
"Si gondrong ngomong apa sama Lo Ain?", tanya Nita setelah melihat Ibas pergi dari kamarnya.
"Dia ngga mau putus!", kata Aini singkat.
"What? Ajegile! Jangan mau balik sama tuh anak! Gue ngga setuju!", kata Nita lantang.
"Gue ngga tahu Nit!", kata Aini sambil melipat kedua lututnya.
"Ngga tahu apa maksud Lo? Jangan bilang Lo masih ada rasa sama tuh anak! Lo lupa, dia udah nyelakain Lo? Udah bikin Lo koma? Iya?"
"Tapi...tapi..."
"Tapi apa? Dia ngga terlibat langsung, tapi dia itu penyebab Lo sampai kecelakaan Ain, ya Allah!", Nita menghapus kasar wajahnya. Aini hanya tertunduk.
"Dia janji bakal berubah!", kata Aini.
"Ckkk...kalo dia emang niat mau berubah, ya berubah aja! Ngga harus menjalin hubungan lagi sama Lo kan?"
Dalam hatinya pun Aini sebenarnya membenarkan ucapan Nita. Tapi entah kenapa ia melihat kesungguhan di mata Ibas. Aini bisa membedakan Ibas saat dia benar-benar tulus atau sedang bercanda.
Tapi tunggu! Bukankah Aini selama ini juga sudah di bodohi oleh Ibas? Kesuciannya jadi bahan taruhan Ibas dan teman-temannya?
"Ain! Lo ga nyadar apa? Selama ini hubungan Lo sama Ibas itu ngga sehat. Lo terlalu bucin sama dia, tapi dia nya ngga ngasih sebaliknya ke Lo. Sadar dong!", kata Nita mulai meninggikan suaranya.
__ADS_1
Aini memilih bungkam.
"Gue pikir Lo udah move on dari Ibas, Lo lagi sama dokter Ikbal kan? Bahkan dia udah secara langsung meminta Lo dari ortu Lo!", Nita menepuk bahu Aini.
"Tapi...gue ragu Nit. Gue...gue ngga pernah tahu perasaan mas Ikbal gimana ke gue. Gue cuma takut kalo ...kalo perasaan mas Ikbal itu seperti sayangnya dia ke almarhumah adiknya. Gue..."
"Siapa bilang?", tiba-tiba Ikbal nyelonong masuk ke kamar dua gadis itu yang pintunya terbuka.
Nita dan Aini menoleh bersamaan. Ikbal ikut duduk lesehan di hadapan dua sahabat tersebut.
"Mas Ikbal!", gumam Aini dan Nita.
"Nita, boleh aku bicara sama Aini?", tanya Ikbal.
"Mau beli makan siang sekalian",kata Nita sebelum dia ditanya oleh Aini atau Ikbal.
Tinggallah Aini dan Ikbal berada di kamar tersebut dengan posisi pintu yang terbuka.
"Mas Ikbal mau ngomong apa?", tanya Aini pada Ikbal.
"Keraguan kamu!", kata Ikbal. Aini menghela nafas panjang.
Seperti biasa, si arwah penasaran selalu tiba-tiba hadir. Dia menampakkan wujudnya dalam kondisi yang jauh lebih baik. Tidak seperti saat ada Ibas.
__ADS_1
Ilma menatap Aini dengan wajah datarnya.
'Kamu masih marah padaku sampai kamu menunjukkan wajah seram mu?', tanya Aini dalam hati pada Ilma. Ilma bergeming, tak menjawab pertanyaan Aini meski sama-sama di dalam hati.
"Aini!", Ikbal memanggil gadis itu yang terlihat sedang bengong.
"Heum?", gumam Aini.
"Aku...terus terang aku bukan tipe laki-laki yang romantis. Tidak tahu caranya mengungkapkan perasaan. Tapi...apa benar kamu tidak bisa merasakan seperti apa perasaan ku sama kamu dengan semua perhatian yang ku berikan padamu?", tanya Ikbal.
"Maaf mas, tapi... bukannya kamu hanya menganggap ku seperti adik? Seperti halnya kamu ke Ilma?", tanya Aini. Ikbal tersenyum.
"Awalnya iya, tapi semakin ke sini aku sayang sama kamu seperti sayangnya seorang lelaki pada perempuan dewasa. Kamu paham kan?", tanya Ikbal. Aini menoleh pada Ilma yang mulai menyunggingkan senyuman.
'Kalau kamu masih memikirkan Ibas, aku akan sangat marah sama kamu!', ancam Ilma.
Aini melirik tajam pada Ilma. Jadi benar, alasan Ilma menunjukkan wajah seramnya karena dia cemburu saat Ibas mendatanginya?
***
Terimakasih 🙏
11.13
__ADS_1