Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 58


__ADS_3

Ibas mengendarai mobil Ikbal menuju ke rumah sakit di tempat Ikbal praktek. Sesekali ia menoleh ke belakang. Ibas cukup cemas melihat kondisi Kakak tirinya yang tiba-tiba tak sadarkan diri. Padahal tadi keduanya sempat bersitegang.


Beruntung jarak rumah sakit dan kafe tak terlalu jauh. Dengan menyalakan klakson beberapa kali ia meminta satpam membukakan pintu parkir.


"Lho, mobil dokter Ikbal kan?", tanya satpam yang jaga di pintu parkir otomatis.


"Iya. Mas Ikbal pingsan, tolong cepat buka pintunya!", pinta Ibas yang langsung di bukakan karena Ikbal member parkir bulanan di rumah sakit tersebut dan sudah lama bekerja di sana.


Ibas langsung membawa mobil Ikbal berhenti di depan loby UGD. Lelaki berambut gondrong itu turun dari mobil lalu mengitarinya untuk membuka pintu bagian belakang.


"Sus! Tolong bantu!", teriak Ibas.


Perawat yang sedang berjaga pun langsung membawa brankar menuju ke mobil Ikbal.


"Dokter Ikbal?", tanya perawat yang kebetulan akan bertugas jaga dengan Ikbal malam ini.


"Cepat sus!", pinta Ibas lagi. Lalu tiga orang perawat membantu Ibas mengangkat ke brankar.


Setelah Ikbal di terima oleh perawat, Ibas kembali ke mobil untuk memarkir mobilnya lebih dulu. Barulah setelah itu ia menyusul ke depan UGD.


"Maaf, anda siapanya dokter Ikbal?", tanya perawat.


"Adiknya!", jawab Ibas singkat. Tidak perlu kan dia menjelaskan bahwa mereka adalah saudara tiri????


Perawat itu pun undur diri lalu membantu rekannya yang ada di dalam ruang tindakan. Jika hanya sekedar pingsan, mungkin Ibas tidak akan cemas. Tapi wajah Ikbal seperti membiru meski saat ia meraba, detak jantungnya masih normal.


Ibas mengusap kasar wajahnya. Apa dia begitu peduli pada Ikbal?


Tidak! Dia hanya tidak ingin di salahkan! Lelah mondar-mandir di depan ruangan UGD, ia pun akhirnya duduk.


Ponsel Ikbal yang ada di tas kecilnya berdering. Ada panggilan dari Aini!


Darah Ibas terasa mendidih. Itu artinya mereka benar-benar sudah ada hubungan, lalu bagaimana hubungannya dengan Aini???


Ibas tak mau mengangkat panggilan tersebut. Rasanya sakit hati saja jika ia menjawab panggilan Aini. Tapi ternyata ponselnya berdering terus.


[Hallo!]


Ibas menjawab panggilan Aini dengan ketus.

__ADS_1


[Ha-halo? Ibas?]


Ibas menautkan kedua alisnya mendengar Aini menyebut namanya. Apa sebegitu hafalnya Aini jika yang menjawab bukanlah suara Ikbal?


[Ain? Dari mana kamu tahu kalau aku yang menjawab panggilan mu?]


[Aku tahu. Kamu tidak perlu tahu aku tahu dari mana. Bagaimana kondisi mas Ikbal?]


Suara Aini terdengar cemas.


Ibas tersenyum masam, panggilannya saja sudah berbeda!


[Bas, bagaimana kondisi mas Ikbal?]


Ulang Aini.


[Mas? Kamu panggil dia mas? Ckkkk]


[Aku lagi ga mau bahas Bas, aku mau tahu kondisi Mas Ikbal!]


[Secemas itu ?]


[Dia masih di UGD]


[Sebenarnya apa yang terjadi?]


[Gue ngga tahu!]


Sahut Ibas ketus dan emosi. Lalu ia pun mematikan ponselnya.


Selang beberapa saat kemudian, dokter yang tadi menangani Ikbal keluar dari ruang UGD.


"Dok, gimana kondisi Ikbal?", tanya Ibas pada dokter jaga.


Belum sempat dokter itu menjawab, Ikbal justru muncul di belakangnya. Ibas sampai tak percaya di buatnya.


"Lo... baik-baik aja Bal?", tanya Ibas. Bukannya menjawab, Ikbal justru berterima kasih pada rekannya tadi.


Lalu ia menyeret Ibas menjauh dari sana. Ibas yang bingung hanya menuruti langkah Ikbal.

__ADS_1


"Lo kenapa sih tadi hah? Udah kaya orang mau mati tau ngga Lo?", tuding Ibas.


"Gue ucapin makasih Lo udah anterin gue kesini! Tapi, gue ngga apa-apa!", kata Ikbal.


"Ngga apa-apa pale Lo? Lo tadi udah pucet kaya mayat tahu ngga. Dan sekarang tiba-tiba Lo bilang ngga apa-apa? Untung gue belom telepon mama Rini!", sahut Ibas ketus.


"Gue udah bilang makasih, siniin hp gue!", Ikbal menadahkan tangannya. Dengan kecut, Ibas memberikan tas kecil Ikbal.


"Lo pulang, bawa mobil gue!", pinta Ikbal.


"Asal Lo tahu, motor gue di tinggal di kafe! Gara-gara anterin Lo!", Ibas kembali nyolot.


''Harus berapa kali gue bilang makasih sama Lo, Ibas??!!", pekik Ikbal.


Ibas mengusap wajahnya dengan kasar lalu menghentakkan kakinya meninggalkan Ikbal yang berdiri menatap lelaki berambut gondrong tersebut.


'Kalau gue cerita, apa Lo percaya Bas? Gue sebenernya ga yakin, apa Lo terlibat dengan pembunuhan Ilma?', gumam Ikbal.


Ikbal pun menuju ke ruangannya untuk membersihkan diri sebelum ia praktek.


Ibas ngoceh-ngoceh sendiri saat memasuki mobil Ikbal. Kali ini dia harus jadi anak baik yang menurut apa kata kakaknya ,meski kakak tiri.


Dia kesal lalu memukul kemudinya. Ibas merasa sedang di kerjai oleh Ikbal. Tapi masa iya Ikbal bercanda seperti itu?


Tanpa Ibas sadari, Ilma duduk di sebelahnya. Memandangi mantan kekasihnya sekaligus kakak tirinya.


Andai dia bisa menunjukkan dirinya di hadapan Ibas, ia ingin mengatakan fakta yang sebenarnya jika papanya lah yang sudah memaksa mereka untuk berpisah. Bukan sekedar berpisah memutus hubungan, tapi memutuskan kehidupan mereka berdua yang terpisah dunia yang berbeda.


"Terimakasih kak, sudah membantu kak Ikbal!", kata Ilma.


Ibas yang sedang menunduk di kemudi langsung bangun dan mencari sumber suara yang sangat ia hafal suaranya.


"Ilma???", panggil Ibas sambil celingukan mencari sumber suara tersebut tapi akhirnya ia sadar jika itu hal yang tidak mungkin.


"Gue kangen sama Lo, sampe berhalusinasi dengar suara Lo, cantik!", monolog Ibas. Setelah itu barulah ia menjalankan mobilnya menuju ke rumah orang tua Ikbal.


****


21.30

__ADS_1


Terimakasih sudah mampir baca karya receh. Kritik dan sarannya insyaallah di terima dengan baik. Mohon koreksinya ya kalo banyak yang salah. Terimakasih 🙏✌️🙏


__ADS_2