Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 46


__ADS_3

Ikbal dan Aini sudah sampai di halaman rumah milik keluarga Ikbal. Setelah mendapatkan informasi dari art nya jika Romi dan Rini ada di rumah.


Rencana makan malam bersama keluarga Ikbal pun mereka coba susun rapi. Sebenarnya Aini merasa grogi saat harus bertemu dengan keluarga Ikbal. Terlebih...dia dan Ikbal tidak ada hubungan apapun.


Saat keduanya sampai di depan pintu ruang tamu, ternyata Ibas pun pulang. Alhasil, dia melihat Aini dan Ikbal yang akan memasuki rumah mereka.


Marah!


Itu yang terlihat diwajah Ibas. Rasa kesal dan cemburu membuat Ibas makin terlihat kusut.


Ikbal menggenggam erat tangan Aini. Bukan maksud mau pamer kemesraan dengan Ibas, hanya saja Ikbal sejak tadi hanya ingin menenangkan Aini agar tidak grogi.


"Mas!", Aini sedikit menarik tangan Ikbal saat Ibas melintasi keduanya.


"Segitu mudahnya Lo lupain gue Ai?", tanya Ibas. Aini memilih tak menjawab karena di sudut hatinya masih ada sedikit rasa yang tak bisa di jelaskan.


"Ngga usah di bahas. Kamu hanya masa lalu Aini, dan aku lah masa depannya?", kata Ikbal.


"Ckkk... sebenarnya masalah Lo apa sama gue? Gue Deket Ilma, Lo larang. Gue pacaran sama Aini, Lo nikung. saudara macam apa begitu?", sindir Ibas.


"Udah mas ngga usah ladeni. Ayo masuk aja?!", kata Aini menggandeng tangan Ikbal. Tapi dengan cepat Ibas memisahkan tautan jari Aini dan Ikbal.


"Apa sih?", balas Ikbal.


"Udah mas, udah!", Aini menarik tangan Ikbal agar dia menghentikan pertengkaran yang tak ada ujungnya.


Ikbal pun menuruti apa kata Aini untuk masuk ke dalam rumah. Beruntung Romi dan Rini sedang duduk di ruang televisi.


"Assalamualaikum Ma!", sapa Ikbal pada mamanya.

__ADS_1


"Walaikumsalam, Bal!", Rini pun bangkit memeluk anaknya.


Aini mencoba mengangguk pelan untuk menyapa mamanya Ikbal. Tapi sepertinya, Rini kurang menyambut kehadiran Aini yang tentu saja segala ucapan di dalam hati Rini.


Aini mengangguk tipis itu menyapa mama dan papa tiri Ikbal yang tidak lain papa Ibas.


Setelah basa basi beberapa saat, semua berkumpul di meja makan. Mereka makan malam dengan hening.


"Oh iya Bal, tumben kamu sering pulang sekarang nak!", tanya Rini.


"Bukankah ini rumah ku? Apa ada aturan aku di larang pulang ke rumah ku sendiri?", tanya Ikbal.


"Bukan begitu sayang, jangan salah paham!", Rini mengusap punggung tangan Ikbal. Romi sendiri tak ikut bicara di sana, entah kenapa.


"Ibas, mau mama ambilkan lagi lauknya?",tanya Rini pada anak tirinya tersebut.


"Ngga usah Ma, terima kasih!", kata Ibas dengan lirikkan tajam pada Aini. Aini mencoba untuk tidak menggubris Ibas. Tapi kenyataannya, perasaan yang pernah sangat dalam pada sosok itu masih belum bisa ia hilangkan.


"Akan aku usahakan Om, om tenang saja. Sejauh ini aku masih bisa menghandle pekerjaan ku."


Lagi-lagi Romi merasa kesal, jemarinya menggenggam begitu erat. Selalu saja, anak tirinya tersebut mengabaikannya.


"Sayang, kenapa kamu ngga limpahkan saja pekerjaan kamu sama papa. Kamu kan juga capek nak. Sudah di rumah sakit, harus ke perusahaan pula. Kalau begini terus, kapan kamu mau kasih menantu buat mama?"


"Mama ngga lihat, calon menantu mama disini?", tanya Ikbal. Sontak Aini salah tingkah karena saat itu juga Ikbal menggenggam tangan Aini.


Ibas meremas sendok yang ada di genggamannya. Setelah itu, ia berdiri lalu membanting sendok yang sedang ia pakai.


Prang!!! Suara piring dan sendok beradu. Tanpa mengucapkan apa pun, Ibas meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Semua mata tertuju pada Ibas, tak terkecuali Romi.


"Bapak sama anak, sama saja!", gumam Ikbal yang mampu di dengar oleh Romi dan juga Rini. Apalagi Aini yang ada di sampingnya.


Romi menggebrak meja itu dengan kasar hingga membuat mereka yang duduk di sana terkejut.


"Kamu tidak ada hormat-hormatnya sama sekali pada orang tua Ikbal!", telunjuk Romi mengarah ke wajah Ikbal.


"Saya bisa menghormati siapapun yang memang pantas di hormati."


"Kamu....!", Romi siap menampar Ikbal tapi belom sempat tangan itu sampai ke kulit wajah Ikbal, Rini lebih dulu menahannya.


"Mas, jangan main kasar!", kata Rini.


"Anak kamu kurang ajar Rin. Dia tidak bisa menghormati ku sebagai suami kamu!", bentak Romi pada Rini hingga ia tertunduk takut.


"Jangan membentak mama ku!", teriak Ikbal. Romi yang memang cadel pun semakin emosi melihat Ikbal yang seolah sedang menantangnya.


"Sudah cukup sudah! Tolong jangan bertengkar seperti ini!", lerai Rini. Di sudut lain, Aini melihat kemarahan Ilma yang menatap tajam pada papa tirinya. Sosok cantiknya berubah seram seperti saat pertama kali ia melihat sosoknya.


Takut! Tentu saja ia merasa takut melihat penampakan Ilma saat ini. Rambut berantakan, biji mata keluar dengan perut yang sudah keluar isinya. Sungguh sadis sekali papa nya Ibas ini!!!


"Mas, kita pulang saja ya!", bisik Aini. Dia sudah mendapatkan rekaman suara papa nya Ibas untuk di cocokan dengan rekaman di ponsel Ilma.


Tanpa berpamitan pada mamanya, Ikbal menggandeng tangan Aini untuk segera keluar dari rumah tersebut.


Dan Ilma sendiri masih menatap benci pada papa tirinya yang sudah memaksanya berpisah dari orang-orang yang ia sayangi.


*****

__ADS_1


16.54


Terimakasih 🙏


__ADS_2