
Belum lama mobil keluar dari rumah sakit, azan magrib berkumandang. Suasana horor masih dirasakan oleh keduanya.
"Ada masjid, kita mampir dulu ngga apa-apa kan Ai?"
"Iya mas. Ngga apa-apa."
Mobil pun berbelok ke arah masjid yang sudah terlihat ada beberapa mobil di halaman masjid tersebut.
Aini dan Ikbal pun keluar dari mobil mereka. Dengan gerakan slow motion, Aini dan Ikbal menoleh ke atas mobil. Mereka Sama ingin memastikan apakah benar-benar ada yang ikut di atas mobil Ikbal.
Tapi ternyata tidak ada. Akhirnya mereka memutuskan untuk sholat Maghrib lebih dahulu.
Karena shaf mereka terpisah, Ikbal menunggu Aini di teras masjid. Tak lama kemudian, Aini pun menghampiri Ikbal.
"Maaf ya mas kalo lama, tadi di ajak ngobrol sama jamaah sebelah."
"Iya, ngga apa-apa. Mau langsung pulang apa makan dulu?"
"Terserah mas Ikbal saja."
"Ya udah, kita makan pecel lele aja di depan situ. Mau?"
"Aku ngga doyan lele mas, mungkin menu yang lain ada kali di warung itu."
Ikbal pun mengangguk setuju. Keduanya berjalan beriringan menuju ke warung pecel lele yang tak jauh dari jalan depan masjid.
"Ai?"
"Iya mas?"
"Kalau masa kontrak kami selesai, mau ngga pulang kampung dulu? Nemuin kedua orang tua kamu?"
Aini menoleh cepat.
"Untuk...apa ya mas?"
"Mas mau melamar kamu, jadi istri mas. Aku... ngga mau pacaran lama-lama. Banyak zinah nya!", kata Ikbal. Aini menautkan kedua alisnya.
"Mas Ikbal lagi nyindir aku?", tanya Aini.
"Kok nyindir? Ya ngga lah Ai. Nyindir yang kaya gimana sih?"
__ADS_1
"Mas Ikbal kan tahu aku pacaran cukup lama sama Ibas."
Ikbal terkekeh pelan lalu mengusap kepala Aini penuh perhatian.
"Itu kan masa lalu kamu Ai. Yang penting masa depan kamu sekarang tuh aku. Aku ngga mau pacaran lama, mau nya pacaran habis nikah aja!", kata Ikbal penuh percaya diri.
"Emang sejak kapan kita pacaran?", Aini menoleh pada Ikbal. Sontak Ikbal melotot tajam lalu menyentil kening Aini.
"Ish...kdrt ini lho mas!", kata Aini memanyunkan bibirnya.
"Emang kdrt apa? Kekerasan dalam rumah tangga? Kan kita belum nikah? Gimana mau berumah tangga?", tanya Ikbal membalas ucapan Aini perihal pacaran tadi.
"Heuh! Emang ya, ngomong sama orang pinter mah gitu. Di balikin lagi omongannya."
"Hei? Kapan mas balikin omongan kamu? Ngga kan?"
Perdebatan kecil itu terus berlanjut sampai mereka duduk di warung pecel lele.
"Pecel ayam yang dada dua ya mas!", kata Aini.
"Kok kamu tahu kalau mas suka yang dada?", tanya Ikbal iseng. Aini menoleh cepat pada Ikbal sambil mencebikkan bibirnya. Ikbal pun hanya terkekeh geli melihat pujaan hatinya seperti itu.
"Minum nya apa mas, mba?", tanya penjual tersebut.
"Samain aja!", jawab Ikbal. Mereka berdua pun menunggu pesanan. Jika Ikbal memainkan ponselnya, entah berbalas pesan dengan siapa.
Tapi tidak dengan Aini. Matanya menatap aktivitas makhluk tak kasat mata yang berada di belakang panci kuah. Entah kuah apa, soto barang kali.
Makhluk itu sedang jongkok lalu meludah ke arah mangkok yang di bawa penjual ke dekat panci untuk di sediakan ke pelanggannya.
Mendadak Aini merasa mual. Dia mencoba menutupi mulutnya dengan tisu yang ada di mejanya.
Seperti menyadari jika dirinya sedang diperhatikan, makhluk itu menatap tajam pada Aini. Aini buru-buru mengalihkan pandangannya dari makhluk itu. Apalagi mualnya sepertinya tak bisa ia tahan.
Ikbal yang sejak tadi memainkan ponselnya pun langsung memusatkan perhatiannya pada Aini.
"Astaghfirullah, kamu kenapa Ai?", tanya Ikbal sambil memijat tengkuk Aini. Gadis itu hanya menggeleng pelan.
"Istrinya lagi ngidam ya mas?", tanya salah seorang pelanggan. Ikbal hanya tersenyum tipis.
"Mas, ngga jadi makan di sini, ngga apa-apa kan?", tanya Aini. Ikbal menaikkan salah satu alisnya karena bingung.
__ADS_1
"Tapi kita udah pesan Ai? Ngga enak."
Aini pun mengangguk.
"Apa mau di bawa pulang aja?", tanya Ikbal lagi. Aini justru menggeleng. Aini tak mau makan makanan dari sini. Jika selama ini ia hanya mendengar hal seperti ini dari orang lain, kali ini ia benar-benar melihatnya secara nyata di depan matanya.
"Maaf mas, mungkin mba nya udah terlanjur mual. Orang hamil memang sering seperti itu. Sabar aja ya mas!", kata pelanggan di sebelahnya.
Aini mendelik tajam mengumpat dalam hatinya. Tapi dia juga tidak mau menjelaskan hal tersebut karena menurut nya hal itu tak perlu di jelaskan pada mereka.
"Mas nya pesan apa tadi? Kalau ayam, biar buat saya dan pacar saya saja!", kata pelanggan yang duduk di hadapan Ikbal.
"Oh, iya. Kami pesan ayam, silahkan kalau begitu. Terimakasih ya mas!", ucap Ikbal sambil memapah Aini agar bangkit dari kursinya.
Ikbal pun meminta maaf pada penjualnya tersebut karena ia batal makan di sana. Tentu saja si pelayan warung tak keberatan, toh mereka belum makan apa-apa dan pesanan mereka pun di gantikan oleh pelanggan lain.
Setelah berhasil mengajak Aini keluar dari warung tersebut, Ikbal mengajak Aini masuk ke mobil dengan membuka kaca mobilnya lebar-lebar.
Ia memberikan air mineral yang ada di jok belakang.
"Maaf ya, tadi mas udah sempet buka dan minum dikit. Kalo kamu keberatan, biar mas beli yang baru aja."
"Udah mas, ngga apa-apa!",tolak Aini. Aini pun meneguk air mineral tersebut.
"Sebenarnya ada apa Ai? Kamu sakit lagi?", tanya Ikbal penuh perhatian dengan punggung tangannya yang menempel di kening Aini.
Gadis itu menggeleng lemah. Lalu ia pun menceritakan tentang apa yang di lihatnya. Ikbal mendesah pelan. Dia menyesal mengajak Aini ke warung tadi. Dan sekarang dia bingung, mau mengajak Aini makan di mana?
"Kamu udah lapar banget?", tanya Ikbal. Aini menggeleng.
"Ngga sih mas."
"Kalau menunggu mas masak, kamu masih sanggup kan? Kita ke apartemen ku dulu buat masak. Dari sini lebih dekat di banding ke kost kamu. Ngga masalah kan?"
"Apartemen?", tanya Aini. Ikbal tersenyum tipis.
"Cuma masak dan makan Ai. Aku ngga akan apa-apain kamu!", tangan Ikbal mengusap kepala Aini dengan lembut. Aini menjawab dengan anggukan dan tersenyum manis.
*****
09.50
__ADS_1
Maaf kalo sampe sekarang belum bisa dapet greget horor nya, masih belajar 🙏🙏🙏🙏🙏
Terimakasih.