
"Udah clear kan mas?", tanya Aini pada Ikbal yang tadi terlihat sudah tak marah lagi. Mana bisa ia marah pada Aini???
"Heum, baiklah!", sahut Ikbal lalu ponselnya berdering. Ada panggilan dari Sean.
[Ya Sean, kenapa?]
[....]
[Yakin?]
[.....]
[Tapi gue ada jadwal operasi sore nanti!]
Ikbal melihat pergelangan tangannya. Jam tangan mewahnya sudah menunjukkan bahwa satu jam lagi operasi akan berlangsung. Tapi Sean juga memberikan kabar terbaru tentang kasus korupsi Romi.
[.....]
[Gue percaya sama Lo, Sean!]
Ikbal memasukkan kembali ponselnya dalam saku kemejanya. Aini, Ahmad, Kholil dan Bambang hanya menjadi pendengar Ikbal yang menghubungi Sean.
"Ya udah, mas mau ada operasi. Nanti pulang bareng!", kata Ikbal mengusap kepala Aini lembut. Aini tersenyum dan mengangguk tipis.
"Saya duluan!", sapa Ikbal sopan pada rekan Aini. Trio horor itu pun mengangguk juga.
"Ciye... yang manggil mas dokter?!", ledek Kholil.
"Iya...masa manggil Mba sih? Aku juga manggil kalian mas? Salahnya apa?", tanya Aini yang lebih memilih masuk kedalam ruangannya. Trio horor itu pun ikut masuk kedalam ruangan tersebut.
.
__ADS_1
.
.
Ibas menuruni tangga dan melihat Rini yang sedang murung. Sudah beberapa hari ibas memang tak sempat menyapa Rini.
"Ma!", sapa Ibas. Rini yang tadinya menunduk sekarang mengangkat wajahnya. Dia berdiri dari sofa nya menghampiri anak tirinya tersebut.
Plakkkk! Sebuah tamparan begitu keras menempel pipi Ibas dan disaksikan oleh beberapa temannya yang memang sudah menunggu Ibas di depan.
Ibas mengusap pipi nya yang pedas karena tamparan mama tirinya.
"Saya tidak pernah membedakan antara kamu dan anak-anak kandung saya, tapi kenapa kamu justru mengkhianati saya? Diam-diam berpacaran dengan putri saya, adik tiri kamu sendiri?"
"Ma...!"
"Stop! Kamu berhenti memanggil saya seperti itu! Ngga kamu, ngga papa kamu! Kalian sama jahatnya!", kata Rini dengan air mata yang berderai. Lalu bahunya sengaja menabrak lengan Ibas dengan kasar.
Dan...Rini bilang, papanya juga. Ada kemungkinan jika Rini tahu tentang kejahatan Romi!
"Lo ngga apa-apa bro?", tanya salah seorang teman Ibas.
"Ngga. Gue aman!", kata Ibas. Mereka pun menuju roda dua masing-masing.
Seharusnya Ibas sudah lulus kuliah sejak dua tahun yang lalu. Sayangnya, dia yang begajulan selama ini membuat kuliahnya mangkrak. Alhasil, dia masih menjadi mahasiswa abadi di kampusnya.
Ilma melihat kejadian di depan matanya. Jujur Ilma sedih melihat Ibas di tampar sang mama. Tapi Ilma bisa apa? Menolong dirinya sendiri saja belum mampu.
Bagaimana kalau mama pisah sama Romi? Itu artinya mama akan sendiri sini? Monolog Ilma.
.
__ADS_1
.
.
"Dukun kamu tidak sakti, Sutan!", kata Romi.
"Gue juga ngga tahu, tapi dari yang orang-orang bilang tuh dukun sakti!"
"Tapi buktinya apa? Tuh bocah masih berkeliaran dengan santainya!", Romi merasa kesal.
"Bukan dukungnya yang ngga sakti, tapi mungkin saja bocah itu ada yang membentenginya!", kata Sutan serius.
"Ngikut cara Lo emang bikin gue ngga waras!", Romi berdiri meninggalkan ruangan Sutan.
Saat Romi keluar dari ruangan Sutan, selang beberapa menit kemudian Sean pun mendatangi ruangan Sutan yang sontak saja membuat nya terkejut. Bagaimana tidak? Tangan kanan bos nya masuk ke ruangannya, itu artinya ada yang tidak beres.
"Pak Sutan, tolong kerja samanya!", Sean menyerang beberapa laporan yang sudah di audit oleh tim pembantu yang sengaja Ikbal sewa.
Sutan berdiri dengan kaki bergetar. Ada hawa dingin menyeruak di tengkuk Sutan. Tapi tidak dengan Sean yang menatap aneh pada Sutan.
Hidung Sean kembali mengendus bau-bauan yang sudah ia kenal sebelumnya.
Tapi Sean mencoba untuk mengabaikan. Dia percaya, Tuhan pasti akan melindunginya.
Dan kasus Romi sedang di akumulasi hingga benar-benar dititik yang akan membuat Romi tak bisa banyak menghindar lagi.
****
21.28
Terimakasih 🙏
__ADS_1