Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 37


__ADS_3

Jadi seorang pekerja di kamar jenazah tak segampang yang orang pikirkan, paling hanya uji nyali bagi yang memang penakut.


Tapi ternyata tidak hanya itu. Hari ini, Aini belajar bagaimana cara membersihkan jenazah yang tanpa luka, dengan luka parah serta mungkin ada bagian-bagian anggota tubuh lain yang sudah tak utuh.


Baru membayangkan saja sudah merinding ngga sih?


Aini praktek dengan boneka lebih dulu, barulah ia akan belajar praktek jika memang di perlukan untuk membantu Ahmad, Kholil dan Bambang para seniornya.


Seperti siang ini, namanya rumah sakit besar tentu lah banyaklah orang sakit atau korban kecelakaan dan lain sebagainya.


Dan kali ini, Aini tak ikut membantu tiga senior nya setelah ia belajar tadi. Ada korban kecelakaan yang sudah lama koma, dan akhirnya meninggal siang itu.


"Apa kamu mau mencoba sekarang?", tanya Bambang.


"Tapi.... korbannya laki-laki kan pak? Dan sepertinya masih muda."


"Iya, kamu ngga usah ikut mengurusnya. Cukup melihat dari dekat. Nanti lain kali kamu tinggal praktek."


Aini pun setuju. Perawat yang mengantarkan jenazah ke kamar yang pengap itu pun menyerahkan pada Bambang selaku ketua tim.


Aini turut masuk ke ruangan tersebut. Ruangan yang....aassshhh.... sudah lah! Bahkan Aini di sambut hangat oleh 'mereka'. Menakjubkan! Tidak hanya satu dua biji, tapi ...banyak dan segala bentuk.


Takut? Tentu saja Aini takut. Tapi ia sudah memutuskan untuk mengambil pekerjaan ini.

__ADS_1


Aini berdoa di dalam hatinya. Semoga rekannya segera menyelesaikan tugas tersebut. Pilihan nya untuk ikut masuk, nyatanya bagai makan buah simalakama. Di lanjut takut ,tak di lanjut pun sudah kepalang tanggung.


Aini hanya memejamkan matanya saat ada sebagian dari 'mereka' yang mendekati Aini. Bahkan dengan sangat tidak sopannya mengendus-endus dirinya.


"Pergi kalian!", teriak Aini yang sontak menjadi perhatian tiga rekannya. Nafas Aini memburu, mata nya pun masih terpejam.


"Kenapa Ai?", tanya Ahmad. Mungkin karena dia paling muda, makanya dia lebih mudah akrab dengan Aini.


Perlahan Aini membuka matanya tapi saat matanya terbuka, sosok menyeramkan berada di belakang Ahmad seolah akan melahap Ahmad.


Gadis itu terbelalak lebar hingga kalimat-kalimat suci itu keluar dari bibirnya begitu saja. Ahmad dan yang lain tampak mengkhawatirkan Aini yang...mengaku jika dirinya bisa melihat 'mereka'.


Tapi....kalau sampai seperti ini harus bagaimana?


"Istighfar Aini!", Ahmad mengguncang bahu Aini hingga akhirnya Aini menyadarinya Ahmad lah yang ada di hadapannya dan baik-baik saja.


"Ajak Aini keluar saja Mad! Biar kami yang menyelesaikannya!", pinta Bambang. Ahmad pun mengangguk lalu memapah Aini keluar dari ruangan pemandian jenazah.


Bau anyir, bau desinfektan dan bau obat-obatan menyengat di hidung Aini. Mungkin...jika tak menggunakan masker berlapis, dia sudah pingsan di dalam tadi.


Ahmad merangkul bahu Aini tapi tiba-tiba seseorang menarik paksa tangannya itu.


"Apa-apaan ini?", tanya Ikbal yang niatnya tadi ingin mengajak Aini makan siang.

__ADS_1


"Astaghfirullah, dok! Bikin kaget aja!", kata Ahmad. Lalu perhatian Ikbal pun beralih pada Aini.


''Ai, kamu ngga apa-apa kan?", tanya Ikbal cemas.


"Ngga apa-apa mas. Cuma mungkin belum terbiasa aja dengan bau desinfektan jadi...mual!", jawab Aini lirih.


Ahmad yang mengetahui kebenarannya pun menautkan alisnya. Tidak seperti itu kejadian sebenarnya!


"Benar cuma karena itu?", tanya Ikbal tapi justru melirik Ahmad.


"Benar mas!", jawab Aini.


"Ya sudah, sekarang kamu istirahat dulu. Atau mau makan siang di luar saja?", tanya Ikbal.


"Heuh?", Aini cukup ngelag.


"Oh, aku makan di kantin aja mas!", tolak Aini.


"Ya udah, ayok?!", Ikbal menarik tangan Aini dan menepuk bahu Ahmad dengan pelan. Lalu Ikbal dan Aini meninggalkan Ahmad yang terpaku memandangi punggung yang yang menjauh darinya.


"Mereka pacaran ngga sih?", monolog Ahmad. Tapi setelah itu ia kembali ke dua rekannya yang sepertinya siap untuk menyolati jenazah.


*****

__ADS_1


15.42


Terimakasih


__ADS_2