Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 91


__ADS_3

Perang dingin!


Itu yang Aini dan Nita rasakan saat ini. Biasa berdua dan saling bercanda, keduanya saling mendiamkan.


Bohong kalau di antara mereka tak saling merindukan. Tapi gengsi keduanya terlalu tinggi.


Aini segan minta maaf sedang Nita malas jika nanti dia hanya akan di abaikan oleh sahabatnya.


Seperti malam ini, Nita sudah pulang ke kost nya dengan membawa makanan. Jika biasanya ia membawa makanan untuknya dan Aini, sekarang ia hanya membawa untuk dirinya sendiri.


Cuek? Tak sepenuhnya! Tapi lagi-lagi Nita hanya enggan di abaikan oleh sahabatnya tersebut jika ia masih memberikan perhatian pada Aini.


Sedang Aini sendiri bagaimana? Dia ingin mengobrol dengan Nita. Kesalahpahaman yang sebenarnya bisa di bicarakan baik-baik itu sebaiknya jangan di biarkan berlarut-larut. Apalagi...niat keduanya sama-sama baik.


Jam sembilan malam, Aini dan Nita sama-sama berada di kasur mereka masing-masing. Tangan dua gadis itu sibuk dengan benda pipih nan canggih.


Aini sibuk berbalas pesan dengan Ikbal, pun Nita yang sibuk chat dari Ruby. Ya, sibuk dengan pasangan masing-masing.


Aini ingin sekali curhat pada Nita tentang lamaran Ikbal tadi yang memintanya untuk menjadi istrinya. Meski bukan yang pertama kalinya ia dengar. Tapi untuk kali ini, ia benar-benar mendengarkan keseriusan Ikbal. Terlebih, masalah Ilma sudah selesai.


Tak berbeda jauh dengan Aini. Nita sendiri memutuskan untuk menerima Ruby yang akan segera membawa hubungan mereka ke jenjang yang sah.


Ruby berhasil meyakinkan pada kekasihnya bahwa Aini akan baik-baik saja meskipun Nita tak mendampinginya.


Di sela kediaman dua sahabat itu, sosok Ilma muncul di antara Aini dan Nita.


Aini menoleh ke Ilma, tapi di saat yang sama Nita justru menoleh pada Aini. Beberapa detik kemudian, keduanya kembali memalingkan muka.


"Huffft! Salah paham aja terus! Ngga akan ada habisnya kalo kalian begini Mulu!", kata Ilma. Aini menimpali ucapan Ilma lewat batin nya.

__ADS_1


"Gue sebenernya juga pengen ngomong sama dia, tapi... gue males kalo nanti yang ada gue adu mulut lagi."


"Ckkk...sama Lo berdua tahu ngga!", Ilma menoyor Aini.


"Apaan sih!", Aini mendelik pada Ilma.


"Ya...kalian sama aja! Sama-sama gengsi! Sama-sama keras kepala! Pantes cocok!"


Aini mendengus sebal.


"Btw, kasus gue sama bokap udah beres Ain!", kata Ilma dengan suara pelan. Tidak seperti tadi yang bikin kesal. Seketika Aini menoleh, meski itu bukan hal yang baru ia dengar.


"Gue ikut seneng Ilma!", kata Aini. Ilma mengangguk.


"Tapi ada hal yang belum bisa bikin gue tenang."


"Mungkin gue durhaka, tapi... gue ga peduli nanti mama gimana. Yang gue yakin, mama akan jauh lebih baik setelah ngga sama Romi."


Aini tak menyahuti.


"Justru kakak gue yang gue cemaskan Ain. Gue harap, Lo beneran mau menerima kakak gue. Baru gue merasa tenang. Karena setelah ini, gue ga bisa lagi nemuin dan liat kalian lagi. Seperti sekarang! Dunia kita benar-benar akan terpisah!", kata Ilma.


"Kalo Ibas?", tanya Aini.


"Dia akan menentukan masa depannya sendiri. Ibas bukan anak kemarin sore yang makan saja harus di suapi!", kata Ilma. Tapi setelah itu ia menatap Aini dengan mata menghunus bak pedang.


"Kenapa Lo peduli banget sama Ibas? Masih ada rasa sama cowok yang udah hampir bikin lecehin Lo?", tanya Ilma melotot. Aini menggeleng.


"Ngga gitu Ilma, gue cuma kasian aja sama dia. Udah, gitu doang!"

__ADS_1


"Gue beneran bakal pergi habis Lo nikah sama kakak gue."


"Ilma, gue...gue belum yakin sama perasaan gue!", kata Aini.


"Dah lah, pikir aja dulu. Tapi gue harap, keputusan Lo sama kaya yang gue harapkan!"


Ilma menghilang begitu saja. Hantu cantik itu pergi begitu saja meninggalkan Aini yang masih dalam keadaan bingung. Aini menoleh ke arah Nita yang ternyata sudah memejamkan matanya.


Sepi! Itu yang Aini rasakan saat ini. Gadis itu pun merebahkan diri dan mulia merangkai mimpi.


Dan saat mimpi buruk itu kembali hadir, Aini seolah tak bisa lagi keluar dari mimpi buruk itu.


Dalam mimpi Aini....


"Aku sudah memberi penawaran untuk mu gadis cantik, bahkan istri-istri ku yang langsung datang menemui mu!", kata sesosok jin yang terlihat tampan. Hanya cuping telinga nya yang nampak berbeda dengan manusia pada umumnya.


"Kalau kamu sudah merasa memiliki istri, untuk apa kamu memberi ku penawaran seperti itu? Aku manusia! Sedang kamu???!"


"Aku bisa menjadikan mu ratu di kerajaan ku!"


"Maaf, aku tidak Sudi!", sahut Aini lantang.


"Itu artinya...kamu ingin menetap di sini!", sahut makhluk itu.


******


🙏


10.06

__ADS_1


__ADS_2