
Usai makan, aku dan Abah saling memberi isyarat untuk segera pergi dari tempat ini karena semakin tidak kondusif. Abah menggeret umi sambil bercanda sementara aku mengajak pengantinku kembali ke rumahnya untuk mengambil koper dan barang-barangnya sebab setelah menikah kami memang sudah berencana kalau Dinda pindah dari sini.
Hanya beberapa meter menuju pintu masuk, Dinda langsung berhenti. Ia menyatakan tak sanggup bertemu abahnya karena takut akhirnya akan bertengkar lagi.
Aku memahami, makanya menggantikan Dinda masuk ke dalam. Di sana, rupanya abahnya Dinda sudah menyiapkan koper Dinda. Kali ini aku yang terbawa perasaan, apakah benar abahnya sudah tidak peduli pada Dinda? Jika benar, sungguh malang sekali nasibnya.
"Dihya pamit, bah." kataku, mencium punggung tangan lelaki yang kini resmi menjadi ayah mertuaku.
"Ya." jawabnya. Saat aku hendak membuka pintu, tiba-tiba ia kembali memanggil. "Dihya ... tolong titip Dinda!" suaranya pelan namun terdengar bergetar. Saat itulah aku tahu, abahnya Dinda masih sangat mencintai putrinya. Entah apa yang sebenarnya terjadi namun ayahnya tetap sama seperti dahulu yang sangat menyayangi putrinya. Itulah keyakinanku.
"Doakan kami, bah." ucapku, sambil menundukkan kepala, sebagai isyarat pamit.
Aku dan Dinda diantar ke hotel bintang lima. Abah dan umi sudah menyewa kamar terbaik untuk kami berbulan madu tiga hari ini.
Sebelum pergi, umi dan Dinda saling berpelukan sambil menangis. Abah yang biasanya cool kini juga terlihat sendu. Ia berpesan padaku agar menjaga Dinda. Sekarang aku adalah seorang kepala keluarga.
***
Aku dan Dinda masuk ke kamar suite room di hotel ini. Sudah di desain sedemikian rupa untuk menjadi kamar pengantin. Aroma terapi tercium begitu keras di hidung kami sehingga membuat suasana antara aku dan Dinda jadi kikuk. Di atas kasur terdapat buket besar mawar merah dengan aroma tak kalah semerbak. Sementara di pantry ada hidangan untuk dua orang. Hidangan yang cukup mewah dengan lilin lilin kecil menambah suasana romantis.
Aku harus melakukan apa? Sejak membuka pintu kamar, segala rencana yang memang sudah aku susun sedemikian rupa mendadak buyar. Bahkan aku bingung harus melakukan apa hingga kami berdua berdiri dengan jarak tak sampai satu meter, seperti patung.
"Hemmm," aku berdehem. "Sebentar lagi azan Ashar, aku mau ke masjid dulu." kataku.
"Ke masjid?" Dinda melirik. "Oh ya sudah, silakan." jawabnya, agak sedikit ketus.
"Apa aku salat di sini saja?" tanyaku lagi, karena tak mau Dinda kecewa.
"Ya, terserah." ia hendak pergi.
Namun aku menarik tangannya pelan hingga jarak kami begitu dekat. "Tapi, sebelumnya, bolehkah aku berdoa untuk pengantinku?" tak perlu menunggu persetujuan, aku memegang ubun-ubun Dinda, mendoakannya. Lalu mengecup pelan keningnya untuk pertama kalinya. "Sekarang, aku adalah suamimu dan engkau adalah istriku. Aku janji akan berusaha menjaga dan membahagiakan kamu, sayang."
Hari ini akan menjadi hari paling bersejarah dalam hidup kami berdua. Untuk sesaat, kami memutuskan melupakan semua beban hidup, menikmati surga dunia yang telah Allah halalkan.
__ADS_1
Babak pernikahan ini akan segera dimulai. Dimulai dari perjodohan. Dari tidak suka hingga begitu cinta.
***
"Dihya!" Dinda menjerit kecil sehingga aku terbangun. Masih pukul dua dini hari. Ia sudah duduk di dekatku dengan selimut menutupi tubuhnya. "Dihya bangun!"
"Apasih Din, ini masih terlalu pagi. Aku masih mengantuk." kataku yang baru terpejam sekitar satu jam lalu, usai perjuangan panjang sebagai seorang suami. "Tidur lagi ya." aku hendak memejamkan mata, tetapi ia menarik tanganku hingga terpaksa mata ini kembali terbuka. "Apa?"
"Aku nggak mau!"
"Apanya yang nggak mau? Sudah terjadi ya nggak bisa nggak mau." jawabku, santai.
"Bagaimana kalau ...."
"Apa?"
Aku dan Dinda saling pandang. Tiba-tiba kantuk itu hilang membayangkan apa yang kami bayangkan. Jika jadi, maka kami akan mendapatkan bayi dan menjadi orang tua.
"Kita baru dua puluh tahun dan masih kuliah. Aku nggak yakin bisa menjalani semuanya secara bersama. Aku belum siap, Dihya. Aku mau fokus kuliah dulu, mengejar cita-cita."
"Siapa yang mancing -mancing," ia merengut.
"Ya sudah, sudah terjadi. Jadi, mau bagaimana lagi. Di sesali juga nggak akan merubah semuanya kan?" aku menggenggam erat tangannya. "Apapun yang terjadi aku akan selalu ada untuk kamu. Jadi jangan khawatir ya. Kita hadapi berdua!"
"Dihya!" ia masuk ke pelukanku. Kami melanjutkan tidur yang sempat tertunda hingga azan Subuh berkumandang.
***
"Pulang dari sini, kita akan tinggal dimana?" tanya Dinda, usai mandi berendam lalu lanjut sarapan di kamar.
"Sementara di rumah umi dan Abah dulu, bagaimana?" tanyaku.
"Kenapa? Katanya mau Ngontrak."
__ADS_1
"Kalau ngontrak awal bulan bagaimana? Sembari nyari yang cocok. Kita kan belum menemukan kontrakan yang sesuai." ucapku
"Baiklah."
Untungnya Dinda setuju. Aku agak sedikit tenang. Setidaknya satu kesulitan terlewati.
Kami kembali melanjutkan acara nonton televisi sembari berbaring. Saat itulah telepon dari Lucy masuk. Ia mengabari tentang proyek dadakan yang membuatku tergiur.
[Sebenarnya aku mau, tapi sekarang aku tak bisa ke sana karena aku baru saja Menikah.] kataku pada Lucy.
[Menikah? Kamu seriusan, Dihya?] jawab Lucy
[Iya. Aku menikah Jum'at siang kemarin.]
[Oh ya? Selamat Dihya. Sekarang kalian dimana?]
[Dihotel Family. Kami menginap di sini sampai hari Senin pagi.]
[Oh ya kalau begitu. Salam untuk istri kamu.]
[Baik, sudah tersampaikan. Ia ada di sampingku dan mendengar perbincangan kita.] kataku, sambil melirik Dinda.
Usai berbincang dengan Lucy, Dinda menanyakan tentang temanku tersebut. "Ia tak menyukai kamu kan Dihya?" pertanyaan itu cukup aneh, namun aku menggelengkan kepala. Sama seperti aku yang menganggap Lucy sebatas teman, aku yakin Lucy pun juga begitu.
"Pertemanan kami murni." kataku, setelah Dinda menyampaikan bahwa tak ada yang namanya pertemanan antara perempuan dan laki-laki yang benar-benar murni. Biasanya ada salah satu yang suka.
"Aku harap pertemanan kalian seperti apa yang kamu duga, Dihya. Kapan-kapan aku ingin berkenalan lebih dekat lagi dengannya. Aku ingin menjadi temannya juga." kata Dinda
"Tak masalah. Sepertinya kalian juga akan cocok karena karakter kalian sama persis." kataku.
Dinda diam. Senyumnya mendadak hilang. "Dihya ... sebaiknya jangan terlalu dekat dengan Lucy ya." pintanya.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Entahlah, aku tak nyaman saja." ia memaksakan senyum. "Boleh ya?"
"Ya, tentu saja." bagiku, tak ada masalah menjaga jarak dengan teman perempuan sekalipun ia seorang Lucy yang bisa menjadi jalan untukku mendapatkan banyak relasi kedepannya.