Kami Sudah Dijodohkan

Kami Sudah Dijodohkan
Izin Pindah Ngontrak


__ADS_3

Makan malam ini rasanya agak beda karena setelah selesai aku harus minta izin pada kedua orang tuaku bahwa kami akan pindah ke kontrakan. Memang tempatnya belum pasti dimana, tapi Dinda mendesak agar aku izin sejak sekarang agar nanti saat awal bulan tak perlu diundur lagi dengan alasan terlalu dadakan izinnya. Sepertinya keinginan Dinda untuk pindah sudah bulat, padahal ku lihat di rumah ini ia dan umi biasa saja, tak pernah ada konflik meski sebenarnya memang lebih baik rumah tangga itu misah.


"Mi ... Bah. Dihya mau bicara sebentar boleh, ya?" Kataku, setelah semuanya selesai makan dan dua perempuan istimewa di hidupku itu mulai membereskan meja makan. Umi yang mendengar langsung kembali ke tempat duduk, sementara Dinda terus melanjutkan pekerjaannya.


"Kenapa?" tanya umi.


"MMM, Dihya mau minta izin sama umi dan Abah. InshaAllah awal bulan Dihya dan Dinda mau pindah." Kataku.


"Pindah?" seperti dugaanku, umi langsung bereaksi yang kurang setuju. Mempertanyakan kenapa harus pindah segala? Apa salahnya tinggal di sini? Rumah ini terlalu besar kalau hanya diisi oleh Abah dan umi. Perempuan yang melahirkan aku itu keberatan dengan rencana kami, ia ingin kami tetap tinggal bersama dengannya. Bahkan umi sampai minta maaf kalau ada sikapnya yang membuat kami terutama Dinda merasa tidak nyaman. Mendengar itu giliran Dinda yang jadi sungkan, ia sampai bersumpah kalau umi adalah mertua yang menyenangkan. Rencana pindah itu tidak ada kaitannya dengan kenyamanan. Sementara Abah santai saja mendengar obrolan kami bertiga. "Ya sudah, kalau nyaman di sini saja sih." pinta Umi yang langsung membujuk Dinda karena sepertinya umi berkeyakinan kalau bisa menahan Dinda maka masalah pindah ini selesai.


"Umi dan Abah kan dulu waktu menikah juga memutuskan untuk pindah rumah. Pisah dari tempat tinggal orang tua masing-masing karena memang sebaiknya rumah tangga itu masing-masing. Dihya dan Dinda ingin belajar mandiri. Belajar memahami satu sama lain. Menghadapi segala masalah hanya berdua agar kelak kami bisa dewasa dan kuat jika saya dah dikasih rezeki keturunan." Kataku, mencoba menjelaskan sedewasa mungkin.

__ADS_1


"Ya orang tua umi dan Abah kan punya anak-anak yang lain. Sementara kami hanya punya kalian. Kalau kalian pindah lalu siapa yang menemani kami?" wjaha umi langsung mengguratkan kesedihan, sebenarnya aku tak tega namun harus tegar demi rumah tangga kami. "Jadi jangan pindah ya Dihya, Dinda. Umi janji deh ngga akan pernah ikut campur urusan rumah tangga kalian. Umi juga nggak bakal mengganggu apalagi mengusik kalian. Memang selama beberapa hari ini umi mengganggu kalian kah? Apa kalian tidak nyaman sama umi dan Abah? Maafkan ya, umi dan Abah sudah tua, kalau ada salah-salah diberitahukan saja, kami tak pernah bermaksud menyakiti kalian. Sungguh!" kini tangis umi pecah. Pertahanan ku langsung luluh lantak. Mana tega aku melihat umi seperti ini. Dinda pun sama, ia langsung menunduk tak enak hati, bahkan matanya pun berkaca-kaca.


"Hmmm," Abah berdehem. "Mi, jangan seperti itu. Kasihan anak-anak. Mereka bukan tak nyaman dengan Kita, tapi sedang belajar. Harusnya kita dukung Dihya dan Dinda, mi. Benar apa yang dikatakan Dihya. Mereka harus mulai belajar mandiri, menata semuanya berdua. Saling mengandalkan satu sama lain, bukan orang lain karena rumah tangga yang mereka bangun itu rumah tangga mereka. Belajarnya harus mulai dari sekarang, kalau diundur undur keburu mereka punya anak. mental mereka harus dilatih kuat agar saat cucu cucu kita lahir mereka sudah kuat. Lagian kenapa harus sedih kayak anak mau pergi selamanya atau mau pergi perang jauh saja. Lha Dihya sama Dinda kan cuma mau pindah dekat-dekat sini. Mereka akan datang sesering mungkin, kita juga bisa membesuk mereka kapanpun mereka mau. Jadi jangan dipermasalahkan. Harusnya umi bangga, anak dan menantu umi bisa berpikir dewasa seperti ini. Jadi jangan ditangisi ya." Kata Abah yang mencoba menengahi saat kami mulai kewalahan.


"Tapi umi yang nggak siap ditinggal pergi Dihya. Anak kita cuma satu, umi nggak sanggup." Umi masih menangis.


"Mi, Dihya akan sering main ke sini. Umi nggak akan kehilangan Dihya. Ampai kapanpun kan Dihya anaknya umi. Ia juga akan sering menelepon kita. Ya begitulah hidup mi, anak-anak sebanyak apapun tak akan selamanya bersama kita. Suatu hari akan pergi satu persatu. Apalagi ini cuma satu. Itu lah bukti bahwa mereka hanya titipan Allah untuk kita. Dititipkan sebentar saja, tau-tau sudah menentukan jalannya sendiri." ungkap Abah lagi.


Mendengar nasihat Abah, tak hanya umi yang menangis. Tapi juga aku dan Dinda. Pendek sekali hidup ini, dari kecil hingga dewasa kita dijaga orang tua, lalu akan ada masanya kita pergi memulai kehidupan baru. Begitu selanjutnya, kita pun akan ditinggalkan anak-anak kita yang kelak akan memulai hidup barunya mereka.


"Bah," umi kembali merajuk. "Abah jangan ngomong begitu. Abah nggak kasihan sama umi. Umi juga enggak mau Dihya dan Dinda enggak kuat rumah tangganya. Umi hanya sedih ditinggal pindah."

__ADS_1


"Kan sudah abah katakan, anak-anak akan sering main ke sini." Jelas Abah.


"Benar?" Umi menatapku. "Janji lho, harus sering main ke sini. Kalau umi telepon juga harus diangkat. Nggak boleh banyak alasan. Umi nggak mau tahu!"


"InshaAllah mi," kataku.


"Ya sudah kalau begitu. Kapan pindahnya?" Tanya umi.


"Insha Allah awal bulan ini, mi. Ini masih nyari yang cocok." Jawabku lagi.


"Cepat sekali. Tapi ya sudahlah kalau itu yang terbaik menurut kalian." ungkap Umi.

__ADS_1


"Terimakasih ya mi, sudah mengizinkan kami. Doain Dihya dan Dinda selalu ya mi." Pintaku, sambil menggenggam erat tangan Perempuan pertama yang ku cintai itu. Umi hanya mengangguk.


"Umi jangan sedih, kan ada Abah yang selalu menemani umi. InshaAllah kita sehidup sesurga ya mi." Abah mulai menggombal. "Lagian, nanti kita berdua bisa kayak pengantin baru lagi, mi. Kemana mana berdua. Ngapain pun berdua. Wah romantis sekali mi." Cetus Abah yang berusaha membujuk umi, namun yang dibujuk malah manyun. Tak peduli dengan guyonan Abah sebab katanya umi hatinya masih sedih.


__ADS_2