
Ahmad memarkirkan roda duanya di depan sebuah bangunan yang berjejer rapi. Apa lagi kalo bukan kost-kostan yang murah? Di pinggir kuburan pula! Tapi memang sesulit itu sih Ahmad mencari tempat berteduh. Kalo aja kost lamanya tidak di renovasi, dia tidak akan pergi dari tempat yang sudah hampir empat tahun ia huni.
Mata Ahmad menyipit melihat ada garis polisi. Tapi rasa penasarannya cukup tinggi, ia meletakkan helmnya di atas motor sportnya.
Tak lupa, tas ransel yang ia bawa seadanya. Sisanya akan di angkut menggunakan mobil Bambang saat dia sedang off.
"Permisi pak!", sapa Ahmad pada salah seorang lelaki paruh baya yang berdiri melihat aktivitas di dalam kost.
"Iya mas?"
"Itu...ada apa ya pak?", tanya Ahmad sambil menunjuk ke arah dalam.
"Salah satu penghuni kost di temukan meninggal mas!", jawabnya.
"Innalilahi wa innailaihi Raji'un!", gumam Ahmad.
"Mas ini siapa ya? Baru liat?", tanya bapak itu.
"Saya mau kost di sini pak, baru di beri kunci sama ibu kost!", jawab Ahmad. Rumah ibu kost memang agak jauh dari kost tersebut. Ahmad sendiri mendapatkan informasi tempat ini dari teman kost yang bersama dengannya sebelumnya.
"Mas ngga takut? Sebelah sama belakang itu pemakaman umum lho!", kata si bapak. Ahmad menggeleng.
"Insyaallah ngga pak, kebetulan saya bekerja di rumah sakit..."
"Dokter?", tanya si bapak cepat.
Ahmad menggeleng.
"Bukan pak. Mana ada dokter yang kost di sini. Pasti gajinya besar. Saya cuma petugas pengurus jenazah saja pak!", jawab Ahmad pelan. Ya ... dia sudah terbiasa di bully karena pekerjaannya yang hanya seperti itu.
"Masyaallah, pasti mas ..."
"Ahmad pak!", sahut Ahmad.
__ADS_1
"Iya mas Ahmad, pasti mas Ahmad udah biasa yang liat setan atau arwah penasaran gitu ya? Pasti yang di urus ngga cuma pasien yang meninggal di rumah sakit kan?"
"Bapak bisa aja. Ngga sampai seperti itu kok ,Pak!", kata Ahmad merendah. Bukannya apa, dia memang baru akhir-akhir ini bisa merasakan dan melihat ha km semacam itu. Itu pun harus melalui petualangan mistis dengan Aini lebih dulu.
"Oh ya, saya Sahroni mas Ahmad. Kalo butuh apa-apa, warung saya di depan situ. Kalo pagi, istri saya jualan nasi uduk. Kali aja mas Ahmad mau beli sarapan di tempat saya."
"Oh...siap pak Sahroni, insya Allah!", kata Ahmad mantap.
"Ya udah bapak mau balik dulu, sepertinya pak polisi masih menginterogasi penghuni kost."
"Iya pak, silahkan!"
Ahmad pun melangkahkan kakinya menuju ke kamar yang tepat berada di dekat pintu gerbang. Sedang TKP, ada di ujung seberang yang bertembok langsung dengan tembok makam.
Sebagai seorang yang baru datang dan calon penghuni bangunan tersebut, Ahmad memperkenalkan diri pada polisi yang sedang di sana. Setelah menunjukkan tanda pengenalannya, polisi tersebut pun mempersilahkan Ahmad untuk ke kamarnya.
Mata Ahmad sempat melihat seseorang yang terdiam di salah satu sudut bangunan tersebut. Lelaki yang di taksir usianya sepantaran dengan Ahmad itu terlihat menunduk, seolah abai dengan keramaian kost. Tapi Ahmad tak menaruh curiga apapun, dia hanya orang baru yang sebaiknya tidak terlalu mencampuri urusan yang bukan urusannya.
Saat ia membuka kunci pintu kamar kostnya, seseorang yang sedang di interogasi oleh petugas menyita perhatiannya.
Merasa orang itu di di pojokan, Ahmad akhirnya ikut bergabung dengan kerumunan massa tersebut.
"Bapak bisa cek cctv kok, saya pulang jam satuan kurang lebih. Bapak bisa cek kan?", kata Ibas.
Salah satu petugas pun memberikan video dari cctv lorong di mana Ibas yang mengaku sempat menyapa Juned, tapi yang terlihat di cctv.....
"Hah??? Gue.... ngomong sendirian????", Ibas ternganga tak percaya. Ahmad menggeleng pelan, hal itu bukan sesuatu yang aneh bagi Ahmad.
Kasak kusuk pun terdengar di lorong tersebut. Akhirnya kasus itu akan di dalami lebih lanjut dan para penghuni kost di minta bersedia jika nanti di mintai keterangan.
Ponsel Ahmad berdering, Kholil menghubunginya.
[Ya?]
__ADS_1
[.....]
[Serius? Alhamdulillah. Kapan Aini sadar?]
Ahmad terdengar sangat bahagia mendengar kabar tersebut. Ternyata, Ibas mendengar percakapan antara Ahmad dan Kholil.
Apa Aini yang sama? Batin Ibas.
[......]
[Gue juga pengen jenguk, tapi...Lo tahu sendiri. Sejak Aini nikah sama dokter Ikbal dan dia di bawa pulang dari rumah sakit, gue belum sempat nengok dia lagi]
Aini? Ikbal? Menikah? Ibas menguping pembicaraan Ahmad.
[Heum, iya. Ntar coba gue hubungi nomor Aini. Kali aja dokter Ikbal ngijinin kita buat nemuin Aini. Tahu sendiri kan pak dokter ganteng itu, kayaknya nethink mulu sama gue]
[.....]
[Heum, serah Lo! Yang jelas, melihat orang yang di sayangi bahagia gue juga ikut bahagia kok]
[.....]
[Udah deh, gue mau beberes kamar kost baru gue dulu. Jangan lupa ntar Lo sama pak Bambang bawain barang gue di kost lama gue]
Setelah berbasa-basi cukup lama, sambungan telepon itu berakhir.
"Lo, temennya Aini? Aini udah sadar?", tanya Ibas tiba-tiba ke pada Ahmad yang baru memasukkan ponselnya ke saku.
Ahmad tak langsung menjawab melainkan menatap lawan bicaranya. Eh...apa dia bertanya padanya????
****
Terimakasih 🙏✌️🙏
__ADS_1
17.28