
Mobil yang Ikbal kendarai sudah terparkir di parkiran khusus karyawan rumah sakit. Aini dan Ikbal turun dari mobil.
"Mas, aku duluan ngga apa-apa kan? Mau ke ruangan admin, ketemu mba Dewi!", kata Aini.
"Mas antar!", kata Ikbal sambil memakai jas profesinya. Melihat ketimpangan penampilan antara dirinya dengan Ikbal yang begitu mencolok, spontan Aini menahan tangan Ikbal yang satu langkah lebih depan dibandingkan dirinya.
"Kenapa Ai?", tanya Ikbal sambil memandang tangan Aini yang mencekal pergelangan tangannya.
"Eum, mas! Jangan di temenin deh. Aku ngga enak!", kata Aini.
"Ngga enak sama siapa?", tanya Ikbal curiga.
"Ya....ya ngga enak aja. Kesannya aku masuk kerja ke sini gara-gara jalur orang dalam, kamu mas!", Aini mencoba memberikan alasan yang masuk akal.
Mana mungkin dia akan jujur mengatakan kalau dia malu jika bersama Ikbal yang notabene seorang dokter. Sedang dia????
"Udah ayokkk!", justru sekarang Ikbal yang menggenggam tangan Aini dan menariknya menuju lorong rumah sakit dimana ruangan administrasi berada.
Aini hanya pasrah saat beberapa perawat yang berpapasan dengan Ikbal menyapanya. Aini sedikit kikuk karena sikap Ikbal yang nampak posesif.
"Mas, ngga ikut ke dalam juga kan?", tanya Aini saat mereka berdua sudah berada di depan pintu ruang administrasi.
"Memang kenapa sih?", tanya Ikbal.
"Aku bisa sendiri kok mas!", sanggah ku. Ikbal menghela nafas pelan.
"Baiklah, kalo ada apa-apa langsung hubungi aku."
Ikbal mengusap lembut puncak kepala Aini yang berbalut jilbab berwarna coklat susu. Aini pun mengangguk pelan.
Kamu jangan bikin baper kenapa sih mas!!?!?!
__ADS_1
Aini mengetuk pintu ruang admin. Setelah ada sahutan dari dalam, barulah ia masuk ke sana.
"Assalamualaikum?!"
"Walaikumsalam!", jawab Dewi dan Ahmad yang kebetulan ada di sana.
"Pagi mba Dewi, mas Ahmad!", sapanya.
"Pagi Ai...n! Lupa gue, cuma dokter Ikbal yang boleh manggil Ai!", Ahmad menaik turunkan alisnya pada Dewi yang di sahuti dengan anggukan.
"Apaan sih mas Ahmad!", kata Aini.
"Kamu cuma absen di sini Aini! Ruangan kita di sana, dekat kamar jenazah!", kata Ahmad.
"Oh, gitu?!"
Dewi membuat absen finger print untuk Aini sebelum gadis itu ikut ke ruangannya bersama Ahmad, Kholil dan Bambang.
Setelah selesai absen, gadis itu pun berjalan beriringan menuju ke ruangan yang akan di tempati olehnya.
Meski sudah menjadi keharusan bahwa mengurus mayit adalah Fardu kifayah, tapi profesi ini lah yang Aini ambil. Jadi, selain karena butuh uang Aini juga beribadah.
Tak ada penampakan apa pun selama menuju ke ruangannya. Aini bisa bernafas lega.
"Oh iya, kamu kost di mana?", tanya Ahmad.
"Kenapa?", tanya Aini balik.
"Ngga usah nethink! Di sini sistem nya kalo memang di butuhkan, kamu di panggil meski tengah malam. Kan kasian kalo kost kamu jauh!", kata Ahmad.
"Oh, gitu ya. Deket sih, paling kalo naik ojol ngga sampe lima belas menit."
__ADS_1
Ahmad mengangguk paham.
"Deket sama kost yang ada kasus itu bukan sih?", tanya Ahmad kepo.
"Iya, emang di situ kost ku !", jawab Aini.
"Yakin Lo masih mau kost di situ?", tanya Ahmad memastikan.
"Yakin nih Lo Gue? Bukan aku kamu?", tanya Aini.
"Ah elahhhh.... B aja lah Aini!", kata Ahmad. Aini pun mengangguk.
"Ya...ya gimana, udah betahnya di situ. Lagian mau pindah juga males."
"Tapi enak kali di antar jemput sama pak dokter?"
"Heum!", jawab Aini. Lalu keduanya pun masuk ke ruangan mereka.
Jika biasanya karyawan baru di sambut ramah oleh para rekan kerjanya, berbeda dengan Aini.
Saat ia masuk kedalam ruangan tersebut, segala bentuk makhluk menyeramkan menyapa kehadirannya.
Kholil dan Bambang tak merasakan kehadiran para makhluk-makhluk tak kasat mata itu. Aini bersikap seolah tak melihatnya.
Tapi justru mereka menunjukkan eksistensinya.
Aku harus kuat! Ayo Aini, kamu pasti bisa beradaptasi. Mereka tak mengganggu mu! Kamu tak sendiri di dunia ini karena mereka lebih dulu ada Aini!
Aini dan Ahmad mengucapkan salam pada Kholil dan Bambang. Setelah duduk di bangku yang tersedia untuknya, Ai j berdoa dalam hatinya agar para makhluk yang ada di sana tak mengganggu dirinya atau pun rekan kerjanya.
****
__ADS_1
22.06
Terimakasih 🙏🙏🙏