
Aini dan Ikbal sudah sampai di kantin. Mereka sudah mencuci tangan lebih dulu sebelum duduk di bangku.
"Mau aku pesan kan apa?", tanya Ikbal pada Aini. Aini mendongak sesaat.
"Eum...perutku mual mas. Entah, aroma anyir dan desinfektan sepertinya udah bikin perut ngga nyaman. Mungkin belum terbiasa!", jawab Aini.
"Di pemandian jenazah, bau anyir?", tanya Ikbal. Aini mengangguk.
"Bukankah jenazahnya sakit yang tidak terluka maksudnya mengeluarkan darah gitu? Karena yang aku dengar dia sudah lama koma."
"Iya mungkin sisa kemarin-kemarin!", jawab Aini sekenanya.
"Mau resign? Kerja di perusahaan ku aja?", tanya Ikbal penuh perhatian. Aini menatap lekat lelaki tampan di hadapannya.
"Ngga usah mas, aku bisa kok. Mungkin kalo sudah terbiasa ngga akan kaya tadi!", jawab Aini sembari memutus tatapannya.
"Apa ada makhluk asing yang mengganggu mu di sana?", Ikbal mengangkat dagu Aini. Mata mereka saling bersirobok.
"Sorry!", kata Ikbal karena dia sudah lancang menyentuh dagu Aini. Aini tersenyum samar dan mengangguk tipis.
Kalo emang ngga ada hati, tolong jangan biarkan aku baper dengan sikap mas Ilham ya Allah! Batin Aini.
"Mereka memang ada di mana-mana kan mas. Kita memang berdampingan dengan mereka. Hanya saja ....tadi mereka seolah ingin menunjukkan diri padaku jika mereka ada. Yang sempat bikin aku kaya tadi tuh... seperti ada sesuatu yang mendekati Ahmad. Dia yang berwajah menyeramkan, berada di belakang Ahmad seolah akan menerkam Ahmad. Aku takut...!"
"Takut? Takut yang seperti apa? Kamu mencemaskan Ahmad?", tanya Ikbal dengan raut wajah sedikit...kesal.
Aini pun mengangguk.
"Tidak ada setan atau hantu yang membunuh manusia, kecuali di sinetron atau film!", sahut Ikbal.
Entah kenapa suara Ikbal seperti seseorang yang kesal. Dia bangkit dari bangkunya lalu menuju ke stand baso. Setelah memesan, ia kemudian kembali ke kursinya.
"Aku ngga tahu selera kamu Ai! Kalo kami bilang mual, aku beliin baso sama es jeruk. Semoga bisa meredakan mual mu yang mungkin bukan karena sakit!", kata Ikbal.
"Makasih mas!", jawab Aini. Ikbal pun diam di kursinya. Jika biasanya dia banyak bertanya, tidak sekarang.
__ADS_1
Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Ikbal menyerahkan semangkuk baso untuk Aini dan untuk nya mie ayam.
Keduanya makan dalam keheningan. Tak ada ocehan seperti biasanya. Hingga selesai makan, Ikbal seolah ingin segera pergi dari meja itu.
"Mas!", Aini menahan tangan Ikbal yang otomatis membuat Ikbal berhenti.
"Satu jam lagi aku ada operasi!", jawab Ikbal datar.
"Aku yang traktir kamu! Jadi jangan pikir ini hutang piutang."
Ikbal melangkah lagi.
"Mas Ikbal marah sama aku? Kenapa?", tanya Aini. Ikbal tidak menjawab.
"Apa karena aku tadi mencemaskan Ahmad?", tanya Aini. Ikbal berusaha untuk tetap cool di hadapan Aini. Sayangnya dia tak bisa.
"Untuk apa aku marah, itu hak kamu kok!", kata Ikbal.
Sedikit kecewa...tapi ya sudahlah, Aini paham jika Ikbal memang tak menganggapnya lebih dari seorang adik seperti Ilma.
Perlahan Ikbal mendekati belakang Aini. Terdengar samar-samar gerutuan gadis tersebut.
"Kenapa sih marah-marah! Pacar bukan Abang bukan! Tapi kenapa juga bikin baper!", kata Aini lirih tapi masih cukup Ikbal dengar dengan baik.
"Ehem?", deheman Ikbal membuat Aini menoleh. Dan saat ia menoleh, matanya langsung tertuju pada perut rata Ikbal yang mengenakan kemeja press body.
Aini mengerjapkan matanya lalu mendongakkan kepalanya.
"Astaghfirullahaladzim?", Aini terkejut.
"Kenapa ngomel sendiri?", tanya Ikbal. Aini spontan menggeleng.
Ikbal berlutut di hadapan Aini. Dia menunjukkan senyum manisnya tidak seperti tadi yang masam.
"Belum cukup ya sikap yang aku tunjukkan pada mu untuk mewakili perasaan ku?", tanya Ikbal pada Aini. Aini mengerjapkan matanya.
__ADS_1
"Maksud nya?", tanya Aini.
"Kamu berpikir kalau aku menganggap mu seperti posisi Ilma?", tanya Ikbal. Aini diam seribu basa.
"Sekarang, mau kamu gimana? Mau aku ungkapkan perasaan ku di depan mereka semua?", tantang Ikbal.
Mulut Aini menganga lebar tak percaya.
.
.
.
Ahmad kembali ke rekannya. Mereka bersiap untuk melakukan sholat jenazah. Ketiganya tampak khusuk mendoakan almarhum.
Jika tadi Aini melihat sosok yang seolah ingin mencelakai Ahmad, tak berbeda dengan diri Ahmad sendiri.
Ahmad merasakan hawa yang dingin seolah sedang menyapa nya. Siapa yang menyapa?
Meski Ahmad tak memiliki kemampuan seperti Aini, tapi feelingnya cukup kuat selama lebih dari tiga tahun mengabdi di tempat ini.
Saat ketiganya selesai mengucap salam, tiba-tiba mata Ahmad menangkap sosok laki-laki yang berwajah pucat tak jauh dari almarhum yang sedang di sholati.
Dan....sosok itu lah yang sedang di sholati oleh mereka bertiga. Ahmad mencoba menahan diri. Baru saja ia merasa jika ia ia beruntung di banding Aini. Tapi sekarang???
Lelaki itu menatap Ahmad dengan pandangan sayunya.
Aap aku pura-pura tak melihatnya saja???? Batin Ahmad.
*****
21.34
Terimakasih
__ADS_1