
Suara sirene ambulance dan mobil polisi saling bersahutan terdengar di halaman gedung apartemen berlantai dua puluh lima tersebut.
Ikbal berhasil menenangkan istrinya yang masih sedikit shock. Untuk ke sekian kalinya ia di hadapkan dengan pemandangan mengerikan seperti itu. Makhluk yang tadinya bernyawa, tiba-tiba saja langsung berubah status jadi almarhum dalam hitungan detik. Nauzubillahimindzalik!! 😔😔
"Di minum dulu nak!", ibu menyodorkan segelas air putih untuk Aini. Aini pun menerima gelas tersebut lalu meminumnya.
Nita, Ruby dan kedua orang tua Aini masih ada di ruang tamu. Mereka belum meninggalkan unit apartemen Ikbal untuk beberapa menit ke depan sebelum memastikan kondisi Aini baik-baik saja.
"Badan kamu udah mulai enakan Ain?", tanya Nita sambil memijat ringan lengan Aini. Jika terlalu kencang, takut Aini kesakitan dan yang lebih parah ... takut salah urat. Ya kan??? Nita mencoba memakai bahasa yang sopan di depan kedua orang tua Aini.
Aini mengangguk lemah.
"Udah", jawab Aini ringan.
"Kalo kekencengan, bilang ya?", kata Nita. Aini pun menoleh pada Nita.
"Udah Nit, ngga usah. Mending kamu berangkat kerja aja. Ada ibu bapak sama mas Ikbal yang nemenin kok. Mas Ruby juga harus buka bengkel kan?", tanya Aini.
"Soal bengkel gampang Ain, aku ikut Nita aja", jawab Ruby.
"Masih cuti Nit?", tanya Aini. Nita menggeleng.
"Tukar shift aja Ain!", jawab Nita. Sahutan Nita membuat Aini mengangguk pelan.
Lalu Aini menoleh pada suaminya yang sibuk berbalas pesan dengan Sean.
__ADS_1
"Kamu ngga ke rumah sakit mas ?", tanya Aini pada Ikbal. Ikbal menoleh dan memusatkan perhatiannya pada sang istri, meletakkan ponselnya ke saku kemejanya.
"Mas udah resign Ai!", jawab Ikbal tersenyum. Aini terdiam sejenak.
"Apa karena aku?", tanya Aini dengan wajah sendu. Nita menyingkirkan diri dari samping Aini, dia berpindah duduk di sebelah Ruby. Sedang bapak yang sejak tadi duduk sendiri memilih diam, mendengarkan obrolan anak-anak muda di hadapannya.
"Sebelum kita menikah, kan mas udah bilang mau resign. Ya kan?", tanya Ruby balik.
"Lalu...aku gimana? Aku masih terikat kontrak...!", kata-kata Aini terhenti saat Ikbal keburu menyahuti nya.
"Jangan pikirkan kontrak. Mas udah membereskannya. Kamu fokus dengan kondisi kamu dulu Ai!", kata Ikbal.
Gadis yang sekarang berstatus menjadi nyonya Ikbal itu pun kini menatap kedua orangtuanya.
"Maafkan Ain ya pak, ibu. Selama ini selalu merepotkan kalian!", kata Aini mulai menitikkan air matanya.
Terdengar helaan nafas dari bibir Aini.
"Seharusnya...Aini bisa bekerja lebih keras lagi. Aini pengen banget tanah bapak yang dekat dengan stasiun, bisa Aini beli lagi. Gara-gara kecelakaan Aini saat itu, bapak menjualnya kan?!", kata Aini sendu.
Bibir bapak berkedut lalu tersenyum tipis.
"Apa harus seperti itu nak?", tanya bapak begitu lembut. Aini mengangguk pelan.
"Kalau bapak bilang, kamu tidak perlu mengembalikannya apa kamu akan menuruti bapak?", lanjutnya. Aini tak menjawabnya.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu berpikir untuk mengembalikannya nak karena...suami mu yang membelinya dulu!", jelas bapak. Seketika Aini mendongak lalu menatap bapak dan suaminya bergantian.
"Mas Ikbal?", tanya Aini pelan.
"Jangan salahkan suami mu. Nak Ikbal tulus membantu bapak waktu itu, bahkan jauh sebelum dia benar-benar mengenal kamu nak. Jadi, bapak harap kamu tidak berpikir buruk pada nak Ikbal."
Entah seperti apa perasaan Aini saat ini, antara bahagia juga... kecewa dalam waktu yang bersamaan.
Di tengah kekalutan gadis itu, bel apartemen berbunyi.
"Biar ibu saja yang buka!", ibu bangkit dari sofanya lalu membuka pintu. Tak lama kemudian dua orang petugas mengekor di belakang ibu. Otomatis penghuni ruangan itu terkejut melihat petugas berpakaian dinas itu.
Dua petugas itu menjelaskan maksud kedatangan mereka karena ingin meminta keterangan dari Aini yang kebetulan berada di balkon yang sama saat kejadian. Bagaimana petugas tahu???
Ternyata selain Aini, ada orang lain yang tak sengaja melihat Aini duduk di deretan balkon yang sama dengannya.
Mau tak mau, di tengah kondisi Aini yang belum stabil, gadis itu terpaksa di mintai keterangan meski hanya beberapa menit. Lalu setelah itu, dua petugas itu pun meninggalkan ruangan Ikbal.
"Kamu ngga usah takut Ai, mereka hanya meminta keterangan dari kamu. Bukan mau menuduh mu!", kata Ikbal. Gadis itu hanya mengangguk. Lalu di seberang sofa, tepatnya di belakang Nita dan Ruby, sosok yang sedang jadi buah bibir itu menampakkan wujudnya.
Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu dari sorot matanya yang sendu, Aini bisa melihat betapa berat beban yang ia pikul hingga memilih untuk mengakhiri hidupnya.
*****
Yang nebak Ikbal pembeli tanah bapak, Mak kasih nilai 💯 🤭
__ADS_1
Terimakasih 🙏🙏🙏
20.49