
Buat kamu Nenk Chi , Yuli Eka R 🤗🤗🤗🤗✌️✌️
**********
Romi kembali ke meja makannya yang ada dikantin. Sebenarnya, hampir semua karyawan perusahaan tersebut merasa heran.
Sebagai suami dari Nyonya Rini, istri dari almarhum bos mereka sebelumnya, kenapa Romi masih bekerja menjadi staf biasa.
Kenapa tidak diberikan posisi yang lebih mentereng. Minimal salah satu manajer. Tapi kenyataannya, Romi masih seperti karyawan pada umumnya.
Dalam pandangan para karyawan perusahaan Ikbal, Romi terlihat sangat kasian karena seolah tidak di anggap oleh Ikbal si pewaris utama perusahaan tersebut.
Padahal, Ikbal sendiri adalah seorang dokter yang cukup sibuk di rumah sakit. Tapi dia masih sempat mengurus perusahaannya sendiri di bandingkan menyerahkan pada ayah tirinya.
Romi dan beberapa rekannya kembali ke kubikel mereka hingga suara para rekannya menyapa seseorang menarik atensi Romi.
"Selamat siang Nyonya!", sapa mereka pada Rini.
"Selamat siang!", jawab Rini. Jika pada Romi, mereka memperlakukannya layak nya teman sejawat, tidak pada Rini.
"Lho, ma? Kapan datang?", tanya Romi pada Rini.
"Sejak tadi!", jawab Rini datar sambil menyerahkan kotak makanan untuk Romi. Romi pun menerima kotak tersebut.
Pemandangan tersebut menarik perhatian hampir semua karyawan yang ada dalam satu divisi Romi.
"Aku mau bicara, mas!", kata Rini lalu meninggalkan ruangan Romi. Tak lama kemudian dia pun mengekor di belakang Rini hingga mereka memasuki ruang meeting.
__ADS_1
"Ada apa mama sampai jauh-jauh ke kantor?", tanya Romi.
"Awalnya hanya ingin mengantarkan makan siang."
"Awalnya? Berarti ada hal lain sekarang!?", tanya Romi. Rini menatap tajam pada suaminya.
"Aku mendengar pembicaraan mu dengan Ibas, mas!", kata Rini. Romi mengangkat kedua alisnya dan tersenyum miring.
"Oh ...lalu?", tanya Romi santai.
"Kamu sesantai itu mengatakan perihal kematian Ilma mas?", tanya Rini.
"Memang apa yang kamu dengar?", tanya Romi duduk di salah satu kursi sambil mengangkat salah satu kakinya ke paha satunya.
"Mas! Ibas mengatakan kalo kamu di duga terlibat dalam kasus pembunuhan Ilma! Benar begitu mas?", tanya Rini sambil menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu ingin jawaban apa dari ku?", tanya Romi dengan mata nyalang.
Rini tak dapat berkata-kata karena cengkeraman di dagunya. Lalu dengan kasar Romi melepaskannya.
Rini menggeleng tak percaya, selama ini ia tahu suaminya memang kasar. Tapi jika benar dirinya terlibat dalam kasus pembunuhan itu, Rini amat sangat kecewa.
"Mas...!"
"Iya, aku sudah menghabis suami mu dan sopirnya saat itu Rini!", kata Romi tepat di depan wajah Rini. Tiba-tiba air mata Rini lolos begitu saja. Kepalanya menggeleng lemah.
"Dan ya...aku memang sudah menyingkirkan anak bungsu mu yang sudah ikut campur urusan ku!"
__ADS_1
Rini tak bisa berbuat apa-apa. Badannya lemah bagai tak bertulang. Dia merosot hingga kelantai sampai terduduk lemas.
Romi pun berjongkok di hadapan istrinya. Dia mengusap pelan puncak kepala Rini.
"Kamu tahu Rin, Fauzan adalah sahabat ku. Tapi dia selalu beruntung mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Kekayaan, kehormatan dan juga kamu Rini!", kata Romi penuh penekanan.
Rini menangis histeris mendengar ucapan Romi.
"Setelah tahu, kamu mau apa heum? Mau menjebloskan ku ke penjara?", tanya Romi.
Rini masih tergugu di tempatnya.
"Silahkan bermimpi Rin! Aku sudah memastikan tidak akan ada barang bukti sekecil apa pun! Andai kata kamu buka suara pun, aku pastikan kamu akan terseret di dalamnya dan putra mu yang memiliki banyak nyawa itu...akan menyalakan dan menyudutkan mu!", Romi berkata penuh penekanan sambil menepuk pelan pipi Rini.
Mendadak hidung Romi mencium aroma anyir. Dia menutup hidungnya karena bau itu amat sangat menyengat. Tapi dia merasa aneh, Rini tampak tak terganggu dengan aroma anyir tersebut hingga mata Romi terbelalak.
Dia yang sedang jongkok di hadapan Rini pun terjungkal ke belakang saat menyadari ada sosok menyeramkan yang sudah ia habisi beberapa tahun lalu. Wajah Ilma yang di kerubuti belatung. Bola mata yang lepas. Darah yang menetes di wajah hingga isi perutnya yang hampir terurai. Sesadis itu kah seorang Romi?????
Rini sempat terkejut melihat Romi yang tiba-tiba jatuh terjungkal dengan wajahnya yang pucat dengan mulut terbuka.
Dengan gerakan cepat dan sesekali jatuh, Romi keluar dari ruangan meeting tersebut. Rini menoleh ke sekeliling ruangan tersebut. Tidak ada apa pun di sana. Dia masih menyisakan isakan kecil.
Rini menghapus air matanya. Matanya sudah bengkak karena terlalu banyak menangis. Dia cukup malu jika ada yang melihat dirinya seperti sekarang ini.
Rini pun mengeluarkan kaca mat hitamnya dari dalam pouch nya. Setelah itu ia pun keluar dari ruangan meeting tersebut. Rini bersikap seolah tak terjadi apa-apa antara dia dan suaminya di hadapan para karyawannya.
**** Terimakasih
__ADS_1