Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 23


__ADS_3

Aini sudah memakai pakaian formal khas melamar pekerjaan meski bukan setelah hitam putih ya???


"Emang Lo mau lamar kerja di mana? Udah dapat info?", tanya Nita saat dirinya sedang merias diri di depan cermin dengan seragam merah sesuai toko dimana ia bekerja.


"Eum...dirumah sakit!", jawab Aini singkat sambil memakai sepatu kets.


"Di rumah sakit? Lowongan kerja apa di rumah sakit? Office Girl? Cleaning service?", tanya Nita. Aini menggeleng.


"Bukan! Tapi...ngurus jenazah!",jawab Aini santai.


Uhuk-uhuk-uhuk Nita sampai tersedak ludahnya sendiri karena mendengar jawaban Aini.


"Yang bener aja Lo???"


"Iya lah. Gak apa-apa, gue coba dulu! Bismillah aja!", jawab Aini optimis.


"Wait! Lo...ga takut?", tanya Nita.


"Ya... pokoknya coba aja dulu! Kalo udah biasa juga pasti bisa. Lagian...kita semua juga nunggu giliran aja kok!", sahut Aini.


"Astaghfirullah...Lo jangan ngomong gitu dong! Serem ihh...!", kata Nita mengangkat bahunya bergidik ngeri.


"Lo yang bahas duluan."


"Lamar di rumah sakit mana nih?"


"Rumah sakit Xxx!", jawab Aini.


"Rumah sakit waktu Lo dirawat? Yakin Lo mau kerja di sana? Atau...mau pedekate sama dokter Ikbal ya?", ledek Nita.

__ADS_1


"Eum...bisa jadi! Ya gimana ya, gue juga harus move on dari Ibas dong! Siapa sih yang mau nolak pesonanya dokter Ikbal udah baik, ganteng lagi!", canda Aini.


"Heum, jadi udah ngaku kalo lagi kesengsem sama dokter Ikbal nih?", Nita menyenggol bahu Aini yang memunggungi pintu.


"Kenapa? Masalah buat Lo?", sahut Aini dengan nada kesal.


"Ngga masalah sih! Malah bagus dong??? Jadi...kita bisa couple-an kalo jalan!", jawab Nita masih dengan menaik turunkan alisnya.


"Ciiih...itu mah mau Lo aja. Udah ga jaman kali jalan-jalan mulu, yang ada jalani rumah tang-ga!", ucapan Aini tersendat saat berbalik badan sudah ada Ikbal di sana memasang senyuman menawan.


"Ehem, eh... dokter Ikbal? Udah dari tadi ya? Maaf ya....ga di persilahkan masuk! Soalnya tadi ada yang lagi bikin pengakuan!", ledek Nita. Ikbal tersenyum dan mengangguk tipis.


Aini memberi kode agar Nita tak berbicara macam-macam. Apalagi soal jawaban iseng yang keluar dari mulut Aini tadi. Aini takut kalau Ikbal salah sangka padanya.


"Kenapa mata Lo kedip-kedip begitu? Kelilipan?", tanya Nita dengan isengnya.


"Ishhh...udah ah sana Lo berangkat!", dorong Aini pada Nita.


"Iya, yang ketiga itu setan. Dan setan nya itu Lo. Udah sana berangkat Lo. Mau makan gaji buta?!!"


"Ishhh...kasar banget Lo Ain, ngga kaya biasanya kaya bangsa lelembut. Mesti salting karena ada dokter Ikbal ya? Biar dokter Ikbal ilfeel sama Lo kan? Ngaku ngga?", Nita masih terus meledek.


Sedang dokter Ikbal masih tertawa pelan karena mendengar dua sahabat itu bertengkar.


"Udah sana berangkat!", Aini mendorong Nita keluar dari kamarnya.


"Iya, gue jalan?! Permisi ya pak dokter. Nitip sahabat saya!", ledek Nita.


"Nita....!", pekik Aini kesal. Tapi gadis itu berlari menjauh dari sana.

__ADS_1


"Maaf ya mas Ikbal!", kata Aini mulai tidak enak.


"Ngga apa-apa. Kamu pakai baju formal gini ,mau pergi?", tanya Ikbal.


"Eum, iya mas. Mau melamar kerja sama mau...ke kantor polisi!", jawab Aini.


"Melamar kerja di mana? Dan mau ngapain ke kantor polisi?"


"Di rumah sakit Xxx. Ada lowongan pekerjaan di sana!", jawab Aini.


"Lowongan pekerjaan apa dirumah sakit? Setahu ku hanya ada lowongan buat ngurus di kamar...jenazah?"


Aini tersenyum kaku dan mengangguk pelan.


"Iya mas. Kerja apa aja yang penting halal!", jawab Aini.


"Ngga takut?", tanya Ikbal.


"Ya...coba aja dulu sih!", jawab Aini.


"Kalo ke kantor polisi, mau apa?"


"Lapor kasus tetangga kamar yang bundir. Semalam dia nemuin aku mas. Tapi... polisi kan ngga bakal percaya. Jadi...aku cuma mau kasih tahu ke polisi kalau almarhumah punya bukti siapa pelakunya sebelum dia meninggal. Soalnya...meninggalnya bukan karena bunuh diri, melainkan di bunuh oleh seseorang!"


"Innalilahi wa innailaihi Raji'un!"


"Mas Ikbal ada kepentingan sama aku pagi-pagi udah ke sini?"


"Heum? Tadinya mau ajak kamu ke rumah mama ku. Tapi kalo kamu mau ada acara lain, ngga usah ke sana. Aku temani kamu ke kantor polisi dan ke rumah sakit."

__ADS_1


"Hah?", tanya Aini cengok.


"Katanya mau move on dari Ibas?", ledek Ikbal. Mata Aini membulat.


__ADS_2