Kami Sudah Dijodohkan

Kami Sudah Dijodohkan
Sabar Jadi Jomblo Dulu


__ADS_3

"Jadi perempuan tadi itu calon istri kamu, Dihya?" Tanya Lucy, yang datang menghampiri setelah Dinda pergi. Aku tak menyangka Lucy menunggu, tadi ku kira ia langsung kembali ke kampus atau pulang duluan karena saat kami ke gep dan aku ngajak Dinda bicara, aku tak mengatakan apapun padanya.


"Iya, namanya Dinda. Orang tua kami sudah menjodohkan sejak kecil." Kataku


"Oh, perjodohan sejak dini." Lucy tersenyum. "Aku nggak menyangka di zaman seperti ini masih ada perjodohan dan kalian setuju?" tambahnya.


"Awalnya aku nggak terima. Merasa nggak suka saja dan nggak yakin juga bakal cocok, tapi ternyata setelah dijalani aku sangat yakin. Insha Allah." kataku.


"Ya sudah, semoga perjodohan kalian lancar ya. Sekarang ayo kita pulang. Urusan kalian sudah selesai, kan?" Tanyanya.


"Iya." Jawabku. Lalu kami berdua menuju parkiran untuk mengambil kendaraan masing-masing. Aku naik motor, sementara Lucy naik mobilnya.


Sampai di rumah, Selesai makan aku langsung membuka laptop. Mencari lowongan pekerjaan, barangkali ada yang cocok. Umi yang baru datang langsung menghampiri.


"Sibuk sekali, nak." Kata umi.


"Dihya lagi nyari kerja, mi." Kataku, Sambil terus fokus ke laptop.


"Kerjaan yang kemarin belum cukup? Bukannya kuliah sudah padat. Kamu mau kerja jam berapa lagi, Dihya? Jangan terlalu lelah, nanti malah sakit. Ada lho orang yang terlalu keras bekerja malah tipes. Kamu kan calon dokter, pasti tahu kan. " kata umi.


"InshaAllah enggak kok mi. Kerja kemarin masih. Ini lagi nyari kerja malam. Dihya akan berusaha menjaga kesehatan juga. Kalau semisal badannya nggak sanggup maka Dihya akan berhenti." Kataku


"Memang ada apa sih, nak? Cerita dong sama umi. Sudah lama lho kamu nggak cerita sama Umi. Umi rindu juga denger curhatan kamu."

__ADS_1


"Nggak ada apa-apa kok mi. Dihya cuma mempersiapkan diri saja. Mi, Dihya jatuh cinta sama Dinda."


Umi nggak menjawab apapun, hanya tersenyum.


"Mi, kenapa rasanya sulit sekali ya ngelupain Dinda. Tiap hari teringat dia terus. Bahkan Dihya sampai over thinking, khawatir dia dekat sama laki-laki lain atau dia nggak mau dijodohkan sama Dihya." Aku menceritakan segala gundahku pada umi dengan harapan mendapatkan ketenangan usai curhat.


"Mungkin sudah waktunya nikah." Kata umi yang kuyakin jawabannya asal.


"Tapi kan kuliah kami belum selesai. Dihya juga belum punya pekerjaan yang mapan." Kataku lagi, memberi tahu umi tentang kelemahanku.


"Ya banyak kok mahasiswa yang menikah saat masih kuliah. Lagian itu tantangan untuk kamu. Yang penting tahu resiko untuk setiap keputusan yang kamu buat " kata umi. "Tapi setidaknya umi sudah ngebantu kamu, kan." Umi senyum-senyum. "Coba kemarin-kemarin nggak dijodohin, bakal nambah perjuangan kamu!" Umi meledekku.


"Memang kalau Dihya nikah muda, umi enggak apa-apa." Tanyaku.


Aghhh Dinda. Bagaimana ini. Apa itu berarti kita harus memilih jalan menjadi jomblo dulu untuk sesaat karena jujur untuk bagian nafkah aku belum mampu. Kehidupan kamu saat ini sangat mapan. Kalau kita menikah dengan pekerja di klinik dan sebagai penerjemah, mungkin nggak akan cukup. Apalagi kalau nanti Abah kamu enggak mau lanjut membiayai kuliah kamu. Duh, apa aku mampu? Din, perjuangan cinta ini berat juga ya.


***


Seperti saran umi, selain menjaga hati aku pun diminta untuk terus mendekatkan diri pada Allah. Bisa jadi lemahnya hati karena jauh dari Allah. Makanya mulai malam ini, aku kembali menghidupkan salat malam sembari terus memperbaiki diri agar imanku kuat. Nggak melulu kepikiran soal nikah padahal tahu diri sendiri belum mampu.


Abah dan Umi sempat meledek agar perubahan itu bukan hanya karena Dinda, tapi harus karena Allah sebab Allah itu pencemburu. Kalau makhluknya lebih mencintai sesuatu dari pada-Nya.


"Dihya berubah bukan sekedar karena galau sama Dinda, kok. Dihya memang merasa lagi lemah banget imannya. Makanya Dihya pengen lebih dekat lagi sama Allah. Dihya pengen seperti dulu, saat belum merasakan jatuh cinta sama Dinda. Hidupnya itu terasa lebih bermakna, yang dipikirkan itu hanya hal-hal positif, nggak berpikir negatif. Terus semangat menjadi lebih baik terutama mengejar mimpi." Kataku, panjang lebar.

__ADS_1


Tetap saja mau bicara apa, umi dan Abah masih meledek. Begitulah mereka, saat anaknya butuh support malah diketawain.


***


Ical adalah orang yang aku minta untuk mengingatkan agar tak terjerumus terlalu dalam pada virus merah jambu yang sedang menyerangku. Aku memintanya memberi nasihat saat galau kalau sedang rindu pada Dinda.


Ical yang kebetulan sekarang mendapatkan tugas sebagai pengurus masjid dan aktif mengajar ngaji karena ia tak lanjut kuliah meminjamkan buku-buku dari perpustakaan masjid yang berhubungan dengan cinta untuk aku baca. Apa yang dikatakan Ical hampir sama dengan Dinda. Menyibukkan diri dengan hal-hal positif agar tak melamun memikirkan cinta-cintaan.


Selain itu, aku juga mendapat pekerjaan sebagai penerjemah. Biasanya, malam sebelum tidur aku gunakan untuk menerjemah hingga terlelap sehingga benar-bemar tak ada waktu untuk memikirkan Dinda.


Pendapatan dari bekerja yang awalnya mau dihadiahi kepada umi malah ditolak. Kata umi lebih baik ditabung sendiri saja siapa tahu nanti bisa dipakai untuk keperluan dadakan. Atau untuk tabungan nikah.


***


Pekerjaan sebagai penerjemah lumayan memberi masukan untukku. Meski kegiatan kuliah sudah sangat padat, namun aku bisa mengatur waktu agar setidaknya ada hasil menerjemah setiap harinya.


Sebenarnya gaji sebagai penerjemah lumayan untuk seorang mahasiswa yang juga punya pekerjaan sampingan di klinik. namun karena pemula, meski hasil terjemahan ku sangat bagus, tetap saja rata-rata tiap bulannya hanya bisa mengantongi paling banyak tiga jutaan. Namun itu lebih dari cukup.


"Kalau kamu masih butuh pekerjaan, Abah punya pekerjaan tambahan nih." kata Abah saat kami sedang makan malam.


"Apa bah?" tanyaku, sambil menyendok nasi untuk kedua kalinya ke piring.


"Dibagikan promosi. Nanti akan ada yang membuat selebaran. Tugas kamu tinggal promosi dan menyebarkan selebaran. Untuk tiap target yang kamu capai akan ada bonus. Bagaimana?" tanya Abah.

__ADS_1


"Ehh nggak nggak. Dihya nggak boleh kerja tambahan lagi. Apalagi sebagai bagian promosi. Abah ini nggak kasihan sama anaknya..Dihya itu kuliahnya sudah sangat padat. Ada kerja sambilan di klinik dan menerjemah juga. Masih kurang? Nanti kalau anaknya sakit-sakitan bagaimana? Kalau daya tahan tubuhnya sudah kena bisa bahaya, Bah. Pokoknya sudah. Umi nggak mau dengar kamu terlalu ngoyo Dihya." kata umi. Menegaskan agar aku tak menambah pekerjaan lain.


__ADS_2