
Menjadi kepala keluarga itu tak mudah, tapi seberat apapun harus terus dipikul. Semua kewajiban harus dilaksanakan dengan baik.
Aku baru selesai mengurus surat cuti kuliah. Rencananya satu semester saja. Aku berharap bisa dapat uang yang banyak atau beasiswa agar bisa segera menyelesaikan kuliah.
Di tempat lain, Dinda juga sedang mengurus surat-surat cutinya. Kami memang janjian mengurus secara bersamaan. Nanti pulangnya aku yang akan nyamperin di fakultasnya agar ia tak terlalu lelah jalan kaki ke parkiran.
Setelah selesai, aku hendak ke klinik untuk mengajukan surat pengunduran diri. Kerja di sana memang harus minimal status mahasiswa aktif. Kalau cuti maka tidak bisa nyambi di sini, makanya aku harus merelakan bekerja sambil belajar di sini. Untungnya, sebagai ganti, aku sudah mendapatkan pekerjaan sampingan yang gajinya InshaAllah cukup untuk kebutuhan hidup kami berdua sehari-hari dan masih bisa ditabung sedikit demi sedikit.
"Dihya!" seseorang memanggil. Lucy, ia rupanya sudah kembali. Lucy mengejarku. "Benar kamu cuti?" tanyanya.
"Ya. Kamu apa kabar? lama tak ketemu " kataku.
"Dihya, apa kamu baik-baik saja?" ia tampak khawatir.
"Ada sedikit masalah dengan ekonomi. Usaha orangtuaku sedang diuji. Makanya aku cuti satu semester dulu "
"Mau aku bantu?"
"Nggak usah Cy, aku mau berusaha sendiri dengan kaki sendiri agar kelak anakku bangga!" kataku.
"Anak?"
"Ya, InshaAllah aku akan punya anak secepatnya. Istriku sedang mengandung anak kami."
"Oh," ia tampak tidak nyaman.
"Cy, kayaknya aku harus segera ke fakultasnya, istriku menunggu." aku hendak naik ke motor.
__ADS_1
"Kamu sangat mencintainya?"
"Ya tentu saja." aku tersenyum. "Sudah ya?" aku melambaikan tangan, lalu memacu motor menuju fakultas Dinda.
Sudah hampir satu jam aku menunggu, tapi Dinda tak kunjung keluar. Aku pun sudah menghubungi namun nomornya tidak aktif. Sepertinya ia lupa mengisi baterai HP-nya. Malah pesan-pesan dari Lucy yang masuk.
[Dihya, meski sakit, tapi aku senang kalau kamu bahagia. Aku belum pernah melihat kamu sebahagia ini. Mulai hari ini aku akan mengikhlaskan kamu, berbahagialah dengan istrimu. Namun satu yang aku minta, jangan putuskan persahabatan kita. Tetaplah jadi Dihya yang dulu, yang dekat denganku. Menganggap aku sebagai temanmu. Berbagi cerita denganku.] pesan dari Lucy.
Sebenarnya ada beberapa pesan lagi darinya. Namun hanya ku bawa di awal, sebab isinya sama saja. Setelah itu langsung ku hapus
Aku ini lelaki yang sudah menikah. Ada hati istriku yang harus aku jaga. Hati perempuan yang sebentar lagi akan memberiku seorang keturunan. Bagaimana mungkin aku bisa membuatnya tidak nyaman. Yang namanya perempuan itu hatinya sangat rentan sekali. Bisa dengan mudahnya cemburu meski pasangannya tak melakukan apapun. Tapi begitulah hati wanita. Apalagi yang sedang hamil. Makanya aku memutuskan untuk menghapus dan tak membalas apapun. Tak penting juga.
Banyak sekali rumah tangga hancur karena adanya balas-membalas pesan. dimulai dari pertemanan, saling curhat berujung affair. Akhirnya rumah tangga rekat. Nauzubillah, aku tak mau rumah tanggaku bernasib sama. Apalagi kami masih sama-sama muda, masih sama-sama labil. Jadi harus sama-sama menjaga.
Sudah dua jam. Dinda belum juga terlihat. Khawatir terjadi sesuatu dengannya makanya aku buru-buru masuk, mencarinya, memastikan ia baik-baik saja.
Pada beberapa mahasiswa yang ternyata kakak angkatan Dinda, aku mempertanyakan istriku. Tapi bukannya mendapatkan jawaban, malah digenitin. Sungguh sialnya aku saat ini.
Kenapa mudah sekali mereka menjatuhkan harga diri sendiri.
Tak mau meladeni, aku memilih pergi tanpa pamit agar mereka paham sikap mereka sangat tidak sopan.
Tak mau bertanya lagi karena tak mau diperlakukan dengan tidak baik, akhirnya aku mencari sendiri. Celingak-celinguk hingga ketemu seseorang yang sudah cukup lama tak berjumpa.
"Ya ampun Dihya!" Jingga, teman satu kelas itu langsung menghampiri. "Ihh sejak jadi mahasiswa kedokteran, ketampanan kamu meningkat seratus persen. Aku sampai pangling. Tapi sayang kamu sudah nikah, nggak bisa lagi deh jadi incaran." ia cekikikan.
Meski sama-sama tidak suka diginiin, tapi aku tetap merespon Jingga karena sudah kenal ia sejak lama.
__ADS_1
"Kamu lihat istriku, nggak?" tanyaku.
"Dinda?" ia balik bertanya.
"Ya iyalah, siapa lagi."
"Hehehe, mana tau mau poligami? Tapi aku sih nggak mau kalau jadi yang kedua meski aku senang sama kamu Dihya. Aku penganut satu untuk selamanya." ia tergelak. "Mungkin Amira tuh mau jadi yang kedua." ia menunjuk Amira yang datang menghampiri.
"Dihya, nyari Dinda ya? Sudah pergi sejak tiga jam lalu." kata Amira.
"Pergi, kemana?" aku bingung. Tadi janjian cuma ngurus surat izin cuti di fakultas masing-masing, setelah selesai aku akan menjemputnya.
"Entah. Tadi ada yang jemput naik motor." kata Amira.
Rasanya nggak nyaman sekali mendengar keterangan Amira. Kemana ia pergi? Kalaupun mau pergi kenapa nggak mengajak aku saja? Siapa juga orang yang mengajaknya?
"Tenang saja Dihya, nggak mungkin Dinda ngapa-ngapain. Dapatin kamu harusnya ia bersyukur. Masa mau berpaling ke yang lain. Itu sama saja membuang berlian untuk batu kali." lagi-lagi Jingga terkekeh.
Usai mendapatkan keterangan, aku memutuskan menunggu Dinda sampai Ashar di kampus. Tapi ia tak kunjung muncul. Membuatku benar-benar resah. Khawatir terjadi sesuatu yang buruk padanya mengingat kondisinya saat ini. Sedih karena abahnya, lemah karena sedang hamil muda.
"Din, kamu dimana sih?" karena sudah azan makanya aku memutuskan salat di masjid kampus. Aku sampai salat cepat-cepat, tak ikut jamaah karena takut saat ia kembali tapi aku nggak ada di sana. Ya, sebucin itu aku padanya saat ini.
Sayangnya, hingga Maghrib Dinda tak kunjung muncul. Mahasiswa pun mulai pulang, kampus semakin sepi. Hanya ada beberapa yang sedang rapat organisasi atau kegiatan ekstrakurikuler. Tapi aku tetap tak beranjak dari depan fakultas Dinda, di tempat kami janjian.
"Dihya!" tiba-tiba seseorang memanggilku. Orang yang aku tunggu, yang membuatku gelisah. Khawatir dengan kondisinya. "Kamu masih di sini? Kenapa enggak pulang?" katanya.
Saat kami dekat, aku langsung meraihnya dalam pelukan. Tak peduli dengan tatapan mata yang masih lalu-lalang. Yang penting aku bisa memeluk istriku dan yakin kalau kondisinya baik-baik saja.
__ADS_1
"Kamu enggak apa-apa?" tanyaku.
"Dihya aku ...." belum selesai ia bicara, aku kembali memeluknya dengan lega. Ia baik-baik saja. Semoga seterusnya seperti itu.