Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 77


__ADS_3

Kasak kusuk tentang percakapan antara Aini dan Ahmad soal 'menikah' terdengar hingga telinga Ikbal yang baru saja praktek siang.


"Bukannya tuh cewek lagi Deket sama dokter Ikbal ya? Kok ada niat merit sama si Ahmad sih?", kata seorang perawat berbisik kecil tapi terdengar oleh Ikbal yang kebetulan melintas.


"Tahu tuh, sok kecakepan banget ya. Tampang biasa aja sok-sokan nolak dokter Ikbal!", sambung temannya.


Ikbal yang tak tahu menahu apa yang mereka bicarakan pun memilih abai. Tapi ternyata, omongan semacam itu kembali terdengar.


"B*** ngga sih tuh cewek, lebih milih petugas kamar jenazah di bandingkan dokter Ikbal. Apa coba bagusnya tuh cewek!"


"Ya... mungkin cari yang sepadan!", sahut rekannya.


Ikbal sudah tak bisa bersikap abai hingga akhirnya ia mencoba mencari keberadaan Aini di kamar jenazah. Ternyata sedang berlangsung sholat jenazah. Tapi tak terlihat Aini di sana.


Ikbal pun memutuskan untuk menuju ke ruang kantor Aini. Seperti dugaannya, Aini ada di dalam sana karena ia bisa melihat punggung Aini dari kaca.


Tuk...tuk...


Ikbal mengetuk kaca di belakang Aini yang tengah duduk. Gadis itu pun menoleh lalu tersenyum simpul dan bangkit dari kursinya. Ia keluar dari ruangannya tersebut.


"Sibuk?", tanya Ikbal tanpa basa-basi dengan mimik wajahnya yang berbeda di mata Aini.


"Ngga mas. Tadi beres mandiin jenazah. Cuma ngga ikut sholat aja, jadi langsung balik sini ngerjain laporan. Ada apa mas? Mas Ikbal nyari aku?", tanya Aini.

__ADS_1


Ikbal memalingkan wajahnya tak mau menatap Aini yang membuat gadis itu bingung. Beruntung dia bisa mendengar suara hati Ikbal yang ternyata sedang marah padanya.


"Mas Ikbal marah sama aku? Kenapa?", tanya Aini tiba-tiba dan langsung membuat Ikbal menoleh.


"Aku lupa, bahkan kamu bisa mendengar suara hati ku ya!", kata Ikbal tersenyum. Tapi di mata Aini, senyum Ikbal berbeda dari biasanya.


"Mas Ikbal kenapa? Kenapa marah sama aku?", cerca Aini.


"Kamu...ada niat nikah sama Ahmad!?", tanya Ikbal pada Aini.


Aini melongo di buatnya. Bukan hanya Aini, tapi juga Ahmad, Kholil dan juga Bambang yang baru selesai bertugas. Jenazah langsung di bawa oleh pihak keluarga dengan ambulance partai politik entah apa.


"Aku? Nikah sama mas Ahmad?", tanya Aini membeo. Lalu ia menatap Ahmad dan yang lain yang juga sama-sama herannya.


Ikbal pun menoleh ke arah Ahmad cs. Tapi setelah itu, Ikbal melengos.


Ya, walaupun dia memang menaruh hati pada Aini tapi dia sadar diri. Ikbal bukan lawan yang sepadan dengannya. Lebih baik mundur teratur!


"Siapa yang mau menikah dengan siapa sih mas? Aneh-aneh aja. Lagian siapa sih yang bikin gosip kaya gitu. Kaya kita artis besar aja, iya kan mas Ahmad!"


Ahmad mengangguk setuju.


"Tapi... mereka bilang...!"

__ADS_1


"Mereka siapa?", Aini memotong ucapan Ikbal.


"Ngga jadi deh!", kata Ikbal. Aini menghela nafas panjang.


"Mas, ngga usah dengerin apapun. Katanya mas Ikbal percaya sama semua yang aku bilang."


Ikbal mengangguk.


"Iya, maaf!", Ikbal mengusap puncak kepala Aini. Ahmad sendiri memalingkan wajahnya, tak ingin melihat kemesraan di depan matanya.


"Oh iya mas Ahmad, tadi...berasa banyak jamaah nya ngga?", tanya Aini. Ikbal, Kholil dan Bambang menoleh pada Aini dan Ahmad bergantian.


"Huum! Sepertinya almarhumah orang baik. Bahkan dari bangsa lain saja, ikut menyolatkan beliau."


"Iya mas. Aku sepemikiran!", kata Aini. Tapi ternyata ucapannya terhenti saat mata Aini menangkap sosok-sosok yang baru saja ia bicarakan dengan Ahmad.


'Mereka' berjalan melewati Aini dan yang lain. Dengan sedikit anggukan, mereka lewat seolah menyapa Aini dan Ahmad.


Tapi Ikbal, Kholil dan Bambang yang tak mampu melihat apa yang Aini dan Ahmad lihat hanya bergidik ngeri dengan bulu kuduknya yang berdiri.


"Gue yakin, tuh bocah dua lagi liat yang aneh-aneh!", bisik Kholil pada Bambang. Bambang hanya mengangguk tipis.


****

__ADS_1


Terimakasih


11.58


__ADS_2