Kami Sudah Dijodohkan

Kami Sudah Dijodohkan
Salah Kirim


__ADS_3

Memasuki semester kedua, aku makin disibukkan dengan segala kegiatan kampus ditambah kerja partime di klinik, makanya secara tidak langsung jadi lupa pada Dinda. Italah kenapa orang-orang yang kena virus merah jambu agar tak terjerumus dalam cinta yang belum halal makanya disarankan untuk menyibukkan diri dengan hal-hal positif agar dijauhkan dari angan-angan semu akan orang yang kita sukai.


Lima bulan ini aku benar-benar tak pernah bertemu dengan Dinda lagi. Kami juga tak saling berbagi kabar. Hingga hari ini tak sengaja bertemu dengannya di rumah. Aku yang baru pulang langsung gugup saat melihatnya di ruang tamu.


"Ada apa?" tanyaku dengan jantung berdebar-debar. Ahh aku benar-benar rindu berbincang dengannya. Makanya langsung bersemangat saat ia hadir di rumah sampai mengira ia datang untuk bertemu denganku. Namun ternyata dugaanku salah, Dinda ke sini bersama Umi.


"Kamu masuk saja, aku lagi nungguin Umi kamu." jawab Dinda, setelah itu ia sibuk dengan Hp nya.


Kenapa ia bisa secuek itu? Apa ia benar-benar tidak rindu padaku? Atau jangan-jangan masih marah karena kejadian dulu?


"Din," panggilku. "Kamu masih marah?"


"Aku nggak paham kamu bicara apa Dihya, aku sedang sibuk." katanya, tanpa mengalihkan pandangan dari layar Hp.


Siapa sih yang sedang berkirim pesan sebab Dinda hingga ia mengabaikan aku? Sejujurnya sikapnya itu membuatku cemburu. Kalau saja tak menjaga sikap, sudah ku rampas Hp di tangannya agar perhatian Dinda tertuju padaku.


"Oh ya sudah, aku masuk dulu." kataku, lalu berlalu meninggalkan Dinda dengan berbagai rasa tidak nyaman. Lima bulan kami tak berkomunikasi dia bisa sesantai itu. Berarti aku benar-benar tak berarti untuknya! Lalu kenapa saat itu bahagia sekali ketika aku memberitahukan bahwa kami sudah dijodo? Apa jangan-jangan dia begitu karena berhasil membalas dendam pada anak-anak yang membulinya. Seperti yang dikatakan Dinda, ia sangat ingin melihat anak-anak kesal dengan status perjodohan kami. Tapi sayangnya kami sudah lulus SMA dan teman-teman yang lama sudah mencar-mencar. Ada yang kuliah di dalam kota, ada juga yang di luar kota. Yang satu kampus dengan kami hanya beberapa orang saja; yaitu aku, Dinda, Amira, Jingga. Hanya itu.


Tak berapa lama aku mendengar suara Dinda berbincang dengan Umi. Merasa tak ada harapan bicara dengannya makanya aku memutuskan untuk masuk ke kamar.


[Dia datang ke rumahku, tapi enggak mau ngobrol sama sekali. Cuek banget. Padahal aku sudah senang sekali dia datang, tapi respon Dinda datar saja.] pesan ku kirimkan ke Ical.


Sambil menunggu balasan, aku berusaha untuk memejamkan mata, siapa tahu bisa tidur agar saat bangun Dinda sudah pulang jadi aku tak terlalu kepikiran. Tapi ternyata tak bisa.


Sementara itu Ical pun belum membalas pesanku. Karena terlalu lama makanya aku menelepon Ical agar ia merespon cepat


[Cal, ini penting. Balas pesanku ya!] kataku


[Pesan apa?] kata Ical dari panggilan telepon.

__ADS_1


[Pesan, pesan yang tadi aku kirimkan.] kataku lagi.


[Enggak ada pesan apapun dari kamu hari ini Dibuat.]


[Ah masa? tadi terkirim kok.]


Aku mematikan telepon Ical, memeriksa kotak pesan dan betapa terkejutnya aku sebab pesan itu terkirim ke nomor Dinda. Waktu aku mau menarik kembali pesan itu dengan menghapus, ternyata ia sudah membacanya.


Aghhh. Aku malu sekali. Sekarang harus bagaimana?


Hatiku benar-bemar gelisah. Makanya mondar-mandir di dalam kamar. Tak berapa lama Ical kembali menelepon mempertanyakan pesan yang aku maksud.


[Cal, bagaimana ini, pesannya terkirim ke nomor Dinda.] kataku.


[Hah, memang kamu ngirim pesan apa?] tanyanya.


Aku membacakan pesan yang tadi terkirim ke nomor Dinda. [Sekarang harus bagaimana? Mana dia ada di bawah belum pulang juga. Aku benar-benar malu, Cal!] kataku.


[Lalu sekarang bagaimana?]


[Nikah saja!]


[Astagfirullah, ya nggak bisa Cal. Aku masih kuliah. Ekonomi juga belum stabil. Bagaimana membiayai anak orang kalau pendapatan juga masih pas-pasan.]


[Ya sudah, kalau belum sanggup ya jaga jarak, Dihya.]


Benar-benar rumit. Ini pertama kalinya jatuh cinta, namun sudah semembingungkan ini.


***

__ADS_1


"Dinda tadi ngapain ke sini, Mi?" aku memberanikan diri bertanya pada umi saat kami sedang makan malam. Aku benar-benar berusaha bersikap sesantai mungkin meski sebenarnya jantungku berdebar-debar menyebut namanya.


"Oh itu ... mau pamit." kata umi.


"Hah, pamit?" mendengar itu aku langsung panik. "Memang Dinda mau kemana?" aku gak sabar menanti jawaban umi. "Kemana mi?"


"Kamu itu kenapa sih? Nanya sampai beberapa pertanyaan itu, enggak sabaran sekali.Ada apa memangnya? Kalau nanya, Satu-satu dong Dihya." jawab Umi.


"Iya kemana Mi?" tanyaku lagi. Berusaha menguasai diri sendiri agar tak menimbulkan kecurigaan.


"Dihya suka sama Dinda, ya?" Abah ikut buka suara.


"Apa sih, bah?" aku pura-pura marah untuk menghindari pertanyaan itu. "Umi jawab saja, Dinda mau kemana?"


"Itu, pertanyaan abahmu juga dijawab. Kamu kenapa nanyanya begitu?" selidik Umi. "Dihya ... umi sudah bilang ya, meski ada kesepakatan perjodohan tetap saja tidak ada hubungan apa-apa dulu sebelum kalian siap nikah!" tegas Umi.


"Iya mi, Dihya nggak ada apa-apa kok sama Dinda. Cuma ingin tahu saja. untuk apa dia ke sini..Lagian sudah beberapa bulan juga kami nggak pernah ketemu. Sekedar tanya kabar apa salahnya sih, mi?" aku pura-pura biasa.


"Pulang ke kampung abahya." jawab Umi.


"Memang ada apa?" tanyaku lagi. "Lama nggak disana?"


"Beberapa hari saja, abahnya Dinda menikah lagi ".jelas Umi.


"Hah, oh?" aku diam. "Dinda nggak kenapa-napa kan mi?" aku kembali mengkhawatirkan perempuan itu. Biasanya, isu pernikahan lagi seorang ayah akan jadi masalah untuk anak perempuannya. Apa Dinda merasakan hal yang sama juga?


"Entahlah Dihya. Umi juga nggak yakin dia baik-baik saja. yang jelas dia berusaha tegar, itu yang umi rasakan. Sepertinya Dinda belum rela punya ibu tiri, soalnya ibu tirinya usianya nggak jauh beda sama Dinda." kata Umi.


"Hah, nikah sama daun muda?" aku spontan menanggapi, makanya umi dan Abah serentak mengoreksi agar aku gak ikutan julid.

__ADS_1


"Namanya Jodoh itu nggak harus seusia atau ada ketentuan patennya. Bebas-bebas saja asal gak bertentangan dengan syariat. Ya kalau jodoh ayahnya adalah gadis muda, masa harus di omongin. Tapi ya namanya anak ada perasaan enggak nyaman juga posisi ibunya akan digantikan oleh orang lain " jelas Umi.


__ADS_2