
Hari ini Ikbal tidak ke rumah sakit melainkan mengunjungi kantornya. Anggap aja kali ini ia sedang sidak. Kenapa? Biasanya dia akan datang siang hari ke kantornya. Itu pun tidak lama.
Tapi tidak kali ini. Banyak hal yang harus Ikbal urus selama dia off di rumah sakit. Termasuk soal keuangan perusahaan. Banyak dana yang keluar dari pengeluaran seharusnya. Ada departemen yang terindikasi melakukan kecurangan bersama bagian keuangan.
Meski Ikbal sudah tahu pelakunya, tapi dia tak ingin gegabah. Dia harus menjebak si pelaku hingga mengakui secara langsung di depan umum.
Siapa dia? Tentu saja papa tirinya yang bekerja sama dengan manajer keuangan. Ikbal tak langsung menangkap begitu saja karena Romi terlalu pandai memanipulasi data. Lagi pula, dia hanya di belakang layar. Selebihnya manajer keuangan yang melakukan tindakan sesuai arahan Romi.
Ikbal sudah menyerahkan bukti pembunuhan Ilma yang mengarah ke Romi tentunya. Tapi yang berwajib tidak langsung mengirim surat penangkapan pada Romi atas permintaan Ikbal sendiri. Dia juga ingin Romi di ringkus dengan kasus korup di kantornya.
Dua kali kasus pembunuhan dan kasus korupsi. Entah berapa lama hukuman yang akan Romi jalani!
Ikbal memasuki ruangannya. Kali ini dia langsung menemui orang kepercayaannya. Dia menjelaskan semua masalah yang ada di perusahaan tersebut.
"Romi belum tahu kalo kita sudah menyelidiki semuanya?", tanya Ikbal.
"Belum mas. Saya rasa, dia terlalu percaya diri jika dia tidak akan terendus oleh kita."
"Huum! Biarkan dia merasa jumawa lebih dulu. Setelah bukti pembunuhan dan korupsi nya terkumpul, kita akan lihat apakah dia masih bisa berpura-pura jadi orang polos yang seolah tak tahu apa-apa padahal dia dalang di balik semuanya!"
"Iya mas!"
"Kamu bisa melanjutkan pekerjaan, terimakasih!", kata Ikbal.
Sean, tangan kanan Ikbal pun mengiyakan dan langsung keluar dari ruangan tersebut. Ikbal sendiri mulai mempelajari pekerjaannya. Banyak laporan yang harus di benahi.
__ADS_1
Saat Ikbal tengah serius dengan beberapa tumpukan berkas, dari ujung matanya ia bisa melihat sesuatu yang seolah sedang mendekat padanya. Tapi saat ia menoleh, dia tak melihat apa pun.
"Yang tadi itu apa???", gumam Ikbal.
Bulu kuduknya mendadak berdiri. Tapi dia berusaha berpikir positif. Dia meraih remote AC nya lalu menaikkan suhunya agar tak terlalu dingin.
Lalu, ingatannya kembali pada saat di mana ia seolah sedang di cekik hingga susah bernafas. Sampai akhirnya selama menjadi anggota keluarganya, Ibas yang menolongnya dan mengantarkan ke rumah sakit.
Ikbal membaca taawudz lalu merapalkan doa yang dia hafal. Sambil memejamkan matanya, Ikbal meyakinkan dirinya jika Allah sebaik-baik pelindung.
Perlahan hawa dingin yang cukup membuatnya takut tadi perlahan kembali normal.
Dokter tampan itu membuka matanya. Antara percaya dan tidak percaya! Benarkah makhluk tak kasat mata itu sedang mengincar dirinya?
"Astaghfirullahaladzim!", Ikbal mengusap kasar wajahnya.
Benarkah ada yang menginginkan dirinya celaka? Tapi ...kenapa harus yang berbau supranatural seperti itu?
Tok....
Tok....
Ketukan pintu menyadarkan Ikbal dari lamunannya. Dia tak boleh terlihat takut oleh siapa pun. Apalagi jika itu adalah Romi.
"Masuk!", pinta Ikbal. Orang itu pun masuk, ternyata Sean yang mengetuk pintunya.
__ADS_1
"Kenapa? Ada masalah?", tanya Ikbal.
"Tidak mas, tapi saya hanya ingin mengingatkan jika sudah masuk jam makan siang. Anda ingin makan di luar atau saya pesankan?", tanya Sean.
"Kita makan di luar saja kalau begitu, tapi saya mau ke mushola dulu. Kamu bisa tunggu di loby?!", kata Ikbal sambil melepaskan jas nya.
"Baik mas!", Sean pun menuruti bos nya lalu ia lebih dulu menuju ke loby.
Sedang Ikbal sendiri bergegas menuju mushola yang ada di lantai atas hingga tak sengaja ia bertemu dengan Sutan, orang yang bekerja sama dengan Romi.
"Selamat siang pak Ikbal!", sapanya ramah.
"Selamat siang pak Sutan!", jawab Ikbal datar dan berwibawa.
"Mau ke lantai atas pak ?", sapa Sutan.
"Iya, mau ke mushola. Pak Sutan juga?", tanya Ikbal bersamaan dengan pintu lift yang terbuka dimana lantai mushola berada.
"Eum, silahkan anda lebih dulu pak!", Sutan mempersilahkan. Ikbal pun keluar dari kotak besi tersebut dan tersenyum tipis melihat tingkah si pengkhianat tersebut.
****
Tengkyu 🙏
10.52
__ADS_1