Kami Sudah Dijodohkan

Kami Sudah Dijodohkan
Marah Sesuai Porsinya, Sedih Pun Harus Sesuai Porsinya


__ADS_3

"Mi," aku menggelayut manja pada umi, sebuah cara untuk meluluhkan hatinya. "Umi sedang nggak sih mau punya cucu?"


"Ya senang. Meski Abah pengennya cucu perempuan, umi mah laki-laki atau perempuan sama saja. Yang penting cucunya umi sehat dan nanti salih. Sudah, begitu saja." kata umi dengan mata berbinar-binar.


"Kalau ceria?"


"Ya pengen juga cucunya umi itu ceria, bahagia selalu."


"Kalau begitu umi sudah nggak marah sama Dinda?"


"Kamu ngomong apa sih Dihya?" umi mulai menunjukkan sikap tidak sukanya.


"Mi, kalau umi masih begini sama Dinda, yang ada Dinda akan terus sedih. Padahal kan suasana hati ibu itu berpengaruh sama bayi yang ada dalam kandungannya. Umi nggak kasihan nanti cucu umi wajahnya murung karena ibunya perasaannya tertekan?"


"Dihya!" umi menaikkan sedikit nada suaranya, pertanda ia marah.


"Maafkan Dihya, mi." aku mencoba menenangkan hati umi


"Kamu tahu apa yang ayahnya lakukan padaku dan suamiku? Pada orang tua kamu, Dihya! Gara-gara ketamakan ayahnya, bukan hanya sumber rezeki kami yang diputus, tapi juga celaan dan hinaan orang-orang kini ditujukan pada kami. Kamu tahu betapa pedihnya makian itu, sampai abahmu nggak berani ke masjid. Abahmu yang biasanya tegar, kini sampai meneteskan air mata karena apa yang mereka lakukan benar-benar menyakiti kami. Ini semua sudah direncanakan ayahnya, sungguh jahat, ia menipu kami juga anak kami seumur hidupnya!" umi mulai menangis


"Mi, maafkan Dihya. Tapi sepertinya ada yang harus diperbaiki. Umi mau marah sama abahnya Dinda ya nggak masalah karena memang ayahnya melakukan kesalahan, ia pantas untuk dimarahi, tapi Dinda? apa salahnya? Hanya karena ia anak dari ayahnya. Apakah ia mengetahui semua ini, enggak. Ia pun sama seperti Abah dan umi, hanya jadi korban. Dihya paham umi, Dihya hanya nggak mau umi jadi orang yang zalim nantinya. Jadi, mohon kalau mau marah sesuai porsinya ya, Mi. Marahlah pada orang yang tepat. Dihya nggak akan melarang umi." kataku.


Marahlah sesuai porsinya. Kadang pada bagian ini kita suka kelewatan. Siapa yang melakukan kesalahan pada siapa dilampiaskan. Kadang kesalahan satu tapi marahnya sampai sepuluh. Sangat berlebihan dan itu sangat tidak baik. Hanya akan merusak saja. Mengurangi pahala kita karena akhirnya jadi zalim pada orang lain.


"Dinda itu sampai takut, enggak bisa tidur, enggak bisa makan. Tadi pagi ketiduran sampai sulit bangun saking tersiksanya ia. Jika umi berkenan mohon marah sesuai porsinya. Kita sama-sama cari abahnya Dinda, setelah itu terserah mau dimarahi seperti apa, Dihya nggak akan melarang. Begitu juga dengan Dinda, Dihya yakin ia pun akan legowo." kataku


Umi diam. Namun dengan wajahnya yang kembali melembut membuatku sangat yakin bahwa umi sedang mempertimbangkan.


Aku sendiri hanya bisa mendoakan agar Tuhan melembutkan hati kedua orang tuaku, sembari terus memberi mereka nasihat dengan cara yang santun agar tak menyakiti hatinya.

__ADS_1


"Mi, Dihya pamit dulu ya. Umi dan Abah kalau ada apa-apa langsung hubungi Dihya ya." pintaku, sambil mencium punggung tangan umi. Tak lupa ku peluk umi, mencium keningnya. "Dihya sangat sayang umi, umi itu surganya Dihya " kataku


"Dihya, jaga anak kamu ya." pinta Umi. "Juga istrimu." katanya, di akhir perjumpaan sambil berlalu masuk.


Senyum di wajahku langsung terkembang. Sedikit ada perubahan. Meski begitu harus disyukuri. Aku jadi lebih semangat lagi untuk membuat agar Dinda bisa kembali diterima di rumah ini.


***


Perempuan itu berdiri di pojokan dengan tatapan kosong. Kenapa aku tahu, karena beberapa kali ku panggil ia tak mendengar, pasti melamun.


"Assalamualaikum cantik, sendiri saja." aku memeluknya dari belakang.


"Astagfirullah, jangan peluk-peluk, dilihat orang bagaimana?" ia buru-buru melepas tanganku, memberi jarak antara kami.


"Sama suami sendiri kok galak." aku pura-pura cemberut.


"Oke, maaf diterima, sekarang ayo kita makan. Aku traktir makan yang enak. Mau steak atau burger?" aku menawarkan makanan yang pernah diminta Dinda dua pekan lalu, namun belum bisa terealisasi karena aku sibuk kuliah.


"Nggak sekarang, aku mau ke rumah temannya Abah."


"Ngapain? Lagian aku nggak ngizinin. Sekarang kita makan, lalu pulang. Kamu harus istirahat."


"Tapi Dihya, aku nggak bisa enak-enakan makan sementara Abah belum ketemu. Bagaimana aku bisa menghadapi orang tua kamu? Aku benar-benar tak bernyali, Dihya." ia kembali terbawa emosi.


"Aku tahu kamu sedih dan kecewa, tapi sekarang kamu pun harus sadar Din, di dalam perut kamu ada anak kita. Kalau kamu menahan diri enggak mau makan maka anak kita dapat makanan darimana? padahal ia butuh. Sedihnya jangan sampai merugikan ya sayang," aku membujuk.


"Maafkan aku,"


"Yap, sudah dimaafkan. Lagian kamu enggak salah. Jadi ayo makan,"

__ADS_1


"Tapi,"


"Nggak tapi-tapi, umi tadi juga bilang begitu."


"Umi ... umi bilang apa?" Dinda langsung antusias.


"Agar aku menjaga kamu dan calon bayi kita. Jadi ayo makan. Suamimu sudah sangat lapar Dinda, ayo berangkat!" aku menarik pekan tangannya, membantunya naik, baru kemudian aku naik. Dari kaca spion aku bisa menangkap bayangan wajahnya yang tiba-tiba tersenyum.


Ahhh nak, aku lagi-lagi berhutang padamu!


Sepanjang jalan, Dinda tak melepaskan pegangannya. Aku bisa merasa betapa hatinya sangat gelisah. Semoga saja kondisi ini segera berakhir.


Di tempat makan, meski susah payah, akhirnya Dinda bisa makan juga. Ia sudah mulai mual-mual susah makan layaknya sebagian perempuan hamil. Tapi dengan ditambah banyak pikiran membuatnya jadi semakin tersiksa. Untungnya ia mau mendengarkan aku hingga mau berjuang untuk anak kami. Meski mual ia mencoba melawan.


"Sayang, sebelum anak kita lahir, kita harus banyak quality time." kataku. "Aku akan cuti kuliah." kataku


"Kenapa?" ia tampak khawatir.


"Enggak kenapa-napa, hanya supaya aku bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama kamu." kataku


"Kalau begitu semester depan aku juga mau cuti!" kata Dinda. "Aku juga mau lebih banyak waktu berdua sebelum anak kita lahir."


Kami berdua sama-sama mengangguk. Sebenarnya kami berdua sama-sama sadar, setelah ini, semua biaya kuliah akan menjadi tanggungan kami berdua, lebih tepatnya aku, sebab akulah kepala keluarga.


Abah dan umi sudah tak mungkin membiayai kuliahku karena kejadian itu. Sementara abahnya Dinda pun tak tahu keberadaannya. Hanya saja kami sengaja tak membahas. Aku tak ingin menambah beban Dinda, sementara istriku tak enak hati padaku.


Kadang hidup memang serumit ini. Untuk mencapai satu titik kita harus bekerja keras. Perlu perjuangan.


Meski Kami berdua sama-sama sedih harus cuti kuliah, tetapi kami mencoba menerima dengan lapang dada. Daripada dipaksa akhirnya pusing sendiri. :D

__ADS_1


__ADS_2