Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 34


__ADS_3

Ruby dan Ikbal sudah kembali ke rumah masing-masing. Tinggallah Nita dan Aini di kamar mereka.


"Udah takziah ke samping belum?", tanya Nita pada Aini.


"Belum, kan nunggu Lo, Nit!", jawab Aini.


"Ngga nyangka ya, kasian si bapak!", kata Nita mendesah pelan. Dia juga sudah mendengar soal anaknya Bu kost yang di bawa polisi. Juga hubungan tak lazim antara anak dan ibu kost. Yang lebih membuat miris, bapak kost meninggal kecelakaan di hari yang sama.


"Udah jalannya seperti itu Nit!", kata Aini.


"Ya udah, gue ganti baju dulu bentar. Mandinya abis melayat aja. Nanggung!", kata Nita. Aini pun mengangguk setuju.


Setelah dirasa siap, kedua gadis cantik itu pun keluar dari area kost menuju ke rumah induk pemilik kost yang ada di sebelah bangunan.


Suasana pelayat cukup ramai. Terlihat bagaimana baiknya almarhum selama ini dengan para tetangga.


Aini dan Nita memasukan amplop berisi uang untuk santunan. Karena pelayat yang cukup banyak, Aini dan Nita memilih duduk di bangku yang ada di luar teras.


Jika Nita sibuk dengan ponselnya, Aini justru menyapu kondisi halaman rumah pemilik kost tersebut.


Matanya di kejutkan dengan sosok bapak kost yang memandang Aini dengan tatapan sendu.


Aini meneguk salivanya. Bapak kost itu tiba-tiba sudah berada di hadapannya. Nafas Aini naik turun, tapi ia berusaha untuk tenang karena ia harus terbiasa menghadapi semacam ini.


"Ada apa bapak menghampiri saya?", tanya Aini dalam hati.


Bapak kost hanya menggeleng lalu menoleh ke arah rumahnya. Di lihatnya sang istri yang terisak di depan jenazahnya.

__ADS_1


"Dia mengkhianati ku setelah lebih dari tiga puluh tahun bersama ku!", kata bapak kost masih menatap istrinya yang menangis.


Aini sendiri tak bisa menjawab apapun. Dia hanya turut memandangi kondisi ruang tamu yang ramai pelayat.


"Putra angkat kami juga sudah menyakiti hati ku!", kata almarhum lagi.


"Jadi...dia putra angkat bapak? Saya pikir putra kandung anda pak!", tanya Aini dalam hatinya. Sesekali Nita menoleh pada sahabatnya yang terkesan menatap suasana ruang tamu. Tapi Nita tak ambil pusing, mungkin sahabatnya sedang turut berdukacita saja.


Bapak kost mengangguk pelan.


"Saya tidak menyesal jika pergi dari mereka. Perasaan saya sudah terlanjur sakit!", kata si bapak. Lalu perlahan ia menjadi dari Aini.


Aini pun hanya menatap iba pada sosok bapak kost yang sebenarnya belum terlalu tua bahkan masih gagah untuk seusianya. Tapi mau bagaimana lagi? Dia sudah meninggalkan dunia dengan perasaan sakit yang mendalam. Di khianati oleh dua orang terdekatnya sendiri.


"Yuk pulang!", ajak Nita tiba-tiba. Aini sedikit terkejut tapi setelah itu ia pun mengikuti Nita kembali ke kostan.


Tak terasa jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Keduanya sibuk dengan masing-masing ponsel mereka.


"Ai, Lo sama dokter Ikbal udah jadian ya?", tanya Nita. Tapi tangannya masih aktif memainkan benda pipihnya.


"Ngga, siapa bilang?"


"Ngga ada sih, cuma kayaknya dia suka deh sama Lo!", ledek Nita sambil menyenggol bahu Aini.


"Paan sih? Gak lah! Mana mungkin gue selera nya pak dokter. Gue sadar diri, sadar posisi Nit!", sahut Aini. Tapi Aini tak menyadari jika Nita sedang merekam suara Aini.


"Ngarang! Emang Indimi? Pake istilah selera segala!", cebik Nita.

__ADS_1


Aini menghela nafas berat lalu menoleh pada sahabatnya.


"Mas Ikbal cuma anggap gue kaya adiknya doang. Ngga lebih! Gue ngga mau terlalu berharap banyak! Sakit tahu! Udah bisa move on dari Ibas aja, gue udah seneng. Ngga mau ngayal tinggi-tinggi. Jatuhnya sakit!", kata Aini.


"Ya elah, masa Lo mau bilang kalo Lo trauma gitu pacaran ?"


"Trauma sih kagak. Cuma antisipasi aja biar ngga terlalu dalam sakit hati! Udah ah, gue mau sleeping beauty! Besok pagi gue mau kerja!", kata Aini sambil menepuk bantalnya.


"Gaya Lo sleeping beauty! Ngorok mah iya!", ledek Nita.


"Eh, sorry ya! Gue terlalu anggun kalo sampai tidur ngorok!", kata Aini. Lalu ia pun merebahkan diri di kasurnya.


"Yakin Lo mau tidur? Lo belom cerita kerja di mana!!!"


"Udah, besok aja!", sahut Aini. Dia pun mulai memejamkan matanya. Aini berharap tidak ada yang mengganggu tidurnya nanti. Termasuk Ilma!


Nita yang tadi diam-diam merekam suara Aini pun usil mengirimkan rekaman itu pada Ikbal. Ya, Nita sudah bertukar nomor dengan Ikbal saat Aini kecelakaan.


Dan beruntungnya, Ikbal langsung membuka pesan dari Nita.


Apa respon Ikbal???


[Terimakasih infonya Nita!]


Hanya itu! Nita mendengus kesal. Dia pikir, Ikbal akan langsung menghubungi Aini yang sudah tidur. Tapi ternyata Ikbal hanya menyahuti datar.


'Cocok deh sama Lo, Ai!', gumam Nita sebelum ia pun tidur di bantalnya.

__ADS_1


__ADS_2