Kami Sudah Dijodohkan

Kami Sudah Dijodohkan
Terus Mencari


__ADS_3

Sampai di rumah, bukannya istirahat namun Dinda terus mencari informasi tentang keberadaan ayahnya. Ia benar-benar tak mau menyerah. Istriku itu menghubungi semua keluarga dari pihak ayah dan ibunya. Namun sayangnya hasilnya nihil, mereka tak pernah bertemu lagi dengan ayahnya Dinda usai pernikahan kami.


Berarti benar, ini sudah di rencanakan oleh ayahnya. Agar kami menikah, agar Dinda tak perlu dibawa sebab sudah menikah.


Aku sendiri, sebagai anak dari korban perbuatan ayah mertuaku sangat marah. Namun aku tak mau jika kemarahan itu karena mengikuti emosi saja. Marah pun harus sesuai dengan proporsinya. Tepat kepada sasaran.


"Bagaimana ini, tak ada satupun yang tahu dimana abah berada!" Dinda terlihat sangat pusing. Wajahnya begitu kusut. Aku kembali memeluknya, agar ia merasa tenang


"Kita lanjutkan besok, sekarang istirahat dulu ya." pintaku.


Dinda sebenarnya menolak, ia bahkan mengusulkan mencari ke teman-teman Abah yang sekiranya ditemui Abah. Tapi aku menolak sebab haru sudah larut, Dinda sudah teramat lelah. Aku saja lelah apalagi ia yang sedang berbadan dua.


Setelah Dinda tidur, aku baru menghubungi Abah dan umi untuk memastikan kedua orang tuaku sudah istirahat.


Sebenarnya dalam kondisi seperti ini, aku ingin mendampingi mereka. Namun karena umi sedang membenci dan memusuhi Dinda, makanya aku tak berani meletakkan mereka di satu rumah. Biar berjarak dulu agar tak ada yang saling menyakiti.


[InshaAllah besok Dihya ke sana ya Bah. Abah dan Umi kalau belum kondusif jangan keluar rumah dulu. Untuk makan dan minum, besok Dihya yang belikan saja. Oh ya, kalau butuh sesuatu hubungi Dihya ya. Secepatnya Dihya meluncur ke sana.] pesan yang ku tulis pada Abah.


Malam ini rasanya terasa sangat syahdu. Aku masih belum bisa memejamkan netraku karena kepalaku pusing memikirkan kasus ini. Satu sisi orang tua, satu sisinya istri dan mertua.


Ya Rabb, aku harus bagaimana? Di atas sajadah aku terus memohon petunjuk dari Tuhan untuk kasus ini. Berharap semua langkah yang aku ambil sesuai dengan -Nya. Hanya di atas sajadah ini air mata boleh mengalir. Semua gundah ini aku tumpahkan.


***


Sudah pukul lima lewat lima belas menit. Biasanya, setelah aku pulang dari masjid, Dinda sedang sibuk membuat sarapan untuk kami, apalagi kalau hari ini sama-sama ada kuliah pagi. Tapi tidak dengan hari ini karena kontrakan benar-benar sunyi.

__ADS_1


"Assalamualaikum," aku mengucap salam saat masuk kontrakan. Di mihrab kecil yang memang disediakan untuk Dinda beribadah tak ku dapati istriku tersebut, makanya aku menuju kamar, rupanya Dinda masih terbaring. Tak biasanya ia masih tidur. Bahkan saat tidak salat pun ia selalu bangun pagi. Baru saja aku hendak membangunkannya, tapi karena meraba tubuhnya aku jadi tahu kalau Dinda sedang demam. Badannya begitu panas. "Din, kamu sakit sayang?" tanyaku, dengan suara pelan agar ia tak terkejut.


"Dihya," kata Dinda dengan suara pelan. Bibirnya merah menandakan panasnya tinggi. "Aku minta maaf."


"Jangan bicara macam-macam dulu, sekarang kita ke rumah sakit ya. Kamu demam tinggi!" kataku


"Enggak, aku mau salat dulu " kata Dinda. Ia berusaha bangun, namun tak kuat, makanya ku suruh ia salat sambil duduk saja. Dinda menurut. Aku membantunya untuk berwudhu, mengawasi saat ia salat untuk mengindari hal yang tidak -tidak.


Sepanjang salat, sejak rakaat awal hingga akhir, air matanya tak pernah berhenti tumpah. Aku tahu ia benar-benar terpukul dengan ini semua. Setelah salam, aku langsung memeluknya dari belakang, Isak tangis Dinda semakin besar.


"Kamu tahu, kadang Allah menguji hamba-Nya dengan apa yang paling ia cintai. Kamu dan kedua orangtuaku adalah orang yang paling aku cintai. Memang tak mudah tapi tak boleh menyurutkan semangat kita. Kamu harus sabar ya " pintaku. "Kita berpegang tangan menyelesaikan semuanya."


***


Aku sengaja mengajak Dinda sarapan bakso kesukaan kami. Setelah itu aku mengantarnya ke kampus karena ia ada mata kuliah pagi ini. Aku sendiri sebenarnya ada mata kuliah juga, tapi karena sudah janji pada Abah makanya aku terpaksa bolos.


"Apa?" tanyaku.


"Orangtuamu, apa benar?" tanyanya. "Maaf Dihya, aku tahu dari umi dan abiku. Apa benar karena orang tua Dinda?"


"Mir, maaf, aku buru-buru." kataku.


Langsung naik ke atas motor dan memacu sekencang mungkin menuju rumah. Tak lupa sebelumnya aku mampir membelikan sarapan, nasi soto kesukaan mereka.


***

__ADS_1


"Umi kenapa tho, wajahnya sedih begitu. Senyum dong. Lihat ini, Dihya sudah bawakan soto kesukaan Abah dan umi. Ini Dihya ngantrinya lama sekali lho. Umi kan tahu di sana itu ramai sekali." kataku, mencoba membujuk umi yang masih sedih. Tetapi umi tak peduli, tetap menekuk wajahnya. "Mi, nanti hilang cantiknya lho."


"Umi sedih, kamu enggak peduli pada umi. Sakit Dihya. Sakit!" umi menekankan.


"Kata siapa Dihya nggak peduli? Dihya sayang sama umi dan Abah."


"Kemarin umi suruh kamu nggak mau. Selama ini kamu selalu nurut, kenapa sekarang nggak? Kenapa? siapa yang mempengaruhi kamu, hah?"


"Mi, maafin Dihya ya. Dinda sedang hamil anak Dihya, cucunya umi. Umi nggak apa-apa kalau calon cucunya umi ngerasain kesedihan ibunya "


"Terus neneknya sedih nggak apa-apa?"


"Mi, umi itu surganya Dihya. Umi sedih, Dihya sakit. Sakit sekali." air mataku menetes juga saat menggenggam erat kedua tangan perempuan yang melahirkan aku. Seperti yang dikatakan Umi, selama ini aku tak pernah membantah perintahnya, bahkan saat umi menjodohkan aku dan Dinda yang kala itu ku nilai tak sepadan denganku. "Maafkan Dihya ya cintaku," aku mencium dengan takjim kedua tangan umi. "Dihya bersedia menggantikan semua beban umi dan Abah agar dua orang yang Dihya cintai ini tak merasakan kesedihan. Dihya berdoa sama Allah, mi."


"Jangan Dihya, jangan!" umi menggeleng. "Biar umi saja. Mungkin ada dosa umi dan Abah yang kami tak sadari. Semoga ini jadi pwnggugurnya. Umi akan bersabar."


"Ya Allah, mi."


"Dihya, bagaimana keadaannya? Maksudnya umi calon cucunya umi? Sudah berapa bulan?" sepasang mata umi memancarkan cahaya, begitu juga Abah yang tiba-tiba langsung mendekat karena penasaran dengan berita tentang calon anakku.


"Baru enam pekan, mi." kataku


"Laki-laki atau perempuan, Dihya?" tanya Abah.


"Hus, Abah ini. Ya belum kelihatan tho. Masih sebesar kacang. Ya belum tahu apa laki-laki atau perempuan. Lagian kenapa sih? Mau laki-laki atau perempuan ya sama saja." kata umi yang terlihat sewot sebab Abah ternyata berharap punya cucu perempuan. Katanya karena Abah nggak punya anak perempuan. Abah pengen memanjakan cucu perempuannya.

__ADS_1


Senyum di bibirku terkembang mendengar perdebatan Abah dan umi. Untuk sesaat, mereka berhasil melupakan sedihnya.


"Hei calon anakku, terimakasih ya, kamu belum lahir saja sudah jadi sumber kebahagiaan kami. Sehat-sehat ya. Aku akan menantimu." aku berbisik pada diri sendiri.


__ADS_2