Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 97


__ADS_3

"Kemarilah! Percaya padaku, kamu akan segera keluar dari alam ini. Mereka menunggu mu!", perempuan cantik berpakaian serba emas itu mengulurkan tangannya pada Aini.


Dengan ragu, Aini akhirnya menerima uluran tangan perempuan cantik itu. Karena mendapatkan sambutan, perempuan cantik itu tersenyum.


"Bagaimana dengan raja? Aku....takut dia akan...?!"


"Tidak akan! Dia tidak akan menggangu mu lagi! Percaya lah!", katanya meyakinkan.


"Benarkah? Dia tak akan lagi membuat ku berpisah dari orang-orang terdekat ku? Tidak akan membawa ku kemari saat aku tertidur?", tanya Aini. Itu ketakutan yang wajar bukan? Mengingat, sepertinya sudah lama ia berada di tempat asing tersebut.


"Tidak!", jawabnya singkat sambil tetap tersenyum ramah. Aini berdiri berhadapan dengan perempuan tersebut.


"Maaf, anda siapa sebenarnya? Kenapa anda yakin jika Raja tidak akan kembali menawan ku?", tanya Aini.


"Raja itu putra ku, maafkan aku yang sepertinya terlambat hingga membuat mu terlalu lama di alam kami."


Aini meneguk salivanya. Itu artinya...ia berhadapan dengan sosok yang jauh lebih berkuasa di banding raja sadis itu?


"Kita berada di alam yang berbeda. Tapi ada tabir tipis yang membatasi alam kita. Kami bisa menyelinap masuk dalam dunia kalian karena zat kami berbeda dengan kalian. Tapi bukan hal mudah untuk bangsa kalian masuk ke dalam alam kami."


Aini mencoba memahami ucapan perempuan cantik itu.

__ADS_1


Lantunan ayat suci Al Quran masih terdengar di tempat asing tersebut.


"Berdoalah seperti apa yang sudah kamu yakini selama ini. Karena sebaik-baiknya penolong tentulah sang maha pencipta!", katanya lagi penuh ketenangan.


Aini sampai menautkan kedua alisnya.


"Bangsa kami pun ada yang muslim, seperti kalian. Banyak pula yang ingkar dengan Tuhan. Bangsa kita tetap lah sama, sama-sama berkewajiban menyembah-Nya!"


"Aku...bisa keluar?", tanya Aini dengan mata yang berkaca-kaca. Perempuan itu mengangguk.


"Setelah berdoa dalam hati, pejamkan matamu! Jangan buka matamu sebelum mendengar suara orang-orang terdekat mu. Mungkin ini sedikit menyakitkan tapi setelahnya kamu terbebas dari alam kami?!", lanjutnya lagi.


Dengan penuh keyakinan, Aini melafalkan doa-doa yang di katakan dalam hatinya. Tiba-tiba tubuhnya terasa panas. Ingin sekali ia mencari tahu penyebab rasa panas tersebut. Tapi ia teringat ucapan perempuan yang belum sempat ia beri ucapan terima kasih, meminta nya untuk membuka matanya saat orang terdekatnya memanggil namanya.


Lalu, bagaimana saat ia masuk? Bukankah seharusnya sama rasanya? Tapi yang Aini sadari dia tiba-tiba sudah sampai di tempat ini.


Sayup-sayup Aini mendengar namanya di panggil pelan-pelan. Gadis itu mengenal suara yang selalu memanggil namanya selama ini.


Setelah merasakan panas di tubuhnya, ada sebuah cahaya berwarna putih yang sangat menyilaukan mata hingga Aini tak mampu untuk sekedar membuka matanya.


Yang Aini tahu, tiba-tiba ia merasa terhempas begitu kuat hingga nafasnya memburu dan jantungnya berdetak kencang.

__ADS_1


"Hhhahhh!", Aini yang terbaring langsung membuka matanya. Seluruh tubuhnya berkeringat hebat.


Tapi justru setelah itu ia mendengar ucapan hamdalah bersahutan. Tak lupa genggaman tangan dari seseorang yang selama ini menunggunya tak terlepas sedikit.


"Alhamdulillah sayang, selamat datang kembali?", bisik Ikbal sambil mengusap pelipis Aini yang berkeringat.


"Nak!", ibu dan bapak Aini pun turut mendekati putrinya.


"Ibu, bapak!", kata Aini sangat lirih bahkan seolah tak bersuara hanya bibirnya yang bergerak lambat.


"Iya nak, terimakasih kamu sudah berjuang!", kata bapak. Aini mengangguk lalu menoleh pada Ikbal yang masih menggenggam tangannya.


Mata Ikbal masih meneteskan air mata haru. Dia begitu bahagia sang pujaan hatinya sudah sadar. Tapi ada hal yang membuat Ikbal bingung, tatapan Aini padanya begitu berbeda.


"Mas Ikbal?", bibir Aini bergerak menyebut namanya tapi tak terdengar suaranya.


"Iya sayang....!"


******


05.35

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2