Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 56


__ADS_3

Rini sedang sangat merindukan mendiang putrinya. Saat ini, ia ada di kamar Ilma. Meski lebih dari tiga tahun berlalu, kondisi kamar Ilma masih sama sejak sang pemiliknya pergi.


Rini membuka lemari pakaian Ilma. Seragam identitas SMA nya tergantung rapi. Rini pun mengambilnya. Dia bawa duduk di ranjang lalu memeluknya seolah ia sedang memeluk Ilma.


"Mama kangen banget sama kamu, Ilma!", kata Rini mengusap air matanya.


Ilma yang merasa di sebut namanya pun mendekat ke arah Rini. Gadis itu memandang iba pada ibunya yang sudah mulai menua.


Sejak menikah dengan Romi, ibunya terlihat tak bahagia. Apakah yang sebenarnya terjadi????


Mengunjungi makam papanya saja, Ilma sampai tahu jika mamanya di batasi untuk keluar rumah oleh Romi. Tapi kenapa???


"Ilma, kamu tahu? Mama kesepian nak!", kata Rini bermonolog.


"Mama merasa sendiri di dunia ini! Ikbal seperti sudah tak peduli sama mama. Bahkan dia jarang mengunjungi mama!"


Perempuan itu menghapus jejak air matanya.


"Kakak mu belum bisa menerima kehadiran Om Romi."


Rini kembali terisak saat teringat sang putri di temukan meninggal dunia dengan tak wajar dan sangat mengenaskan. Hati ibu mana yang tak hancur melihat seperti itu.


"Mama pengen ngunjungin makam papa mu, makam mu Ilma! Tapi...", Rini hanya mendesah pelan. Tak sanggup meneruskannya meski mungkin tak akan ada yang mendengarkan ucapannya selain Tuhan.


"Ikbal pulang membawa seorang gadis. Mama lihat, gadis itu sopan dan baik. Tapi... setelah tahu kalau Ibas juga pernah berhubungan dengan gadis itu, mama jadi takut... takut nantinya akan berakibat buruk dengan keduanya Ilma! Mama benar-benar tidak ingin lagi kehilangan anak-anak mama!"

__ADS_1


Rini memeluk erat pakaian Ilma. Ilma cukup trenyuh melihat adegan di hadapannya.


Perempuan cantik dan lembut itu tengah merasakan kepiluan seorang diri. Dia menanggung beban sendirian. Tidak ada teman untuk berbagi bukan hanya meminta solusi. Rini hanya ingin memiliki teman bicara seperti dulu lagi saat Fauzan masih ada di sisinya.


.


.


"Nak Ikbal ngga praktek hari ini?", tanya bapak Aini.


"Praktek malam, pak!", jawab Ikbal. Bapak Aini duduk di samping kemudi bersama Ikbal. Sedang Aini bersama ibunya di belakang.


"Lho, kalo praktek malam seharusnya sekarang istirahat. Malah ikut antar Aini pulang?!"


"Heheh ngga apa-apa pak. Nanti malam jaga di UGD. Bisa tidur kok pak, kan ngga jaga sendirian. Ada beberapa dokter jaga di sana."


Ibu menemani Aini turun dari mobil Ikbal.


"Itu kamar bapak sama ibu Ain, nanti kalo ada apa-apa panggil saja ya. Kalo ngga dengar ya telpon aja bapak!"


"Bapak ngarepnya Aini ada apa-apa gitu?", tanya Aini cemberut.


"Ya ngga lah nak. Mana ada orang tua yang berharap seperti itu!", kata bapak Aini lalu mereka semua terkekeh.


Ikbal membawa tas Aini menuju ke kamarnya. Hari memang sudah menjelang petang tapi masih belum mendekati magrib. Hanya saja, cuaca cukup mendung. Jadi, hari terlihat sangat gelap di banding hari biasanya saat cerah.

__ADS_1


Saat melintas di taman, entah kenapa bulu kuduk Ikbal berdiri. Ia merasa sedang di awasi. Tapi siapa????


Ikbal mengehentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang. Tidak ada siapa pun!!!


Dengan mencoba mengabaikan perasaan was-was tersebut, Ikbal buru-buru masuk ke dalam kamar Aini yang sedang di temani kedua orang tuanya.


.


.


.


"Ini Mbah, foto targetnya!", Sutan menyerahkan foto Ikbal pada dukun yang katanya sakti.


"Heum!", dukun itu mengusap dagunya yang ditumbuhi jenggot berwarna putih. Romi sebenarnya tak sepenuhnya percaya dengan hal-hal semacam ini. Tapi ia hanya berusia menyetujui ide Sutan.


"Mau kalian apakan anak muda tampan ini?", tanya si dukun yang di panggil Mbah Turoh!


"Gini Mbah, target itu anak tiri rekan saya Mbah. Bisa ngga kalau dia di bikin nurut pada dia Mbah? Selama ini bocah itu selalu membangkang!", imbuh Sutan.


"Baiklah! Jika begitu kemauan kalian!", sahut Mbah Turoh.


*****


Terimakasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


21.20


__ADS_2