Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 71


__ADS_3

Aini keluar dari rumah makan dengan perut yang penuh. Dia makan seperti orang yang tidak makan selama tiga hari. Badan nya memang kecil, tapi muatannya banyak! Mau heran, tapi itu Aini.


Aini berjalan santai sambil memasukkan tangannya ke dalam saku Hoodie nya. Cuacanya cukup panas di jam satu siang itu. Tapi setidaknya Aini sudah menenteng es teh manis dan juga beberapa makanan yang sengaja ia siapkan untuk di rumah.


Gadis cantik itu berjalan perlahan menyusuri trotoar menuju ke kost nya. Ke mana sih hantu tengil dan penasaran itu? Ya...namanya juga Ilma, dia bisa datang dan pergi sesukanya.


Aini sudah berjalan di pinggir tapi entah kenapa ada orang yang entah sengaja atau tidak menabrak bahunya hingga Aini hampir sempoyongan. Beruntung ada Abang ojek yang menahan tubuhnya agar tidak jatuh.


"Kalau jalan lihat-lihat dong pak, si nengnya hampir jatuh ini!", kata si Abang ojek. Lelaki berbaju hitam itu menatap nyalang pada si Abang ojek tanpa mengatakan apa-apa.


Setelah itu, ia mengalihkan pandangannya pada Aini.


"Udah bang, saya ngga apa-apa!", kata Aini. Dia tak ingin memperpanjang masalah sepele seperti ini.


Lelaki berbaju serba hitam itu masih memandangi Aini. Sebagai seorang perempuan, dia tentu sangat tidak nyaman di pandangi seperti itu.


"Kalau kamu tidak ingin di ganggu, segera lah menikah!", kata lelaki itu. Aini dan Abang ojek tentu sama bingungnya.


Bukankah dirinya lah yang sudah mengganggu Aini? Dengan tidak sengaja membuat dirinya hampir jatuh, bahkan dia seolah tak merasa bersalah samasekali.


"Mimpi itu akan selalu datang membayangi mu. Dia masih akan meneror mu sampai kamu menyerah padanya. Begitu juga dengan nya, aura positif mu akan melindungi lelaki mu. Menikah lah demi kebaikan bersama."


Lelaki itu meninggalkan Aini dan Abang ojek begitu saja yang saling berpandangan.


"Si bapak ngomongin siapa sih?", tanya bang ojek yang cukup Aini kenal muka meski tak tahu namanya.


"Abang kali, Abang belum nikah mungkin jadi di nasehatin gitu!", kata Aini.

__ADS_1


"Ah...elah neng, biar saya jelek begini saya mah udah punya bini. Anak saya udah SMP neng!", sahut si Abang ojek.


"Hehehe ya maaf, ngga maksud gitu bang?!", kata Aini sambil tertawa kikuk. Awalnya dia hanya ingin bercanda,tapi ternyata si Abang menganggap serius.


"Heheh si neng, saya juga ngga tersinggung kok. Justru saya yang khawatir sama neng. Jangan-jangan si bapak tadi nasehatin neng!", kata bang ojek.


''Heum?", gumam Aini bingung.


"Jangan-jangan dia itu cenayang neng. Makanya bisa bilangin kaya tadi ke Eneng."


Cenayang? Peramal? Dukun?


"Ngga usah di bahas ah...bang. Dosa kalau percaya begituan, syirik itu namanya."


"Iya-iya. Neng teh mau Abang antar?", tawar bang ojek yang kebetulan hanya dirinya yang sedang tidak menarik penumpang.


"Oh...ya udah kalo gitu. Hati-hati neng??"


"Iya bang!", sahut Aini.


Aini pun sampai ke kostannya. Saat sampai di halaman, terlihat sebuah mobil yang cukup ia kenal. Siapa lagi jika bukan milik Dokter tampan itu.


Dia ke sini ga ngabarin dulu gitu?


Aini langsung melangkah menuju ke kamarnya. Seseorang berjas hitam menyandarkan punggungnya ke pintu kamar kost Aini.


Sudah bisa di pastikan siapa yang ada di sana.

__ADS_1


"Assalamualaikum mas!", sapa Aini.


"Walaikumsalam, Ai. Kamu dari mana aja? Mas hubungi kamu ngga di angkat dari tadi."


"Oh ya?", Aini mengambil ponselnya di dalam tas lalu melihat beberapa riwayat panggilan di benda pipih tersebut. Aini hanya mampu nyengir kuda.


"Habis beli makan?", Ikbal mengecek kantong belanja Aini. Aini mengangguk pelan.


"Mas Ikbal ngga ke rumah sakit? Dari kantor ya?", cerocos Aini.


"Dari kantor. Ada hal yang harus di urus Ai."


"Oh, begitu!", Aini angguk-angguk saja.


Setelah keduanya masuk, suasana mendadak hening.


"Ai, kalau semua masalah ini selesai...boleh kita ngobrol serius tentang masa depan kita?", tanya Ikbal menatap manik mata Aini. Aini mengerjap pelan. Dia sendiri masih tahu dengan perasaannya.


Benarkah dirinya sudah move on dari Ibas? Dan.... perkataan Ilma serta lelaki berbaju serba hitam tadi cukup mengganggu pikiran Aini.


****


Terimakasih 🙏


21.21


Maaf kalau banyak typo🙏

__ADS_1


__ADS_2