
Aku datang ke rumah Dinda naik mobil jazz yang biasa dibawa Umi karena tak mungkin boncengan naik motor bersama Amira. Sampai di depan rumah duka yang sudah ramai oleh orang-orang yang melayat kami bertemu juga dengan teman-teman satu kelas, termasuk Jingga yang juga ingin melayat.
"Lho, Dihya ke sini sama Amira?" tanya Jingga yang sepertinya sengaja meninggikan nada suaranya sehingga teman-teman satu sekolah melihat ke arah kami.
"Kebetulan tadi aku ke kantor ayahnya Dihya untuk mendaftar umroh bersama kedua orang tuaku, karena Dihya mau ke sini juga makanya aku ikut numpang." kata Amira yang langsung berusaha menepis munculnya isu-isu yang tidak baik antara kami.
Mereka masih berdebat, Jingga masih berusaha menggiring opini, namun Amira terus menepis tanpa memberi kesempatan sedikitpun. Sementara aku tak ingin ambil pusing, terserah mereka mau bilang apa, yang terpenting sekarang melihat kondisi Dinda.
Gadis itu duduk di pojok ruang tengah, persis di sebelah jenazah ibunya yang sudah terbungkus kain kafan. Wajahnya tampak pucat dan kuyu, sementara matanya sembab, bahkan sampai sekarang masih menangis di antara Umi dan tantenya Dinda, ia benar-benar tak ada senyum di sana, tak seperti Dinda yang biasanya aku tahu. Bisa ku rasakan bagaimana sedihnya Dinda saat ini kehilangan ibunya.
Tak berapa lama keluarga mengumumkan bahwa ibunya akan diantarkan ke pemakaman yang berada tak jauh dari rumahnya Dinda. Banyak yang mengantarkan, kepergian ibunya ke tempat peristirahatan terakhir menandakan ia orang baik, seperti yang selalu dikatakan Umi bahwa keluarga Dinda itu adalah orang-orang yang tulus.
Dinda berada di sisi keranda ibunya, ia dipapah oleh Tantenya dan Umi. mereka beriring menuju pemakaman. Aku mengikuti dari belakang, memperhatikan gerak-gerik gadis yang dalam tiga bulan terakhir sering aku marahi karena sulitnya ia menerima pelajaran yang aku ajarkan.
"Din ... kamu harus kuat. Harus sabar ya." aku berbisik, berharap pesan yang aku ucapkan itu sampai ke telinga Dinda.
Usai acara pemakaman, satu-persatu yang melayat menyalami Dinda dan ayahnya. mereka berpamitan pulang dan akan kembali nanti malam saat acara pengajian. Aku sendiri masih memilih untuk duduk di pojok berlawanan dengan Dinda, masih setia memperhatikan dirinya dalam diam.
__ADS_1
"Dihya!" tiba-tiba saja Amira berada di dekatku. "Kamu masih mau di sini?" tanyanya yang aku jawab dengan anggukan. "Kalau begitu aku pulang dulu ya Dihya. Aku pulang sama Septi. Terimakasih tadi sudah memberikan tumpangan." Amira pamit. Aku tak terlalu memperhatikan kepergiannya.
***
Sudah sepekan sejak kepergian ibunya Dinda. Umi masih setia pulang-pergi setiap harinya untuk melihat kondisi Dinda. Kata umi, Dinda sempat sakit sehari setelah ibunya meninggal. Makanya umi sangat khawatir sekali. Aku sangat ingin membesuk Dinda, sebab saat melayatpun tak sempat berbincang dengannya karena begitu banyaknya tamu yang datang dan semuanya ingin bicara pada Dinda, tapi Umi tak mengajak, makanya tak berani juga menawarkan diri.
"Kasihan Dinda itu, sejak uminya pergi jadi pendiam sekali. Benar-benar berbeda dari Dinda yang biasa dikenal. Bahkan bicara saja seperlunya. Umi khawatir lama-lama ia akan berubah menjadi anak yang pemurung mengingat betapa dekatnya ia dengan uminya. Maklumlah, ayahnya itu sibuk bekerja, jarang ada waktu untuk Dinda." kata umi, sambil menyiapkan makanan yang memang diperuntukkan untuk Dinda.
"Apa Jeni sudah tak ada disana?" abah mempertanyakan keberadaan tantenya Dinda.
"Ya, aku paham." lanjut Abah.
"Andai kita bisa membawanya ke sini," umi dan Abah melirikku yang tengah sarapan. "Tapi sayang kita punya anak laki-laki di sini, tak mungkin mencampur baurkan mereka. Lagipula ayahnya Dinda tak akan mengizinkan putrinya tinggal di rumah yang masih ada pemuda asingnya." tambah Umi lagi.
Lha, kenapa malah aku yang kena? kalau mau tinggal di sini ya tinggal datang saja. Yang membuat aturan bukan aku, harusnya bukan aku yang disasar seperti ini. Aku pura-pura tak mendengar, segera menghabiskan sarapan lalu bersiap ke pasar buku untuk mencari beberapa diktat persiapan masuk fakultas kedokteran di semester awal.
***
__ADS_1
Setelah dua pekan akhirnya aku bisa melihat Dinda. Ia datang diantar ayahnya. Awalnya aku ingin menghampiri, namun tak jadi sebab ia keburu dihampiri Wike. Mereka tampak asyik berbicara. Makanya ku putuskan memperhatikan dari jauh saja.
Hari ini pengumuman kelulusan. Seluruh siswa kelas tiga berbaris di halaman, tempat biasanya upacara diadakan. Kepala sekolah sudah naik ke podium, menyampaikan ucapan selamat karena tahun ini semuanya lulus seratus persen. Setelah itu, naik wakil kepala sekolah bidang kurikulum, menyampaikan siswa yang berhasil menerima undangan di perguruan tinggi negeri. aku salah satu nama yang terpanggil. Bersama dua puluhan siswa kami berbaris di depan podium.
Setelah itu pengumuman lulusan terbaik. Semua siswa menebak-nebak bahwa aku, Amira dan Jingga yang mendapat nilai terbaik sesuai prestasi kami selama ini. Namun tebakan itu meleset sebab yang terpanggil adalah Dinda sebagai lulusan terbaik pertama, aku kedua dan Amira ketiga.
Semua orang bersorak tak percaya. Dinda si bodoh yang biasa jadi bahan bully karena dianggap lemot. Yang dianggap aib di kelas kami kini menjadi terbaik. Nilainya sempurna, semuanya yang diujikan sepuluh.
Dinda sendiri maju ke atas panggung dengan tenang. Ia tak peduli dengan respon siswa-siswi lainnya yang seperti tawon saking berisiknya karena tak percaya dengan pencapaian Dinda.
"Selamat Din!" aku setengah berbisik, diikuti tatapan Dinda dan Amira karena aku berada di tengah-tengah mereka.
Aku sendiri tak heran dengan apa yang dicapai Dinda. Selama tiga bulan ini ia sudah bekerja keras. Saat anak-anak masih sibuk meremehkan akhirnya ia membuktikan bahwa ia tak seburuk itu. Aku tahu kenapa ia tertinggal selama ini karena beban harus merawat ibunya. Saat aku menyarankan agar ia berbagi tugas dengan orang rumah akhirnya Dinda bisa konsentrasi belajar.
Karena pencapaian Dinda sebagai lulusan terbaik, ia diterimanya di universitas yang sama denganku di fakultas agama Islam sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Hari ini aku sangat yakin Dinda begitu senang karena apa yang ia harapkan akhirnya tercapai juga. Namun ada kesedihan juga di sana sebab harusnya ibunya bisa melihat apa yang mereka berdua cita-citakan. Namun ibunya telah pergi, makanya kebahagiaan itu terasa tidak lengkap.
__ADS_1