Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 21


__ADS_3

Ikbal tak langsung pulang. Dia justru naik ke lantai atas di mana kamar Ilma berada. Sungguh, jika selama ini ia sangat merindukan sang adik, setelah ia mendengar cerita memilukan dari Aini, rindunya semakin besar.


Ceklek....


Pintu kamar Ilma terbuka lebar, Ikbal menyalakan lampu kamar itu. Pengap, itu yang pertama kali Ikbal rasakan. Lelaki itu menuju ke pintu balkon. Membuka pintu itu lebar-lebar agar hawa pengap terganti oleh udara baru.


Meskipun kamar itu bersih, tetap saja udara yang ada di kamar itu terasa pengap. Setelah Ikbal membuka pintu balkon, angin sepoi-sepoi yang hampir tengah malam itu seolah memasuki ruangan dengan perlahan.


Ikbal memilih duduk di bangku balkon. Bangku yang biasa ia dan Ilma duduki sebelum papanya meninggal dan Ibas tinggal di rumah ini. Karena sejak ada Ibas, ia dan Ilma justru menjauh karena Ikbal selalu menghalangi hubungan Ilma dan Ibas yang tentu saja tidak pantas untuk di lanjutkan. Mengingat keduanya sudah menjadi saudara tiri.


Dokter muda itu melipat kedua tangannya di dada. Ia memejamkan matanya sambil bersandar ke punggung bangku.


Kenangan-kenangan indah bersama papa dan adiknya melintas di ingatannya. Wajah-wajah penuh kebahagiaan dan juga harmonis. Itulah gambaran keluarga Fauzan!


Tapi ternyata...sosok Romi, yang tak lain justru teman masa kecil papanya yang tega menghancurkan kebahagiaannya.


Merenggut paksa kebahagiaan Ikbal! Menghilangkan nyawa papa dan adiknya sekaligus!!


Tanpa ia sadari, sosok yang sedang Ikbal tangisi, yang sangat Ikbal rindukan ada di sampingnya.


Ya, Ilma ada di sampingnya. Tapi ia tak bisa menyentuh kakak yang sangat ia sayangi. Ingin menyentuh, tapi juga tidak bisa. Gadis yang sudah bergelar almarhumah itu pun hanya bisa turut menitikkan air matanya.


"Ilma...maafkan kakak yang tidak bisa menjaga mu!", monolog Ikbal. Ikbal terpukul sekali mendengar kenyataan yang ia dengar dari Aini. Bagaimana jika Aini hanya mengarang cerita???

__ADS_1


Tapi itu tidak mungkin! Tidak mungkin Aini mengarang cerita yang bahkan dia sendiri tak pernah mengenal Ilma sebelumnya.


"Dek... kalo kamu bisa dengar kakak, kakak cuma mau bilang. Kakak sayang sama kamu. Maafkan kakak yang tidak becus menjaga mu!", ucap Ikbal lirih masih dengan mata terpejam.


Seolah mendapatkan jawaban, tiba-tiba angin berhembus sejuk menyapu pipi Ikbal. Lelaki itu membuka matanya. Langit malam begitu cerah, tampak bintang berkelip di atas sana.


Ikbal bangkit dari duduknya lalu bersandar di pagar balkon. Di pegang erat besi pagar berbahan besi itu. Lagi-lagi, Ikbal memejamkan matanya.


"Kamu tahu dek, kenapa Tuhan menghadirkan Aini di saat kamu sudah pergi?", tanya Ikbal sendiri sambil tersenyum.


Ilma tahu sang kakak tengah jatuh cinta, dia pernah di tinggal menikah oleh mantan kekasihnya yang hamil dengan orang lain. Sejak saat itu, Ikbal menutup diri untuk sekedar dekat dengan lawan jenis. Tapi ...entah kenapa ia begitu mudah dekat dengan Aini.


Setelah merenungkan semua yang terjadi, Ikbal memutuskan untuk kembali ke mobilnya. Ia akan kembali besok pagi. Dilihatnya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya menunjukkan pukul satu dini hari.


"Belum istirahat pak?", sapa Ikbal.


"Belum mas, paling sebentar lagi. Soalnya bentar lagi gantian jaga sama si Sukron!",


kata pak Uus menengok ke arah rekannya yang tertidur pulas di dipan pos.


"Oh, ya sudah kalau begitu! Saya pulang pak. Nanti pagi saya balik ke sini!", kata Ikbal.


"Iya mas!", jawab Pak Uus.

__ADS_1


.


.


Menjelang subuh Aini mengucek matanya, dia baru merasa tidur nyenyak tapi sepertinya ada yang sedang mengusiknya.


Gadis itu membuka matanya perlahan, ia menoleh ke arah kiri. Nita masih tertidur lelap. Lalu siapa yang mencolek dan menggelitik telapak kakinya????


Dengan gerakan slow motion, Aini mencoba melihat ke arah bawah. Matanya membulat dengan mulut ternganga. Ingin rasanya Aini menjerit tapi tidak bisa.


Sosok perempuan cantik berwajah pucat dengan rambut panjang yang berantakan berdiri tepat di bawah kakinya yang sedang rebahan.


Aini ingin membangunkan Nita, tapi dia tidak bisa mengeluarkan suaranya.


"Aini! Aku tidak bunuh diri!", kata perempuan itu.


Astaghfirullahaladzim! Gumam Aini.


"Aku tidak bunuh diri Aini."


"Ka-kamu Risma? Penghuni kamar ujung?", tanya Aini tersendat memberanikan diri. Nampaknya Aini harus benar-benar membiasakan dirinya melihat makhluk asing.


Risma mengangguk lemah. Lingkaran matanya menghitam dengan leher yang terluka, mungkin karena tali yang mengikat leher nya terlalu kencang seolah dia bunuh diri.

__ADS_1


"Lalu...kalo bukan bunuh diri? A-pa ada orang yang membunuh mu? Tapi siapa?", tanya Aini.


__ADS_2