
Ini hari pertama jadi mahasiswa setelah melewati rangkaian ospek yang cukup menguras energi. Baru saja hendak masuk kelas, tiba-tiba seseorang menyapaku.
"Dihya, kan?" katanya. Seorang perempuan mengenakan baju kemeja pink dengan jilbab senada di padu dengan rok jins.
"Ya." kataku.
"Aku Lucu. Satu kelas denganmu. Kamu tahu, aku sudah memperhatikan kamu sejak awal ospek. Semoga kedepannya kita bisa jadi teman ya." ungkapnya. Lalu berlari meninggalkan aku sambil melambaikan tangannya.
Lucy? Rasanya nama itu tak asing. Ia pernah beberapa kali disebut saat perkenalan mahasiswa baru oleh dosen maupun senior. Anak ini digadang-gadang istimewa karena punya tingkat kecerdasan yang tinggi. Aku berharap bisa belajar banyak darinya agar kelak bisa melampauinya.
***
Pukul satu siang, aku menunggu Dinda di dekat fakultasnya. Kami memang sudah janjian akan ketemu hari ini. Alasannya sih mau mengantarkan titipan Umi, tapi selain itu ada alasan lainnya karena aku rindu ingin bertemu dengannya.
Aku tahu seharusnya kami menjaga jarak dahulu sebab hubungan kami belum halal. Tapi aku tak bisa memungkiri bahwa sudah jatuh cinta pada Dinda dan jika tak bertemu sehari saja rasanya sudah sangat menyiksa. Padahal umi sudah mengatakan agar aku menjaga diri dulu, jangan mau dijerumuskan oleh setan. Meski kami sudah dijodohkan tetap saja kami belum sah di hadapan Allah.
Sudah lewat dari lima belas menit dari janji yang kami buat, tetapi Dinda belum juga terlihat hingga saat ini. Aku menjadi gelisah. Bolak-balik sembari melihat ke arah gerbang fakultas, barangkali Dinda tak melihat keberadaanku.
"Dihya!" seseorang memanggilku, tetapi bukan Dinda, melainkan Lucy. Ia menyusulku. "Kamu sedang apa di sini? Sudah tahu belum, di gedung sebelah ada kakak kelas yang sedang bagi-bagi diktat gratis." katanya.
"Oh ya?" mendengar diktat gratis membuatku langsung salah fokus, mengingat cukup mahalnya harga diktat dan aku punya keinginan untuk tidak membebankan semua biaya kuliah pada orang tuaku. Meski anak tunggal, tetapi aku sadar bahwa Umi dan Abah sudah tidak muda lagi. Usaha umroh sebagai sumber nafkah satu-satunya juga tak seberkembang dahulu. Makanya aku harus berusaha berhemat dan jeli untuk mencari peluang beasiswa.
Lucy mengajakku ke gedung sebelah. Kebetulan tak ada saingan karena info ini hanya di kalangan terbatas sehingga aku dan Lucy bisa membagi dua hasil hibahan kakak
__ADS_1
kelas tersebut. Ini lebih dari cukup untuk bekal semester awal. Aku begitu gembira membayangkan tak perlu lagi mengeluarkan uang dengan jumlah cukup banyak untuk membeli diktat-diktat baru.
Selain itu, Lucy juga mengajakku bekerja paruh waktu di klinik kesehatan kampus sebagai petugas jasa mengecek tensi, gula darah dan sejenisnya. Meski gajinya tidak terlalu besar namun cukup membantu menurutku. Makanya tawaran itu langsung aku terima.
"Terimakasih ya Lucy, karena kamu aku bisa mendapatkan semua ini. Aku berhutang sama kamu." kataku.
"Hmmm, jangan salah dulu Dihya, ini enggak gratis." ia tersenyum. "Traktir aku makan siang ya." pintanya, sambil menunjuk warung bakso yang kebetulan sudah agak kosong yang berada tak jauh dari klinik.
"Oke. Kalau cuma ntraktir bakso, sekarang juga nggak masalah. Uangku masih cukup kok, nggak perlu tunggu gajian!" kataku
Kami menuju warung bakso. Memesan dua mangkok bakso dan dua gelas es teh.
Selama makan, kami banyak bercerita. Dari perbincangan itu aku tahu siapa Lucy sebenarnya. Ia berasal dari keluarga berada, ayah dan ibunya profesor. Sekarang sedang bertugas di luar negeri. Lucy punya dua orang kakak yang juga seorang dokter tengah melanjutkan pendidikannya di Malaysia dan Singapura sambil mengabdikan diri di rumah sakit swasta sana.
"Hahaha, itu semua keberuntungan yang aku miliki, Dihya. Aku juga bersyukur terlahir sebagai anak ayah dan ibuku, juga jadi adik dari kakak-kakakku hingga mendapatkan keberuntungan ini." ia mengungkapkan kemudahan yang didapat menjadi bagian dari keluarganya. Ia merasa mungkin tak akan mendapatkan semua itu bila bukan bagian dari mereka. Namun menurut penilaianku, Apa yang diraih Lucy ya karena usahanya juga. Sejak mengenalnya, aku selalu memperhatikan bagaimana gigihnya ia. Selalu berusaha tanpa mengandalkan nama besar orang tuanya.
Hampir satu jam kami berbincang. Saking asyiknya aku sampai melupakan janji dengan Dinda. Bahkan, saat ia menelepon pun aku mengabaikan karena ku pikir hanya panggilan yang tidak terlalu penting.
Aku baru sadar saat baru berpisah dari Lucy. Ia hendak kembali ke klinik Sementara aku akan ke parkiran mengambil motorku.
Aku takut Dinda menunggu terlalu lama, makanya berlari sekencang mungkin menuju tempat Kami janjian. Dan benar saja, gadis itu Masin ada di sana dengan wajah murung. Saat melihatku ia terlihat lega.
"Maaf, aku tadi ke klinik dulu, lalu makan bakso makanya ...." belum selesai berbicara, Dinda langsung memotong. Wajahnya yang terlihat tenang berubah cemberut.
__ADS_1
"Makan bakso? Oh jadi aku menunggu satu jam di sini ternyata kamu makan bakso. Tega sekali kamu Dihya. Kalau enggak mau ketemu nggak apa-apa, tinggal jawab teleponku atau balas pesanku!" kata Dinda dengan nada sedikit tinggi.
"Apa sih langsung marah-marah seperti itu. Aku kan sudah minta maaf, lagipula siapa suruh kamu datang terlambat lima belas menit dari waktu yang kita janjikan. Kamu juga enggak nelfon atau mengirim pesan!" aku membalasnya dengan menyalahkan Dinda. Kalau ia tidak terlambat mungkin aku tak akan pergi dengan Lucy ke gedung sebelah, tidak lanjut makan bakso juga.
"Aku terlambat juga gara-gara kamu. Lagian cuma lima belas menit kamu enggak terima, sementara aku nunggu kamu sendiri di sini hampir satu jam!" Dinda masih belum mau terima.
"Kenapa aku?" aku menatapnya bingung.
"Ya, gara-gara kamu. Aku harus menghadapi Amira dulu. Dia banyak nanya tentang kamu makanya aku nggak bisa datang tepat waktu. Padahal aku sudah siap-siap setengah jam sebelum kesepakatan. Jadi semua ini karena kamu!"
"Lho, Amira ... kenapa dia ada si fakultas kamu?"
"Dia satu kelas denganku. Sudah? Mau tanya apa lagi tentang Amira?"
"Apa sih kamu?"
"Tuh, Amira sepertinya ada sesuatu sama kamu karena dia intens sekali nanya tentang kamu."
"Jangan berpikir sembarang Din,"
"Aku bicara sesuai kenyataan. Dia sepertinya suka sama kamu!"
"Oh,"
__ADS_1
"Dihya!" Dinda semakin kesal, ia sedikit berteriak lalu ia meminta barang titipan Umi, setelah dapat, Dinda hendak buru-buru pergi, saat ku tahan, ia malah mengelak, menunjukkan sikap yang menyebalkan.