu berharapnya aku seperti apa? Diam saja waktu kamu telat, kamu makan bakso enak-enak aku nunggu sendiri!] balas Dinda.
[Siapa yang makan bakso enak-enak, aku makan bakso untuk ntraktir Lucy.]
[Lucy siapa?]
[Teman. Mahasiswi kedokteran juga. Satu angkatan. Dia sudah membantu aku dapat kerja tambahan dan ngasih diktat gratis. Makanya aku traktir bakso sebagai ucapan terimakasih.]
[Wow, Dihya Azizi ternyata makan bareng cewek. Aku kira kamu beda dari cowok -cowok lain, ternyata ....]
__ADS_1
[Apa sih Din?] satu menit, dua, tiga hingga sepuluh menit. Dinda nggak membalas pesanku. Aku langsung frustasi, mengirimkan beberapa pesan lagi, tapi tetap nggak dibalas. Saat ku telepon, ia sengaja menolak panggilan dariku. Dinda, kamu sudah membuat hatiku nggak tenang.
***
Kesal, Dinda belum juga memberikan balasan. Padahal aku sudah menunggu -nunggu. Gara-gara itu jadi nggak enak makan, minum dan tidur. Hanya bisa galau, bolak-balik, naik turun tangga hingga Umi yang sedang ngaji menegur karena terganggu dengan aku yang terus naik turun tangga.
"Kamu kenapa sih nak. Dari tadi resah sekali. Nggak bisa diam. Kenapa? Ada masalah? Ngomong sama umi." kata umi.
"Itu ... Umi pengen ngasih sesuatu untuk Dinda, nggak? Nanti biar Dihya yang anter." kataku. Ide untuk datang ke rumahnya muncul begitu saja, tapi kalau aku datang tanpa ada keperluan apa-apa selain klarifikasi nanti khawatirnya Dinda malah menghindari aku.
"Nggak ada. Kenapa tho? Kamu nggak lagi berantem sama Dinda, kan?" umi cepat menangkap masalah yang sedang aku alami. "Dinda itu lagi banyak masalah Dihya, jadi jangan tambah pikiran dia lagi. Oh ya, soal perjodohan itu ... Jangan dibahas dulu. Kalian kan belum siap nikah, masih mau kuliah dulu, kecuali kalian besok siap nikah!" umi menegaskan.
Aku hanya mengangguk. Lalu kembali ke kamar. Ya, harusnya tak membahas apapun dulu tentang perjodohan itu jika memang belum siap dengan pernikahan.
Juga tentang masalah yang dihadapi Dinda. Masalah apa? Kenapa ia tak cerita padaku? Padahal kan aku ini calon suaminya. Ia tahu aku peduli padanya. Atau jangan-jangan ia memang tak menganggap aku?
[Din, aku mau ketemu.] kataku, mengirim pesan untuk Dinda.
Ia tak membalas. Panggilan dariku juga diabaikan. Akhirnya terpaksa aku biarkan. Meski perasaanku campur aduk
***
__ADS_1
"Berarti kamu benar-benar suka sama Dinda, ya?" tanya Ical, salah satu teman sejak SMP. Kala aku menjabat sebagai ketua osis, ia sebagai ketua rohis. Aku memutuskan curhat padanya sebab ia teman yang menurutku paham agama dan kami cukup dekat PM
Aku diam. Suka atau enggak suka, yang jelas aku peduli padanya. Ingin tahu segala hal tentangnya. Apakah ia baik-baik saja atau tidak. Kalau ia senang aku ikut senang, kalau ia sedih aku kepikiran dan ingin membantunya setidaknya memberikan solusi untuk masalahnya.
"Itu namanya sudah jatuh cinta, Dihya. Hmmm, aku sih nggak tahu bagaimana Dinda karena belum pernah sekelas dengannya. Hanya sebatas tahu ia satu angkatan dengan kita. Jadi enggak bisa menilai juga apakah ia juga punya perasaan yang sama. Tapi yang jelas kalian sudah dijodohkan, jadi ya sudah ada satu jalan untuk bersatu dalam ikatan pernikahan. Tapi ya ku harap kamu bisa jaga diri dan hati yang terutama. Seperti yang umi kamu katakan, kalian belum sah. Hanya sebatas dijodohkan belum tentu juga jadi jodoh." kata Ical.
"Lalu aku harus bagaimana? Sudah terlanjur care sama dia tapi dianya cuek." aku mendengus kesal.
"Aku sih yakin kamu tahu harus melakukan apa. Ya tetap harus jaga jarak Dihya. Bagaimanapun kalian belum halal. Supaya tidak menggangu pikiran ada baiknya mulai sekarang berhenti dulu berinteraksi karena aku lihat pengaruh Dinda besar juga dalam hidup kamu. Yakin saja, kalau kalian berjodoh pasti akan bersama di waktu yang tepat nanti " katanya lagi.
Perbincangan kami ini membuatku tersadar kalau beberapa waktu ini interaksi kami memang sudah sangat berlebihan. Kalau mau mengikuti hati memang inginnya dekat-dekat dengannya, terus berkabar, bahkan tak mau ketinggalan informasi tentangnya meski hanya sedetik. Tapi kembali lagi, ia belum halal untukku.
Aku yang harus bersikap. Aku harus menjaga jarak dengannya. Aku yakin, hidup Dinda akan baik-baik saja tanpaku begitu juga sebaliknya sampai waktu yang tepat. Mungkin sekitar lima tahunan lagi, saat aku lulus menjadi dokter maka aku akan menikahinya.
***
Jam kuliah baru saja berakhir. Aku hendak ke klinik melanjutkan kerja partime yang sudah kulakoni sejak sepekan ini.
Hari ini ada jadwal tes gula darah, tensi dan asam urat. Selain mendapatkan pendapatan tambahan, aku juga bisa mendapatkan pengalaman bagaimana menghadapi pasien juga sharing dengan dokter jaga di sini.
Motor milikku melaju menuju klinik yang memang harus melewati fakultas Dinda. Saat itulah aku kembali di uji sebab ketika aku jalan; Dinda melintas bersama teman-temannya. Aku tetap melaju seolah tak melihatnya. Dari kaca spion, aku bisa melihat Amira yang juga berjalan bersama Dinda melihat ke arahku.
__ADS_1
Din ... ini memang akan sangat berat, tapi maaf jika kita harus jaga jarak dulu. Kamu, begitu merajai hati dan pikiranku dan itu bisa merusak hatiku. Aku tak mau Tuhan marah kepada kita karena terus memelihara perasaan yang belum halal.
Din, aku menyukaimu. Aku sangat menyayangimu, aku ingin kamu menjadi istriku. Tapi tolong bersabar ya Din, setidaknya sampai aku memenuhi janjiku menjadi seorang dokter agar impian ibumu tercapai punya anak atau mantu dokter.