
"Di rekaman itu tertulis hari dan tanggal di mana Ilma ditemukan. Kenapa tidak coba kita cari di cctv rumah, bukannya di rumah ada cctv?", tanya Aini pada Ikbal.
"Aku sudah pernah mengeceknya Ai. Tapi sepertinya saat itu posisi cctv sedang tidak aktif!"
Keduanya sama-sama lesu. Lalu tiba-tiba ada ide yang melintas di otak Aini.
"Mas yakin kan jika itu suara papanya Ibas?", tanya Aini.
"Yakin!"
"Bagaimana kalau kita coba kembali merekamnya saat berbicara. Ada kemungkinan kalau suara seseorang bisa berubah!"
Ikbal menoleh pada aini. Dia bahkan tak terpikir ke arah sana mengingat hubungannya dengan Romi sangat buruk
"Tapi bagaimana caranya? Aku sendiri sudah tidak tahan ingin menghabisi laki-laki brengsek itu!"
"Aku tahu kamu marah padanya karena kematian Ilma. Tapi tolong jangan bertindak gegabah!"
Ikbal mencoba menerima kenyataan bahwa adik dan papanya sudah tiada. Meski sebenarnya dalam hatinya ia benar-benar ingin agar papa dan adiknya mendapatkan keadilan karena ulah lelaki itu.
"Jauh sebelum aku tahu jika dia itu ... orangnya! Aku memang sudah tak respek terhadapnya. Tapi demi mama ku, aku terpaksa menerima pernikahan mereka."
"Jadi, jika kamu beranggapan kalau aku marah padanya karena dendam, itu salah! Feeling ku mengatakan jika dia bukan pengganti papanya yang tepat untuk ku dan Ilma. Tapi ya ... takdir berkata lain!"
Aini mengusap bahu Ikbal dengan spontan untuk menenangkan Ikbal. Sayangnya...Ikbal justru menangkap maksud lain.
__ADS_1
Aini tersipu saat Ikbal meraih tangannya. Antara malu dan deg-degan!
"hayo Lo... pacaran melulu!", kata Nita yang tiba-tiba datang dengan Ruby.
Keduanya sama-sama salah tingkah dan menyembunyikan wajah memerah seperti itu, Nita semakin ingin meledeknya.
"Bukan salam dulu ", kata Aini.
"Iya, assalamualaikum! Udah kan?", tanya Nita. Aini hanya menggeleng perlahan. Ruby dan Ikbal saling bersalaman dengan lambat.
"Oh iya, tadi Ibas ke bengkel ku?!", kata Ruby.
"Service?", tanya Ikbal. Ruby menggeleng.
Ikbal mengangguk ringan. Keempat orang itu mengobrol santai ngalor ngidul tak jelas. Di sisi lain, Ibas ingin menemui papanya di kantor.
Jangan dipikir jika Romi kerja di sebuah ruangan serba istimewa. Tidak! Dia hanya staf biasa di kantor tersebut.
"Pak Romi di tunggu sama anaknya di loby!", kata resepsionis.
"Iya, katakan saya akan turun!"
"Baik pak!", pamit si OB. Selang beberapa menit kemudian, Romi sudah berada di lobby.
"Ada apa?", tanya Romi tanpa basa basi pada putranya.
__ADS_1
"Apa benar papa terlibat dalam kasus pembunuhan papanya dan juga Ilma?"
"Apa maksud kamu berkata seperti itu???"
Romi mulai tersulut emosi.
"Pa, tadi Ikbal sama temannya berhasil menemukan ponsel Ilma di bawah lemari."
"Lantas apa hubungannya sama papa Ibas?"
"Pasti papa yang tega ngabisin Ilma dan papanya, ngaku ngga pa!"
"Ucapan mu tak beralasan tahu ngga!", sahut Romi kesal.
"Maaf pa, tapi aku justru tak tahu menahu dimana bukti lain yang tidak mengarah ke papa!", ujar Ibas.
"Makanya percaya sama papa, Bas! Mana mungkin papa setega itu."
Padahal dia lah pelaku sebenarnya yang pura-pura menjadi orang baik. Tapi sebagai seorang yang sudah gelap mata, ia tak merasa bersalah sama sekali.
"Semoga apa yang papa katakan benar!", kata ibas meninggalkan papanya yang mematung.
Romi pun kembali ke kubikel nya. Sebagai karyawan biasa, Romi tetap lah bekerja pada umumnya.
Dari mana Ikbal dan cewek itu tahu kalau ada ponsel di bawah sana padahal sudah bertahun-tahun ada di sana!"
__ADS_1